Press "Enter" to skip to content
Danau di komplek Universitas Indonesia, Depok (Dok. ui.ac.id)

Berkurangnya Kebun Karet Ganggu Populasi Burung di Universitas Indonesia

Bagi yang kuliah di Universitas Indonesia di era 1990-an pasti ingat ada areal persawahan di jantung area UI, yang kini sudah berubah menjadi danau, dan area kebun karet yang tersebar di banyak titik kampus itu. Persawahan dan perkebunan karet ini sempat membuat kawasan UI sebagai habibat bagi banyak spesies burung dengan tingkat keanekaragaman yang tinggi.

Jumlah spesies burung di UI berfluktuasi selama kurun waktu 1989-2014. Pada studi tahun 2014, ditemukan ada 26 spesies burung di perkebunan karet di UI. Sayangnya makin ke sini, populasi burung ini terganggu.

Pembangunan infrastruktur yang intensif di lingkungan UI selama beberapa tahun terakhir telah berdampak pula pada pengurangan habitat dan populasi burung. Selain sawah, habitat burung yang juga berkurang cukup drastis adalah kebun karet.

Sebuah studi Fakultas Biologi UI yang diterbitkan Proceedings of the 5th International Symposium on Current Progress in Mathematics and Sciences secara online pada Juni 2020 lalu, mendapati bahwa berkurangnya area perkebunan karet akibat pembangunan gedung dan jalanan baru telah menyebabkan penurunan keanekaragaman spesies burung di kawasan kampus ini.

Penelitian yang dilakukan pada 2016 itu mendapati ada total 16 spesies burung dari 12 familia yang berada di seluruh kebun karet yang tersisa di UI. Total ada 641 individu burung, dari tekukur (Streptopelia chinensis) sampai burung pengicau cipoh kacat (Aegthina tiphia) dan walet linchi (Collocalia linchi).

Burung yang paling banyak (160 individu) adalah Collocalia linchi. Walet ini adalah bagian dari familia Apodidae yang memiliki kaki kecil yang kurang kuat untuk hinggap di dahan pohon, sehingga mereka mencari makan sambil terbang.

Burung lain adalah Dicaeum trochileum (burung cabai jawa atau Scarlet-headed flowerpecker). Dibandingkan dengan spesies burung lainnya, D. trochileum adalah satu-satunya spesies yang menunjukkan populasi yang stabil. “Ini terkait dengan melimpahnya sumber makanan, seperti buah mistletoe, di perkebunan karet,” tutur penulis studi itu.

D. trochileum selaku frugivora memiliki peran ekologis penting sebagai penyebar benih yang penting bagi lingkungan.

Tak semua jenis burung ditemukan di semua titik sampling. Contohnya adalah burung madu kelapa (Anthreptes malacensis) yang hanya ditemukan di area kebun karet yang padat dan luas. Sebab area ini memberikan sumber makanan yang melimpah bagi burung ini. Populasi burung ini juga cenderung menurun seiring berkurangnya luas area perkebunan karet yang diubah menjadi lokasi pembangunan gedung baru.

Berikut ini adalah daftar 16 spesies burung yang bisa ditemukan di kebun karet di UI:
1. Streptopelia chinensis (Tekukur)
2. Cacomantis merulinus (wikwik kelabu atau ada juga yang menyebutnya kedasih atau daradasih)
3. Collocalia linchi (walet linchi)
4. Hirundo sp. (layang-layang asia atau layang-layang batu)
5. Precrocotus cinnamomeus (Sepah kecil atau Small minivet)
6. Aegthina tiphia (Cipoh kacat)
7. Pycnonotus aurigaster (ketilang)
8. Pycnonotus goaivier (Merbah cerukcuk)
9. Orthotomus ruficeps (Cinenen Kelabu)
10. Orthotomus sutorius (Cinenen pisang)
11. Anthreptes malacensis (Burung madu kelapa)
12. Nectarinia jugularis (Burung madu sriganti)
13. Dicaeum trochileum (burung cabai jawa atau Scarlet-headed flowerpecker)
14. Zosterops palpebrosus (burung kacamata biasa)
15. Lonchura punctulata (bondol peking)
16. Passer montanus (burung gereja)

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: