Press "Enter" to skip to content

Kisah Penyintas COVID-19 di Papua

COVID-19 telah menjatuhkan banyak korban. Mulai dari yang merasakan gejala ringan, berat, sampai yang harus berjuang melawan maut. Ini membuktikan COVID-19 itu bukan isapan jempol belaka dan saya menjadi salah korban dan akhirnya menjadi penyintas COVID-19.

Gejala yang saya alami yaitu pada malam hari tiba-tiba menggigil kedinginan, badan gemetar. Lalu keesokan paginya saya merasa badan lemas, demam dan sakit kepala. Saya pun tidak bisa masuk kerja. Pada hari itu juga saya ke klinik untuk periksa darah, ternyata saya terkena malaria tropika.

Hingga saat ini, malaria masih menjadi wabah yang belum tuntas di Papua. Dokter menyuntik saya dan diberi obat yang lain. Saya juga disuruh istirahat selama tiga hari. setelah itu saya masuk ke kantor seperti biasa. Esok paginya, ada kegiatan swab PCR secara kolektif di Laboratorium Kesehatan Daerah Provinsi Papua. Saya beserta teman-teman di kantor ikut swab. Dua hari kemudian tiba-tiba saya badan lemas, sakit kepala, demam, batuk kering, badan lemas, nyeri tenggorokan, hilangnya indera perasa dan penciuman, serta kesulitan bernafas atau sesak nafas.

Saya selanjutnya periksa darah ke klinik, hasilnya sudah tidak ada malaria lagi, berarti saya sudah sembuh dari malaria. Petugas klinik kemudian bertanya apakah mau konsultasi ke dokter? Saya jawab iya. Kemudian saya konsultasi ke dokter, dan dokter sampaikan tidak ada malaria lagi. Saya kemudian bercerita kalau gejala seperti malaria masih ada dan ditambah lagi tidak bisa mencium bau dan rasa makanan.

Dokternya kaget dan saya disarankan untuk Rapid test Antigen. Saya jawab, saya sudah swab PCR, masih menunggu hasil. Akhirnya besoknya hasil swab PCR saya dinyatakan terkonfirmasi positif COVID-19. Akhirnya saya menjalani isolasi di RSUD Abepura, Kota Jayapura.

Selama tiga hari pertama saya menggunakan oksigen, karena sesak nafas dan kadar oksigen yang rendah. Setelah itu oksigen sudah dilepas, sesak nafas sudah berkurang dan oksigen sudah normal. Selama seminggu saya diberi obat dan vitamin, setelah itu hanya suplemen dan vitamin yang diberikan. Setelah itu saya di-swab, hasilnya masih positif.

Empat hari kemudian saya di-swab lagi, hasilnya masih positif. Empat hari kemudian saya di-swab yang ketiga kalinya selama di rumah sakit, hasilnya negatif. Kemudian saya diperbolehkan pulang, dan oleh dokter disuruh isolasi mandiri di rumah dengan diberi vitamin.

Ketika di ruang isolasi, dalam hati saya selalu bertanya, selama ini saya selalu mengikuti protokol kesehatan, menjaga jarak, selalu cuci tangan dan memakai masker, kenapa masih tertular? Saya duga, saya terpapar COVID-19 dari perjalanan balik dari libur Natal dan Tahun Baru. Pada waktu itu saya perjalanan balik dari Gorontalo, transit Makassar dan selanjutnya ke Jayapura.

Selama di ruang isolasi, selain obat dan vitamin yang diberikan oleh dokter, saya juga banyak mengkonsumsi buah-buahan terutama jeruk dan pisang kepok. Selain itu juga minum susu segar dalam kemasan. Susu ini banyak dijual di toko dan supermarket. Saya juga minum air jahe hangat. Di ruang isolasi saya membawa pemanas air.

Dokter memberikan obat semprot hidung untuk membersihkan saluran nasal, meringankan ketidaknyamanan pada hidung dan untuk mengatasi infeksi saluran pernapasan. Obat semprot hidung ini mengandung 100% larutan air laut steril dan hipertonis, setara dengan 22g/L garam.

Selama di ruang isolasi, dalam waktu yang selisih satu hari terdapat dua pasien COVID-19 yang meninggal. Begitu saya ke luar rumah sakit, dalam perjalanan ke rumah rasanya sakit hati banget, melihat orang-orang di jalan, mungkin belum sadar atau masih tidak percaya dengan COVID-19. Mereka tidak memakai masker.

Penulis: Hari Suroto, arkeolog tinggal di Jayapura. Bisa dihubungi di Instagram @surotohari

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: