Press "Enter" to skip to content
Ilustrasi ular suci (dok. commons.wikimedia.org)

Ular Suci di Pura Tanah Lot Bali, Riwayat dan Misterinya

Di Pura Tanah Lot, kalau kalian pernah ke sana, pasti akan menemukan sebuah gua kecil berisi ‘pertunjukan’ ular suci. Di gua ini kalian akan menemukan beberapa ular laut berwarna hitam putih yang terkenal jinak dan konon kalau kalian berani memegangnya, kalian akan mengalami hal-hal baik.

Percaya atau tidak, itu kembali kepada kepercayaan kalian ya gaes. Yang jelas, ular ini memang jinak. Menurut penelitian terbaru di Universitas Dhyana Pura yang disampaikan di Prosiding Sintesa 2020 akhir tahun lalu, Bali, ular ini bahkan belum pernah tercatat mematuk atau menggigit orang, termasuk turis, yang berdatangan ke sana. Kok bisa ya? Padahal ini ular yang amat berbisa lho.

Ular suci itu memiliki ukuran rata-rata 1-2 meter saat dewasa dengan corak belang-belang putih abu-abu dan hitam. Ujung ekornya agak pipih yang berguna untuk berenang di laut. Jenisnya, menurut penelitian, salah satunya adalah dari jenis erabu atau sea krait dari famili Elapidae, subfamili Laticaudinae dan genus Laticauda. Seluruhnya adalah jenis yang berbisa.

Data mencatat, ada delapan spesies erabu di alam. Tapi belum diketahui spesies yang ada di Tanah Lot. Namun erabu mengandung bisa neurotoksik yang kuat, menyebabkan efek kelesuan, lumpuh, kejang-kejang, dan disusul kematian, kalau tidak segera ditolong. Kekuatan bisanya 3 kali ular kobra. Erabu di Tanah Lot memiliki kemiripan dengan Laticauda laticaudata yang ditemukan di Sri Lanka, India, Myanmar, Thailand, Filipina, Jepang, China, Kepulauan Andaman, Fiji, Australia, dan Indonesia. Miripnya di seputar postur kepala dan corak tubuh.

Rupanya, tak ada niatan memang menjadikan ular suci ini sebagai bahan pertunjukan di Tanah Lot. Setidaknya, begitulah penuturan pelaku wisata di sana. Ular ini dikenal sejak 1970-an dan mengapa ular itu jinak, masih jadi misteri sampai sekarang. Kalau menurut legenda sih, ular ini jinak sebab ia merupakan jelmaan selendang sakti Dang Hyang Nirartha yang berubah menjadi ular untuk menjaga pura di Tanah Lot.

Pura Tanah Lot legendanya dibangun oleh seorang brahmana yang mengembara dari Jawa, yaitu Danghyang Nirartha yang berhasil menguatkan kepercayaan penduduk Bali akan ajaran Hindu dan membangun Sad Kahyangan tersebut pada abad ke-16. Pada saat itu, penguasa Tanah Lot yang bernama Bendesa Beraben merasa iri kepadanya karena para pengikutnya mulai pergi untuk mengikuti Danghyang Nirartha. Bendesa Beraben kemudian menyuruh Danghyang Nirartha meninggalkan Tanah Lot.

Danghyang Nirartha menyanggupi, tetapi sebelumnya dengan kekuatannya dipindahkannya Bongkahan Batu ke tengah pantai (bukan ke tengah laut) dan membangun Pura di sana, termasuk juga mengubah selendangnya menjadi ular penjaga Pura. Ular inilah yang konon masih ada sampai sekarang.

Anehnya, tak ada jejak ular itu bersarang atau berkembang biak di gua. Ketika laut pasang dan merendam gua, ular-ular itu akan pergi. Saat surut, ular-ular itu akan kembali. Karena sakralnya ular ini, penelitian lebih lanjut terhadap ular itu memang tak diizinkan. Jadi, masih banyak misteri yang menyelimuti kehadiran sang ular suci.

Kehadiran ular suci paling tidak memberikan keragaman sighseeing yang ada di pura Tanah Lot. Kehadirannya juga membuat pengelola menerapkan peraturan ketat untuk menjaga kebersihan lingkungan di sana, demi melindungi ekosistem sang ular. Dilarang juga membawa ular keluar dari areal pura.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: