Press "Enter" to skip to content
Bintang Betlehem dan Orang Majus (dok Gerd Altmann/Pixabay)

Tentang Bintang Betlehem, yang Memandu orang Majus Menemukan Bayi Yesus

Tiga orang Majus atau orang Bijak, mencari bayi Yesus ke Yerusalem dengan mengikuti bintang. Mereka akhirnya menemukan bayi Yesus di Betlehem. Apakah peristiwa yang ditulis di Alkitab ini tercatat dalam sejarah? Kalau tercatat, bintang apakah gerangan yang ‘memandu’ orang Majus ke Yerusalem?

Pertanyaan ini menarik kalangan ilmuwan sejak lama. Sejumlah teori dari berbagai bidang ilmu sudah dikeluarkan, mulai dari teori astronomi sampai astrologi. Tapi berkat metodologi astronomi modern, akhirnya dunia ilmu pengetahuan makin dekat kepada jawabannya.

Bintang itu sejak lama dijuluki “Bintang Betlehem”. David Weintraub, seorang profesor fisika dan astronomi di Vanderbilt University di Tennessee mengatakan, bila apa yang ditulis di Perjanjian Baru adalah peristiwa sejarah, maka peristiwa bersejarah ini membutuhkan penjelasan. “Sebagai astronom, maka Anda ingin penjelasan astronomi,” ujarnya, seperti dilansir Live Science.

Yang jelas, Bintang Betlehem bukanlah komet apalagi supernova. Komet Halley diketahui sudah terlihat di angkasa sejak tahun 11 SM. Tapi kalau orang Majus berjalan menuju Yerusalem dan kemudian ke Betlehem, mereka tak mungkin mengikuti komet karena posisinya pasti akan berubah sesuai rotasi Bumi. Jadi, komet tidak akan membawa mereka ke satu tujuan. Lagipula, pada masa lalu, komet dipandang sebagai pertanda buruk.

Supernova juga bisa dikesampingkan. Sebab ilmuwan belum menemukan jejak supernova yang berasal dari masa itu.

Teori lain mengatakan supernova di galaksi Andromeda, seperti yang dijelaskan dalam studi tahun 2005 yang diterbitkan dalam jurnal The Observatory. Memang mungkin sih melihat galaksi dengan mata telanjang. Tapi tidak mungkin melihat bintang menjadi supernova dan meledak di dalamnya, bahkan dengan bantuan teleskop. Jadi, kesampingkan juga teori ini.

Lalu apa dong? Ada dua kemungkinan. Pertama, para Majus menafsirkan atau menginterpretasikan apa yang terlihat di langit. Fakta bahwa mereka bertanya kepada Herodes saat tiba di Yerusalem berarti bahwa mereka tidak dipandu ke destinasi akhir oleh satu objek terang di langit.

Astrologi banyak digunakan pada waktu itu dan orang Majus datang dari Babilonia. Dapat diduga mereka adalah ahli astrologi. Mereka mengamati tanda-tanda dan arti tertentu di langit, seperti posisi planet dan bintang, dan sebagainya. Misalnya, penampakan planet Yupiter bisa jadi sangat penting di sini, karena astrologi menghubungkan planet Yupiter dengan kerajaan, sehingga bulan melewatinya di konstelasi Aries pada 17 April 6 SM, bisa jadi tanda kelahiran Kristus.

Dan yang kedua, bisa jadi bintang itu adalah sebuah konjungsi. Ini penjelasan astronomis, bahwa memang ada benda terang di langit dan itu adalah konjungsi antara planet dan bintang. Konjungsi terjadi ketika dua atau lebih benda langit tampak bertemu di langit malam dari lokasi kita di Bumi. Konjungsi ini dapat terlihat di lokasi serupa selama berhari-hari atau berminggu-minggu. Jika orang Majus mengikuti momen konjungsi ini, mungkin saja mereka akan dituntun ke arah tertentu.

Salah satu pendukung teori konjungsi ini adalah astronom Michael Molnar dalam bukunya “The Star of Bethlehem” (Rutgers University Press, 1999). Jika “bintang” adalah hasil dari suatu konjungsi (dan peristiwa bersejarah ini benar-benar terjadi), maka ada sejumlah peristiwa yang mungkin menjadi penyebabnya. Salah satunya adalah konjugsi antara Jupiter, Saturnus, bulan dan matahari di konstelasi Aries pada tanggal 17 April 6 SM.

Hubungan ini cocok dengan cerita orang Majus karena beberapa alasan. Pertama, konjungsi ini terjadi pada dini hari, yang sejalan dengan deskripsi Injil tentang Bintang Betlehem sebagai bintang pagi yang sedang terbit. Orang Majus juga kehilangan pandangan bintang itu, sebelum melihatnya berhenti di tempat bayi Yesus terbaring di kandang. Ini bisa jadi hasil dari gerakan mundur Jupiter, yang berarti bahwa Jupiter tampak berubah arah di langit malam saat orbit Bumi menyusulnya.

“Biasanya, planet bergerak ke timur jika Anda mengikutinya di langit,” kata Mathews. “Tapi ketika mereka melalui gerakan retrograde, mereka berbalik dan pergi ke arah bintang-bintang terbit dan terbenam pada malam hari [ke barat].”

Dua konjungsi lain pada waktu yang sama juga terlihat menjanjikan. Salah satunya adalah konjungsi Yupiter, Venus, dan bintang Regulus di konstelasi Leo pada tanggal 17 Juni 2 SM. Tanpa bantuan teleskop, kedua planet tersebut akan tampak sebagai “bintang” tunggal, lebih terang daripada Venus dan Jupiter secara individual.

Konjungsi lain terjadi pada 6 SM, antara Jupiter, Saturnus, dan Mars di konstelasi Pisces. Tetapi tidak satu pun dari dua konjungsi terakhir ini yang cocok dengan deskripsi dalam Perjanjian Baru sedekat konjungsi yang terjadi pada 17 April 6 SM.

Walaupun ada penjelasan yang semakin masuk akal, kita sebetulnya tak benar-benar tahu akan apa yang sebenarnya terjadi pada waktu itu. Bintang apa sesungguhnya yang memandu orang Majus ke tempat bayi Yesus diletakkan. “Dalam sains, tidak ada yang betul-betul selesai,” kata Mathews. “Kita tidak benar-benar tahu, apakah bintang Betlehem adalah konjungsi, peristiwa astrologis, atau fabel kekristenan. Mungkin saja itu sebuah mujizat.”

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: