Press "Enter" to skip to content
Image by StockSnap from Pixabay

Survei: Pariwisata Boleh Bangkit, Tapi Wajib Lindungi Lingkungan

Sektor pariwisata babak belur gara-gara pandemi. Kebangkitannya diidam-idamkan oleh para pelaku industri dan juga para traveler Indonesia. Masalahnya, ada kekhawatiran terjadinya over tourism atau pariwisata yang berlebihan, pasca pandemi ini.

Survei Tren Wisata Keberlanjutan dari Agoda menemukan bahwa kemudahan memilih perjalanan yang ramah lingkungan (eco-friendly) dan berkelanjutan, membatasi penggunaan produk plastik sekali pakai dan memberikan insentif finansial kepada penyedia jasa akomodasi yang memaksimalkan penghematan energi adalah tiga langkah utama yang harus dilakukan untuk menjadikan wisata jadi lebih berkelanjutan.

Membuat lebih banyak kawasan terlindungi (protected areas) untuk membatasi jumlah pengunjung dan meniadakan penggunaan perlengkapan mandi sekali pakai adalah dua langkah utama lainnya.

Survei ini diluncurkan untuk menandai Hari Lingkungan Dunia 2021 yang jatuh pada 5 Juni lalu. Survei ini juga mengungkap bahwa pariwisata yang berlebihan (over tourism), serta pencemaran pantai dan jalan air (waterway) adalah dua kekhawatiran utama dari dampak pariwisata, dengan deforestasi dan pemborosan energi (termasuk pemakaian listrik/air yang berlebihan) di posisi ketiga.

Orang menganggap pemerintah adalah pihak yang paling bertanggung jawab untuk membuat perubahan positif terhadap lingkungan di bidang pariwisata, diikuti oleh otoritas pariwisata dan perseorangan masing-masing. Dalam hal menuntut pertanggungjawaban dari pemerintah, Indonesia dan Inggris (UK) paling banyak melakukannya (36%), diikuti China dengan 33%, serta Australia (28%) dan Malaysia (27%) berada di urutan keempat dan kelima.

Negara-negara yang paling mungkin menunjuk diri sendiri sebagai pihak yang bertanggung jawab untuk mewujudkan wisata berkelanjutan adalah Thailand (30%), Jepang (29%) dan Amerika Serikat (28%). Sementara China (11%), Inggris (13%) dan Vietnam (14%) adalah negara-negara dengan kemungkinan terkecil untuk menempatkan tanggung jawab tersebut kepada perseorangan atau individu.

Menjawab pertanyaan apa yang harus dilakukan supaya lebih baik lagi dalam skenario wisata pasca-COVID, jawaban tertinggi secara global adalah
#1 mengelola sampah mereka, termasuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai,
#2 mematikan AC dan lampu ketika meninggalkan akomodasi, dan
#3 selalu mencari akomodasi ramah lingkungan.

Menariknya, walaupun over tourism menjadi kekhawatiran terbesar, pergi ke destinasi yang jarang dikunjungi hanya berada di posisi ketujuh dari sepuluh hal yang akan mereka lakukan dengan lebih baik pasca pandemi nanti.

Sementara itu, praktik-praktik yang dikaitkan dengan wisata ramah lingkungan atau berkelanjutan adalah
#1 sumber energi dan sumber daya terbarukan, seperti tenaga matahari, angin, hidroelektrik dan air,
#2 tidak menggunakan plastik sekali pakai, kemudian
#3 konservasi hewan dan meninggalkan jejak karbon yang lebih kecil.

Solusi penghematan energi lain seperti kartu kunci, atau sensor gerak, menggunakan produk pembersih natural adalah praktik penting lainnya.

“Dari Survei Tren Wisata Berkelanjutan oleh Agoda terlihat bahwa pesan-pesan seperti melakukan langkah sederhana mematikan lampu dan AC saat meninggalkan ruangan atau mengurangi sampah dengan meminimalkan penggunaan plastik sekali pakai, diterima oleh masyarakat di seluruh dunia,” kata John Brown, CEO Agoda.

Menurutnya, walaupun ada perbedaan interpretasi mengenai praktik yang ramah lingkungan atau berkelanjutan, kebanyakan dari masyarakat umum antusias menjalankan peran mereka, dengan secara aktif bertekad untuk memilih penginapan yang ramah lingkungan atau membuat keputusan yang lebih cerdas dengan memperhatikan aspek lingkungan saat bepergian atau berwisata.

Meningkatnya keinginan berwisata yang lebih berkelanjutan paling terlihat pada responden dari negara Korea Selatan (35%), India (31%) dan Taiwan (31%). Bila dilihat secara global, hanya 25% responden dengan keinginan semakin besar untuk berwisata lebih berkelanjutan, bandingkan dengan 35% yang keinginannya menurun. Negara-negara yang melaporkan proporsional penurunan terbesar adalah Indonesia (56%), Thailand (51%) dan Filipina (50%).

Tapi pentingnya wisata yang berkelanjutan tampaknya masih kalah dibandingkan dengan hasrat orang untuk segera bepergian setelah COVID-19.

“Mengkhawatirkan saat melihat banyak orang menganggap wisata berkelanjutan menjadi kurang penting dibandingkan sebelum pandemi COVID-19, namun saya harap ini hanya efek jangka pendek, yang disebabkan keinginan besar orang-orang untuk kembali ke luar sana dan bepergian dengan cara yang mereka inginkan,” rangkum John Brown.

Salah satu cara termudah untuk menanggapi kekhawatiran mengenai over tourism adalah dengan mengunjungi destinasi yang jarang dikunjungi. Setahun belakangan ini, Agoda melihat ada peralihan pada pola perjalanan karena hanya dibatasi pada wisata domestik, dengan mengeksplorasi tempat-tempat yang tidak begitu dikenal.

“Jika dikelola dengan baik, hal ini tak hanya membantu pengusaha hotel independen dan penyedia akomodasi yang mengandalkan dolar dari wisatawan, namun juga bisa mengurangi beban lingkungan hidup pada area-area yang terlalu padat pengunjung,” kata Brown.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: