Press "Enter" to skip to content
Bulu babi (dok. Julian Hacker/Pixabay)

Bulu Babi, Bukan Bulu apalagi Babi

Namanya memang unik, bulu babi. Tapi jelas, hewan ini bukan bulu, apalagi babi. Warnanya yang hitam dengan semacam bulu yang tebal (seperti bulu di kulit babi) mungkin membuatnya mendapat nama tersebut. Tapi ini adalah spesies hewan laut tersendiri, yang banyak ditemukan di ekosistem padang lamun dan terumbu karang di laut. Yuk kita kenali lebih dekat hewan ini.

Berdasarkan penelitian Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Negeri Gorontalo, diketahui bahwa bulu babi alias echinoidea berasal dari filum echinodermata dan salah satu spesies yang paling luas persebarannya di Indonesia adalah Diadema setosum. Terdapat dua sub kelas yaitu perischoechinoidea (tidak beraturan) dan euechionoidea (beraturan).

Hewan ini ada hampir di seluruh zona terumbu karang dan padang lamun. Ia memiliki umur antara 7-15 tahun. Bahkan, kabarnya ada yang usianya sampai 200 tahun. Wow!

Bulu babi memiliki lima simetris di bagian dalam tubuhnya dan dilindungi oleh cangkang yang keras. Tubuhnya ditutupi duri yang beracun. Walau kelihatannya keras, sesungguhnya duri-durinya itu sangat rapuh. Duri ini berfungsi untuk melindungi diri dan berpindah tempat, mengambil makanan. Ada juga beberapa jenis echinoidea yang mempunyai cairan pigmen hitam pada cangkangnya.

Bagian tubuh bulu babi terdiri dari oral, aboral dan bagian antara oral dan aboral.

Hewan yang satu ini adalah salah satu pemakan alga dan hidup dominan di suatu perairan. Oleh karena itu bulu babi sering digunakan sebagai bioindikator suatu perairan. Kalau populasinya sedikit, tidak akan berdampak baik terhadap lingkungan sekitarnya. Dia juga termasuk penentu kelimpahan dan pola penyebaran tumbuhan air karena mempunyai agregasi yang padat dan dia juga penyebab musnahnya alga dan lamun di daerah sub dan tropis.

Jika alga dibiarkan tumbuh terus menerus dan tidak ada penghambatnya, lama-kelamaan alga akan menutupi masuk dan tembusnya cahaya ke karang. Dampaknya adalah matinya karang tersebut. Tapi kalau berlebihan, tidak baik juga. Sebab bulu babi juga memakan polip yang menyebabkan karang menjadi bleaching dan lama kelamaan mati.

Apa saja yang mempengaruhi populasi bulu babi? Faktor lingkungan seperti suhu, kedalaman, dan salinitas. Faktor lain adalah keberadaan predator. Biasanya bulu babi akan bersembunyi di tubir di bawah karang agar terhindar dari predator dan pasang surut air laut.

Hewan ini termasuk herbivora alias pemakan tumbuhan. Dia memakan alga. Tapi dia juga bisa disebut sebagai pemakan segalanya (omnivora) karena dia juga bisa memakan sampah organisme-organisme. Bersifat nocturnal (aktif pada malam hari), bulu babi memiliki pigmen hitam dan duri yang beracun. Namun bulu babi sangat digemari di berbagai negara karena kandungan dan rasa dalam telurnya yang enak.

Oleh karena itu, telur bulu babi mempunyai nilai yang sangat tinggi sebagai salah satu produk perikanan. Telur bulu babi memiliki kandungan gizi yang tinggi, salah satunya kadar proteinnya sebanding dengan protein yang terdapat pada daging kerang-kerangan. Telur bulu babi bisa dimakan secara langsung atau pun diolah dulu. Agar kandungan gizinya awet, biasanya telur bulu babi akan diawetkan menggunakan garam atau alkohol, kemudian sebelum dikonsumsi biasanya telur-telur itu disimpan kurang lebih satu bulan dalam tempat pengawetan.

Selain dimakan, bulu babi ternyata juga bisa dijadikan sebagai bahan obat-obatan. Bahan aktif peditoxin yang terdapat pada bulu babi dapat dimanfaatkan dalam bidang farmasi.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Mission News Theme by Compete Themes.
%d blogger menyukai ini: