Press "Enter" to skip to content
Pecahan gerabah di situs Prasejarah Kampung Abar (Dok. Hari Suroto)

Temuan Situs Prasejarah di Kampung Abar di Tepi Danau Sentani Papua

Penelitian Balai Arkeologi Papua di Kampung Abar, Distrik Ebungfauw, Kabupaten Jayapura berhasil menemukan situs kampung lama Abar. Situs kampung lama Abar ini berada di tepi Danau Sentani, permukaan situs ditumbuhi rumput ilalang, lingkungan sekitar situs berupa hutan sagu, dan terdapat mata air.

Hari Suroto peneliti Balai Arkeologi Papua mengatakan situs kampung lama Abar merupakan situs prasejarah. Survei permukaan tanah di situs kampung Lama Abar, berhasil ditemukan pecahan gerabah. Pecahan gerabah ini sangat unik, berbeda dengan gerabah yang dihasilkan oleh masyarakat Abar saat ini. Seperti diketahui Kampung Abar merupakan satu-satunya kampung yang masih eksis membuat gerabah.

Pecahan gerabah yang ditemukan di situs, terdapat dua jenis, berdinding tebal dan berdinding tipis. Gerabah berdinding tebal merupakan tempayan, pada masa lalu dipergunakan untuk menyimpan tepung sagu dan air.

Gerabah berdinding tipis, merupakan periuk, digunakan untuk memasak.

Gerabah di situs ini, bagian tepian juga berfungsi sebagai pegangan, pegangan saat mengangkat gerabah dari tungku. Selain itu pecahan gerabah situs kampung Lama Abar juga berpola hias lubang, yang dibuat dengan cara ditusuk. Lubang ini selain berfungsi sebagai estetika juga berfungsi untuk mengikat tali, saat gerabah diangkat, atau untuk mengikat gerabah di atas perapian.

Naftali Felle, ketua kelompok pengrajin gerabah Kampung Abar mengatakan jenis gerabah yang ditemukan di situs sudah tidak diproduksi di Abar.

Penelitian arkeologi ini juga melibatkan dosen antropologi Universitas Cenderawasih, Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbangda) Kabupaten Jayapura, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Jayapura.

Distrik Ebungfauw termasuk zona hijau COVID-19 di Kabupaten Jayapura. Tim peneliti dalam melakukan kegiatan lapangan mengikuti protokol kesehatan. Sebelum turun ke lapangan, masing-masing anggota tim melakukan tes rapid antigen, dan selama di lapangan selalu menerapkan prokes standar.

Penulis: Hari Suroto (arkeolog, tinggal di Jayapura) Bisa dihubungi di Instagram @surotohari

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: