Press "Enter" to skip to content
Gempa bumi Majene, Senin 18 Januari pukul 11.11 WIB. (Dok. BMKG)

Gempa Kembali Terjadi di Majene, Sulawesi Barat

Gempa bumi kembali terjadi di Majene, Sulawesi Barat, hari ini, tak jauh dari lokasi gempa yang terjadi pada Sabtu (16/1). Gempa terjadi pukul 11.11 WIB di darat pada kedalaman 10 km, dengan koordinat 2.91 LS 118.99 BT. Gempa berkekuatan M 4.2. Pusat gempa ini, menurut catatan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), berada di darat, 16 km timur laut Majene.

Gempa ini dirasakan dengan skala intensitas II di Mamuju. Sampai Sabtu minggu lalu, sudah terjadi 32 aktivitas gempa bumi susulan di kawasan tersebut. Gempa susulan ini merupakan rangkaian gempa bumi yang terjadi sejak 14 Januari 2021 dengan magnitude M 6.2, yang meluluhlantakkan kawasan yang terdampak.

Sampai hari Minggu (17/1) tercatat 81 orang meninggal dunia, 253 luka berat dan 679 orang luka ringan di Kabupaten Majene dan Mamuju. Akibat bencana alam ini, sebanyak 19.435 orang mengungsi.

Sebenarnya, apa yang menyebabkan gempa ini? BMKG menyatakan gempa bumi tektonik di Majene merupakan jenis gempa kerak dangkal atau shallow crustal earthquake yang diakibatkan adanya aktivitas sesar aktif. Menurut USGS (United States Geological Survey), sesar ini berada di batas antara lempeng Sunda dan lempeng mikro Laut Banda. Indonesia bagian timur memang dicirikan dengan ciri tektonik yang kompleks di mana gerakan banyak lempeng mikro menyebabkan konvergensi skala besar antara lempeng Australia, Sunda, Pasifik, dan Laut Filipina.

Pada gempa 14 Januari, lempeng Sunda bergerak ke timur menuju lempeng mikro Laut Banda dengan kecepatan sekitar 21 mm/tahun. Gempa bumi 14 Januari M 6.2 didahului oleh gempa bumi M 5.7 12 jam sebelumnya di lokasi yang sama.

Gempa bumi dangkal seperti ini seringkali berdampak fatal pada makhluk hidup di permukaan. Menurut catatan sejarah, di kawasan Sulawesi telah terjadi 119 gempa dengan M 6.0 atau lebih sejak tahun 1900. Gempa bumi besar lain yang signifikan adalah gempa M 7.5 disusul tsunami yang terjadi pada September 2018. Episentrum gempa ini hanya 300 km dari episentrum gempa 14 Januari lalu. Sebanyak 4.000 orang meninggal dunia akibat gempa 2018.

Gempa bumi lain yang besar terjadi pada Januari 1996 dengan kekuatan M 7.9, yaitu gempa sesar dangkal yang mungkin terjadi pada sistem zona subduksi regional pada kedalaman di bawah kerak dangkal. Gempa ini mengakibatkan sekitar 10 korban jiwa, lebih dari 60 cedera, dan kerusakan bangunan yang signifikan di wilayah setempat.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: