Press "Enter" to skip to content
Image by Alexas_Fotos from Pixabay

Stok Monyet Terbatas, Penelitian Vaksin COVID-19 Terancam

Dunia sedang berkejaran dengan virus corona penyebab COVID-19 yang terus meluas. Upaya pembuatan vaksin dilakukan oleh berbagai negara, termasuk Amerika Serikat. Namun, negeri ini punya persoalan besar. Vaksin biasanya diujikan ke monyet sebelum diujicobakan kepada manusia. Masalahnya, populasi monyet takkan mencukupi kebutuhan.

Seperti dilaporkan oleh The Atlantic, sebelum pandemi terjadi, populasi monyet di Amerika Serikat sudah menurun. Menurut laporan National Institutes of Health (NIH) pada 2018, negeri itu membutuhkan semacam “cagar monyet” untuk memenuhi kebutuhan di masa depan, khususnya jika terjadi wabah penyakit yang tak terduga. Namun, sampai sekarang hal itu belum diwujudkan.

Baca Juga: Mengenal Kunang-Kunang yang Bisa Mengeluarkan Cahaya

Ketika COVID-19 merebak sejak akhir 2019, kebutuhan akan monyet di seluruh dunia pun meroket. Di Amerika Serikat, tiga dari lima monyet riset didatangkan dari China pada 2019. Pada Januari sampai Februari 2020 lalu, China telah menetapkan larangan ketat untuk mengekspor binatang liar. Peneliti lokal pun harus memenuhi proses perizinan dari pemerintah jika ingin menggunakan monyet.

Menurut The Globe and Mail, belum ada izin yang diberikan untuk peneliti luar negeri. Artinya, ekspor monyet untuk kebutuhan riset ke luar negeri tampaknya sudah dibekukan.

NIH sendiri menjalankan tujuh pusat primata di seluruh AS dan lembaga itu kini yang menentukan siapa yang bisa mengakses monyet mereka melalui inisiatif yang disebut Accelerating COVID-19 Therapeutic Interventions and Vaccines (ACTIV). Pembatasan pada monyet ini juga menyulitkan penelitian di luar penelitian mengenai vaksin COVID-19.

Baca Juga: Mau Berkemah Sambil Melihat Rusa? Harus Coba Tempat Ini

Studi vaksin COVID-19 terhadap primata seperti monyet sangat penting untuk menguji keamanan dan efektivitas vaksin tanpa menimbulkan risiko pada manusia. Sederhananya, manusia dan monyet memiliki sistem imun yang sama, sehingga vaksin virus corona yang efektif seharusnya punya efek yang sama pada monyet dan manusia.

Studi pada monyet juga memungkinkan penelitian berdasarkan kelompok umur. Seperti bayi atau balita misalnya, yang tak akan mungkin diikutkan pada uji coba vaksin pada manusia.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Mission News Theme by Compete Themes.
%d blogger menyukai ini: