Press "Enter" to skip to content

Budayawan Batik Solo Jadi Google Doodle Hari Ini

Google Doodle hari ini punya gambar menarik, sesosok pria dan batik. Ternyata itu adalah penggambaran sosok K.R.T Hardjonagoro, seorang budayawan dan sastrawan Indonesia asal Solo.

Dilansir dari berbagai sumber, Hardjonagoro lahir dari keluarga priyayi Tionghoa. Sosok yang dikenal pula dengan nama Go Tik Swan itu adalah budayawan yang tak hanya mendalami sastra dan tari Jawa, tetapi juga sukses menyatukan Indonesia melalui batik.

Sejak kecil dia biasa bermain di antara para tukang cap dan pembersih kain batik. Dia juga suka mendengarkan tembang dan kisah tradisional Jawa. Dari situlah Go Tik Swan mengenal mocopat, pendalangan, gending, hanacaraka, dan tarian Jawa.

Budaya Jawa membuat Go Tik Swan berkenalan dengan presiden pertama RI, Soekarno. Pada 1955, dia tampil di Istana Negara membawakan tarian Jawa dan saat itu Soekarno memanggilnya dan berkenalan dengannya. Saat itu juga Go Tik Swan diminta membuat batik khusus yang diberi nama Batik Indonesia.

Go Tik Swan lahir dari keluarga pengusaha batik dengan ribuan karyawan. Keluarga ini sangat dihormati di Solo. Dengan latar belakang ini, Go Tik Swan menyanggupi permintaan Soekarno. Terciptalah batik Indonesia dengan corak penggabungan antara karakter batik Solo, Yogyakarta, dan Pesisiran atau dengan kata lain kombinasi antara motif keraton dan pesisir. Produksi batik Indonesia masih bertahan hingga kini.

Salah satu contoh motif batik Indonesia adalah Parang Sawunggaling, yang merupakan penggambaran simbol matahari sebagai lambang kehidupan (motif parang) dan Sawungguling yang merupakan penggambaran tradisi sabung ayam di pesisir Bali.

Go Tik Swan dekat dengan keluarga Pakubuwono sehingga membuahkan Art Gallery Keraton yang sekarang dikenal dengan nama Museum Keraton Surakata. Walau bukan bangsawan keraton, sumbangsihnya bagi budaya membuat Go Tik Swan diangkat menjadi Bupati Anom dengan gelar Raden Tumenggung lalu meningkat menjadi Panembahan. Dari Presiden Soekarno dia mendapat Satya Lencana Kebudayaan.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Mission News Theme by Compete Themes.
%d blogger menyukai ini: