Press "Enter" to skip to content

Kata Immunologist tentang Pentingnya Vaksinasi COVID-19 Hadapi Varian Delta

Virus corona varian Delta dari Virus SARS-CoV-2 atau dikenal pula sebagai virus Corona baru yang menyebabkan penyakit COVID-19 sedang mengamuk di 70 negara, termasuk Indonesia. Immunologist Jennifer T. Grier dari University of South Carolina menuturkan pentingnya melakukan vaksinasi untuk melawan mutasi virus Corona yang lebih ganas itu.

Dilansir dari Science Alert, Grier mengatakan kekebalan tubuh dalam melawan infeksi bisa timbul melalui dua cara: setelah terinfeksi virus atau dengan vaksinasi. Namun keduanya bisa jadi sangat berbeda dalam hal kekuatan respons imun atau berapa lama proteksi itu tetap ada.

Level imunitas yang timbul secara alami setelah orang terinfeksi sangat bervariasi antar orang per orang. Tetapi respons imunitas terhadap vaksin disebutnya sangat konsisten. Perbedaan ini semakin kentara ketika kita bicara tentang varian Delta yang ganas ini.

Pada awal Juli lalu dua penelitian diterbitkan yang menunjukkan bahwa vaksin COVID-19 menunjukkan respons imunitas yang bagus terhadap varian baru virus corona. Peneliti menemukan antibodi mengikat varian baru virus corona dan orang yang sebelumnya terinfeksi virus corona mungkin rentan terhadap jenis baru, sementara orang yang divaksinasi lebih mungkin terlindungi.

Setelah kita terinfeksi virus, sistem imun tubuh kita mampu mengingat infeksi tersebut. Dengan memori ini, tubuh tahu bagaimana memerangi patogen itu saat mencoba menginfeksi lagi dengan menghasilkan antibodi, yaitu protein yang bisa mengikat virus dan mencegah infeksi. Sementara sel T mengeluarkan sel yang terinfeksi dan virus yang diikat oleh antibodi. Keduanya adalah komponen utama dalam sistem imunitas kita.

Setelah infeksi corona, antibodi dan sel T berespons untuk membangun perlindungan. Sebanyak 84 sampai 91 persen orang yang mengembangkan antibodi ini bisa melawan virus corona varian yang mula-mula selama enam bulan. Tapi tidak terhadap varian Delta yang ganas itu. Grier mengatakan, mereka yang sudah terinfeksi varian awal bisa terinfeksi varian Delta dengan dampak yang patut diwaspadai.

Studi terbaru menunjukkan bahwa 12 bulan setelah terinfeksi varian awal, 88 persen orang masih memiliki antibodi untuk melawan varian awal, tapi kurang dari 50 persen yang punya antibodi untuk melawan varian Delta. Mereka juga bisa menularkannya kepada orang lain.

Grier mengatakan, vaksin COVID-19 bisa menghasilkan antibodi dan respons sel T yang lebih kuat dan lebih konsisten. Grier mengutip sebuah studi yang menemukan bahwa 6 bulan setelah menerima dosis pertama vaksin Moderna, 100 persen mereka yang dites masih memiliki antibodi untuk melawan virus itu. Studi terhadap penerima vaksin Pfizer dan Moderna juga menunjukkan bahwa level antibodi mereka lebih tinggi ketimbang mereka yang membangun antibodi setelah terinfeksi.

Bahkan, sebuah studi di Israel, kata Grier, menunjukkan bahwa vaksin Pfizer bisa memblokir 90 persen infeksi setelah dosis kedua, bahkan terhadap serangan varian yang baru.

Lalu bagaimana dengan mereka yang memiliki antibodi alami setelah terinfeksi, mungkinkah mereka divaksinasi? Grier mengatakan lebih baik divaksin juga untuk membangun antibodi yang lebih tangguh, bahkan untuk melawan varian Delta.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: