Press "Enter" to skip to content
Ilustrasi naskah/teks kuno (dok. congerdesign/Pixabay)

Beberapa Kitab Aprokrifa Baru Diterjemahkan, Ini 3 yang Kisahnya Menarik

Alkitab terdiri dari buku-buku yang sudah melewati proses kanonisasi. Nah, di luar itu sebetulnya ada banyak naskah Kristen yang tak bisa dimasukkan sebagai bagian dari Alkitab dan disebut dengan istilah apokrifa. Baru-baru ini ilmuwan mengabarkan bahwa mereka sudah menerjemahkan beberapa teks aprokrifa tersebut dan kisah di dalamnya menarik juga, walau kebenarannya tak bisa dipastikan.

Dilansir dari Live Science, ada lebih dari 300 teks aprokrifa. Menurut Tony Burke, seorang profesor di York University di Toronto, Kanada, dalam bukunya “New Testament Apocrypha More Noncanonical Scriptures (Volume 2)” (Eerdmans, 2020), apokrifa adalah teks yang integral dalam kehidupan spiritual orang Kristen. 

Nah, beberapa aprokrifa yang baru diterjemahkan memiliki kisah yang unik bin menarik. Apa saja?

Pertempuran melawan penyihir

Salah satu teks yang diterjemahkan berkisah tentang pertarungan melawan penyihir di kota kuno Filipi di Yunani. Teks itu menyebutkan telah terjadi pertarungan melawan penyihir yang hendak menghancurkan gereja kuno yang dibangun khusus untuk menghormati Bunda Maria Perawan di Filipi. Teks ini tertulis dalam bahasa Koptik, bahasa Mesir yang menggunakan alfabet Yunani dan diperkirakan ditulis pada 1500 tahun lalu. Begitu kata Paul Dilley, profesor di University of Iowa, yang menerjemahkan teks itu. Cerita ini diungkapkan dalam dua teks yang berasal dari Monastery of Saint Macarius the Great di Mesir. Pada saat itu, mayoritas populasi di sekitar Mediterania menjadi Kristen, walaupun beberapa masih mengikuti agama lama yang politeistik.

Dalam teks juga disebutkan soal kedatangan Bunda Maria yang menemui Uskup Basil (Hidup pada tahun 329-379M) dalam mimpi dan mengatakan bahwa dia sedang mencari gambar dirinya yang bukan merupakan hasil karya tangan manusia. Bunda Maria juga mengarahkan Uskup untuk menempatkan gambarnya di tempat kudus di gerejanya, di atas dua kolom,

“Ada kecenderungan untuk mengidentifikasi sisa-sisa politeisme dengan ‘magoi’ atau ‘penyihir’ yang membahayakan komunitas Kristen, terkadang secara terbuka, terkadang secara sembunyi-sembunyi,” kata Dilley kepada Live Science.

“Kedua kolom ini telah diatur sejak zaman para raksasa. Gambar setan telah menutupi mereka. Tidak mungkin bagi siapa pun untuk menurunkannya kecuali atas perintah putra saya yang tercinta [Yesus],” kata Perawan Maria dalam teks tersebut.

Nah, saat Uskup Basil dan kelompoknya pergi ke kuil tersebut, mereka bertarung dengan sekelompok penyihir yang punya ilmu hitam. Saat jeda pada malam hari, Bunda Maria kembali mendatangi Uskup dalam mimpi dan menyatakan bahwa mereka akan menang. Keesokan harinya, pertarungan berlanjut, dan mereka memang menang. Para penyihir lenyap ditelan tanah yang terbuka dan mengisap mereka semua. Usai pertempuran, Uskup Basil menemukan gambar wajah Bunda Maria sudah terlukis di kolom.

Teks apokrifa ini berada di Vatican Apostolic Library dan di Leipzig University Library.

Prajurit yang Membantu Yesus

Teks aprokrifa yang baru diterjemahkan adalah teks yang menceritakan seorang penjahat bernama Dimas (atau Dymas/Dismas) yang disalibkan di sebelah Yesus. Teks itu mengklaim bahwa Dimas tadinya bekerja sebagai prajurit pengawal perbatasan dan disalibkan karena membantu Yesus dan keluarganya saat mereka melarikan diri ke Mesir. (Kisah pelarian ke Mesir ini terjadi ketika Herodes mengumumkan pembunuhan anak-anak untuk melenyapkan bayi Yesus).

Teks aprokrifa ini ditulis dalam bahasa Latin dan berasal dari abad ke-12 atau 13 Masehi, kata Mark Bilby, seorang pustakawan di California State University, Fullerton, yang menerjemahkan teks itu. Bilby mengatakan bawha pada Abad Pertengahan ada sejumlah teks yang diklaim merupakan kisah penjahat yang disalibkan bersama Yesus. “Saya rasa cerita ini benar-benar fiksi, sebagai legenda yang dibangun di atas setidaknya 10 legenda yang berbeda sebelumnya,” kata Bilby kepada Live Science.

Dalam teks dikisahkan Dimas membantu pelarian keluarga Yesus ke Mesir. Dimas membiarkan mereka melintasi perbatasan dan bahkan memberi keluarga itu makanan. Saat ayah Dimas mengetahuinya, ia geram. Herodes kemudian memanggil Dimas, yang mengaku tentang keluarga yang diizinkan melarikan diri. Dimas tidak diakui oleh ayahnya dan dia akhirnya menjadi penjahat. 30 tahun kemudian dia ditangkap saat Pontius Pilatus menjadi gubernur di Yudea dan disalibkan di sebelah Yesus. Dia kemudian mengaku dosa dan diampuni oleh Yesus.

Teks ini tersimpan di perpustakaan Grand Séminaire di Namur, Belgia

Memerangkap Iblis

Teks lain yang baru diterjemahkan dari bahasa Yunani adalah teks yang menceritakan tentang Rasul Petrus yang memerangkap tujuh iblis yang menyamar sebagai malaikat di Kota Azotus (disebut juga Ashdod di Israel sekarang).

Meskipun berasal dari abad ke-11 atau ke-12, cerita tersebut kemungkinan besar aslinya ditulis berabad-abad sebelumnya, mungkin sekitar 1.600 tahun yang lalu. “Narasinya menampilkan konteks spekulasi abad keempat dan kelima tentang dosa, tetapi bentuknya yang longgar dan kurangnya pengaturan tampaknya mewakili fase awal dalam perkembangan itu,” tulis Cambry Pardee, seorang profesor tamu di Pepperdine University, London.

Penulis teks itu, menurut Pardee, sedang menulis karya fiksi yang mengagungkan pahlawan Kristen yang hebat, Petrus. Meski peristiwa-peristiwa tersebut bersifat fiksi, Pardee berpendapat bahwa pada masa lalu sangat mungkin banyak orang Kristen yang memercayai legenda ini, baik sebagai tulisan atau dalam bentuk lisan, sebagai cerita yang hilang dari kehidupan Petrus.

Di dalam teks disebutkan Petrus, yang mencurigai para “malaikat”, membuat lingkaran di sekeliling mereka dan menyatakan: “Tuhanku Yesus Kristus, biarlah kemuliaanMu dinyatakan melalui Roh Kudus. Apakah mereka ini, seperti yang mereka katakan, adalah malaikatMu atau roh yang membenci apa yang baik? ‘”(terjemahan oleh Cambry Pardee)

Enam iblis kemudian mengaku bahwa mereka adalah roh penipuan, amoralitas seksual, kepalsuan, perzinahan, keserakahan dan fitnah. Setan ketujuh menantang Petrus dan bertanya mengapa setan diperlakukan begitu buruk dibandingkan dengan manusia. Dia mengatakan bahwa dosa manusia diampuni oleh Kristus tetapi dosa iblis tidak. “Engkau memiliki keberpihakan terhadap Kristus; untuk alasan itu dia menghukum kita, tetapi Dia mengampuni engkau ketika engkau bertobat. Oleh karena itu ketika dia memimpin pelacur dan pemungut pajak dan penyangkal dan penghujat dan fitnah ke dalam kerajaan-Nya, maka Dia juga harus mengikutkan kami semua bersama kalian!”

Iblis itu juga mencatat bahwa manusia harus berhenti menyalahkan iblis atas kesalahan mereka. “Aku, iblis, bukanlah pengganggu mereka, tetapi mereka sendiri yang jatuh. Karena aku telah menjadi lemah dan tanpa kekuatan. Oleh karena itu, aku tidak lagi memiliki tempat atau anak panah, karena di mana-mana orang telah menjadi Kristen. Oleh karena itu biarlah mereka menjaga diri mereka sendiri dan tidak menyalahkan,” kata iblis itu. Peter kemudian melepaskan iblis-iblis itu.

Satu-satunya teks ini berada di perpustakaan Biblioteca Angelica di Roma.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mission News Theme by Compete Themes.
%d blogger menyukai ini: