Press "Enter" to skip to content
Manusia Neanderthal (dok. commons.wikimedia.org/photaro)

Menyingkap Identitas Manusia Hobbit

Ingatkah kalian manusia purba yang disebut “the hobbit”? Menurut penelitian terbaru, manusia purba ini diduga bukanlah ‘sepupu’ jauh manusia modern, sebagaimana anggapan sebelumnya. Malahan, manusia purba pendek ini justru merupakan anggota keluarga terdekat manusia modern yang disebut Denisovan dan kemungkinan kawin dengan nenek moyang manusia modern di Asia Tenggara.

Manusia modern, atau yang disebut Homo sapiens, saat ini adalah satu-satunya garis keturunan spesies manusia yang masih hidup di Bumi. Riset sebelumnya menyatakan bahwa Homo erectus adalah nenek moyang manusia modern, keluar dari Afrika pada 1,8 juta tahun lalu. Sedangkan manusia modern baru mulai bermigrasi dari Afrika pada 200.000 tahun lalu.

Selama 20 tahun terakhir, peneliti telah menemukan banyak cabang baru pohon keluarga manusia di sejumlah pulau di Asia Tenggara, termasuk di Brunei, Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Timor Timur. Nenek moyang manusia ini termasuk spesies Homo floresiensis, yang dikenal dengan nama ‘hobbit’ karena ukurannya yang pendek, dan spesies Homo luzonensis yang lebih pendek lagi.

Kedua manusia purba pendek ini diperkirakan hidup pada 50.000 sampai 60.000 tahun lalu, yang artinya mereka telah hidup di kawasan itu dalam masa yang sama dengan manusia modern.

Penelitian lain juga mendapati tanda-tanda bahwa manusia purba dan manusia modern tidak hanya menumpuk timeline-nya, tapi juga disebut sudah kawin dengan manusia modern di Asia Tenggara. Sebagai contoh, DNA fosil menunjukkan bahwa orang Papua dan Asia Selatan telah berhubungan dengan keturunan Denisovan yang merupakan keluarga dekat manusia Neanderthal. Tapi memang, di kawasan itu belum ditemukan fosil Denisovan.

Maka, kini peneliti menyebutkan bahwa Homo floresiensis maupun Homo luzonensis atau kedua-duanya bisa disebut sebagai manusia Denisovan selatan. Penelitian mereka ini diterbitkan di jurnal Nature Ecology and Evolution edisi 22 Maret. Untuk sampai pada kesimpulan ini, mereka menganalisa lebih dari 400 genom manusia modern di seluruh dunia, termasuk lebih dari 200 genom dari kepulauan di Asia Tenggara dan New Guinea. Terutamanya mereka mencari genetik yang betul-betul berbeda dengan manusia modern, sebab DNA itu mungkin berasal dari garis keturunan Homo floresiensis atau Homo Luzonensis.

Penelitian mereka mengkonfirmasi penelitian sebelumnya yang menemukan tingginya level keturunan Denisovan di dalam diri manusia-manusia maritim di Asia Tenggara, New Guinea, dan Australia. Tapi mereka belum menunjukkan bukti terjadinya hubungan antara manusia modern dan keturunan yang lebih tua seperti Homo erectus.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: