Press "Enter" to skip to content
Ilustrasi: TheDigitalArtist/Pixabay

Lima Trend Teknologi untuk Perusahaan di 2021

Pandemi COVID-19 telah mengguncang bahkan meluluhlantakkan dunia bisnis di Asia Pasifik, termasuk di Indonesia. Perusahaan-perusahaan di kawasan ini makin menyadari bahwa mereka harus bertransformasi secara lebih cepat untuk mengatasi dampak pandemi ini. Karena itu mereka perlu memperhatikan lima trend yang bakal muncul pada 2021 dan tahun-tahun mendatang, seperti diprediksikan oleh Red Hat, baru-baru ini:

5G, IoT, Edge computing: Trio konektivitas pintar
Penetrasi 5G di Asia Pasifik akan terus bergerak maju. Layanan 5G komersial sudah tersedia di sembilan negara di kawasan ini – termasuk Korea Selatan, Jepang, dan China – 12 negara lainnya secara resmi mengumumkan rencana serupa. Penyebarluasan 5G akan mendorong pengadopsian Internet of Things (IoT) dan edge computing untuk menghadirkan konektivitas dengan latensi yang sangat rendah, jaringan dengan bandwidth tinggi, dan secara efektif mendukung pendistribusian endpoint dalam skala besar.

Teknologi 5G, IoT, dan edge computing dapat diterapkan pada pengelolaan smart fleet (kendaraan pintar), di mana perangkat edge dapat memonitor sistem kendaraan yang penting dan melalui jaringan 5G dapat mengirim peringatan, melacak arus barang, merencanakan rute, dan memfasilitasi komunikasi antara kendaraan dan entitas berteknologi IoT yang dapat memengaruhi atau terpengaruh oleh kendaraan tersebut.

Diperkirakan akan lebih banyak organisasi/perusahaan serta kota di Asia Pasifik yang mengadopsi 5G, IoT, dan edge computing pada tahun 2021 agar semakin terkoneksi dan efisien. Peningkatan penggunaan ketiga teknologi ini juga ikut meningkatkan analisis data sensor untuk melakukan maintenance yang prediktif dan kontrol kualitas, sistem augmented reality untuk pengoperasian dari jarak jauh, dan ‘connected experiences‘ yang dipersonalisasi untuk meningkatkan keterikatan pelanggan dan pemasok.

Keamanan Semakin Diprioritaskan di Hybrid Cloud
Konsumen dan karyawan saat ini sama-sama berharap bahwa aplikasi dan layanan bisnis harus selalu tersedia dengan baik, on-demand, dan aman. Untuk mencapainya, perusahaan direkomendasikan menggunakan hybrid cloud agar dapat menjalankan beban kerja atau workload di semua lingkungan (seperti di on-premise, private atau public cloud) dengan lebih mudah dan cepat.

Global Tech Outlook 2021 dari Red Hat mendapati bahwa 77 persen organisasi/perusahaan di Asia Pasifik berencana memakai lebih dari satu platform cloud, misalnya private dan public cloud, dalam tempo 12 bulan ke depan, naik dari 53 persen pada 2020. Menurut hasil survei itu, tiga alasan teratas perusahaan menjalankan aplikasi mereka di hybrid cloud adalah: meningkatkan keamanan data, meraih agilitas IT, dan mengatasi masalah kerahasiaan data.

Perusahaan akan tetap memfokuskan masalah keamanan seiring kemajuan perjalanan hybrid cloud mereka. Hampir setengah dari organisasi yang disurvei secara global mengatakan bahwa keamanan cloud menjadi prioritas utama pembiayaan mereka pada tahun depan. Tantangannya adalah keamanan ini memiliki beberapa elemen yang berbeda, seperti perangkat, jaringan, dan keamanan data.

Salah satu cara untuk mengatasinya adalah dengan mengadopsi framework automasi open security yang memadukan praktik keamanan yang berbeda-beda menggunakan satu set workflow otomatis. Dengan cara itu, organisasi/perusahaan dapat meraih visibilitas yang lebih besar pada seluruh fungsi keamanan, memungkinkan mereka mengidentifikasi ancaman atau memulihkan cyberattack dengan lebih cepat.

Cloud-native akan Mendorong Pengadopsian Container
Aplikasi-aplikasi yang didesain untuk cloud atau cloud-native dapat merespons suatu perubahan dengan cepat, beradaptasi, dan berkembang. Perilisan fitur-fitur dan fungsi baru menjadi lebih cepat, andal, dan sering, dengan risiko yang lebih kecil. Karena semakin banyak organisasi/perusahaan yang mengadopsi hybrid cloud untuk meningkatkan skalabilitas dan ketersediaan aplikasi, mereka yang juga memakai pengembangan cloud-native akan semakin mantap dalam membangun dan menjalankan aplikasi yang responsif, scalable, dan fault-tolerant di cloud apa pun.

Container adalah kunci untuk meraih benefit pengembangan cloud-native. Container memungkinkan aplikasi untuk dikemas dan diisolasi bersama seluruh runtime environment mereka, sehingga lebih mudah untuk dipindahkan dari environment yang satu ke environment yang lain sembari mempertahankan fungsionalitasnya. Dengan container, pengembang aplikasi akan lebih mudah merilis dan mengupdate aplikasi sebagai sekumpulkan layanan yang digabungkan secara longgar, seperti halnya microservice, alih-alih harus menunggu satu rilis besar. Menyadari bahwa container dapat membantu mempercepat inovasi, 45 persen responden Asia Pasifik pada Global Tech Outlook 2021 memperkirakan lebih dari setengah workload mereka akan berbasis container dalam 12 bulan ke depan.

Bangkitnya Automasi
Pelanggan menuntut fase yang lebih cepat, sementara arsitektur IT selalu berubah dan dibangun di atas stack teknologi yang kian rumit. Perusahaan juga harus menjalankan kebijakan bekerja dari rumah selama pandemi COVID-19. Untuk mengatasi masalah ini, perusahaan di Asia Pasifik beralih ke automasi untuk mengurangi kompleksitas, meningkatkan produktivitas, dan menurunkan biaya pengoperasian. Namun, mereka harus memiliki strategi automasi secara menyeluruh alih-alih menerapkan automasi secara terpisah, supaya mereka mendapatkan manfaat penuh dari teknologi tersebut.

Semakin banyak perusahaan yang menggunakan automasi yang berhubungan dengan teknologi artificial intelligence dan machine learning untuk menciptakan layer tambahan pada insight otomatis untuk mengoptimalkan proses bisnis. Beberapa bank di Asia Pasifik bahkan sudah menggunakan robotic process automation (RPA) dalam proses approval aplikasi kartu kredit, mengotomatiskan berbagai macam pembayaran, dan memvalidasi klaim yang diajukan. Karena dapat meniru penilaian dan perilaku serta mereplikasi tindakan manusia berdasarkan aturan yang ada, RPA dapat menghemat waktu yang dibutuhkan untuk tugas-tugas tersebut.

Open Culture Perlu Melengkapi Modernisasi Teknologi
Berdasarkan sebuah studi yang disponsori oleh Red Hat pada November 2019, sebanyak 80 persen pemimpin bisnis di Asia Pasifik menyebutkan bahwa perubahan kultural dan modernisasi sama pentingnya dalam transformasi digital. Karakteristik budaya yang penting dalam transformasi meliputi kemampuan beradaptasi, inklusivitas, transparansi, dan kolaborasi. Semua ini merupakan prinsip open source. Perusahaan yang telah melakukan perubahan budaya sekaligus memodernisasi infrastruktur dan arsitektur aplikasi mereka dapat dengan cepat mengembangkan dan meluncurkan aplikasi baru, merespons kebutuhan konsumen dengan cepat, dan mengontrol biaya maintenance.

Begitu semakin banyak bisnis di Asia Pasifik yang menyadari bahwa transformasi digital itu harus didorong oleh perubahan pola pikir, akan lebih banyak perusahaan yang menggunakan prinsip-prinsip, proses, dan budaya open pada tahun depan. Dengan demikian, perusahaan dapat mengembangkan kolaborasi dan memberdayakan karyawan untuk mewujudkan ide dan jati diri terbaik mereka. Dengan begitu, inovasi bisa dipercepat dan perusahaan dapat mengatasi perubahan kebutuhan konsumen dan bisnis secara lincah atau agile.

Secara keseluruhan, kita melihat bahwa peristiwa global pada tahun 2020 telah menyebabkan organisasi/perusahaan makin berfokus pada tujuan bertahan hidup jangka pendek yaitu mempertahankan kelangsungan bisnis mereka. Tapi lantaran lanskap bisnis terus berkembang, organisasi/perusahaan di Asia Pasifik harus mempersiapkan diri menyambut masa depan dengan mengadopsi solusi teknologi yang fleksibel, agile, dan scalable. Dengan mempertimbangkan tren seperti 5G dan edge computation, hybrid cloud dan automasi dapat membantu organisasi/perusahaan dalam mengembangkan atau memperbarui rencana transformasi digital mereka pada tahun 2021.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Mission News Theme by Compete Themes.
%d blogger menyukai ini: