Press "Enter" to skip to content
Bunga matahari (Foto: Here and now, unfortunately, ends my journey on Pixabay/Pixabay)

Mengapa Bunga Matahari Condong ke Timur

Kalau kalian pernah menjadi Pramuka, mungkin pernah diajar cara survival dengan melihat bunga matahari (Helianthus annuus) sebagai salah satu petunjuk arah. Yes, saat tumbuh bunga matahari memang menunjukkan perilaku di mana kepala bunga atau capitulum-nya, bergerak mengikuti arah matahari melintasi langit.

Tetapi ternyata pada saat bunga matahari sudah dewasa dan mekar sepenuhnya, bunga ini akan cenderung menghadap ke timur. Mengapa begitu?

Sebuah penelitian yang diterbitkan di jurnal New Phytologist baru-baru ini mendapati bahwa bunga matahari cenderung menghadap ke timur karena arah terbitnya matahari ini lebih gembira, lebih sehat, dan lebih produktif.

“Sangat mengejutkan mengetahui fakta bahwa bunga ini cenderung menghadap ke timur,” tutur ahli biologi tanaman Stacey Harmer dari University of California Davis. “Ternyata lebih baik bagi bunga matahari menghadap ke timur, karena bunga itu akan lebih berkembang.”

Pada penelitian sebelumnya di tahun 2016, Harmer dan timnya menemukan alasan mengapa bunga matahari melacak dan mengikuti pergerakan matahari adalah untuk membantu pertumbuhan tanaman dan bunga dan menarik penyerbuk.

Akan tetapi, saat bunga matahari sudah matang, batangnya menegang dan secara signifikan membatasi gerakannya. Saat ini terjadi, capitulum akan condong menghadap ke timur saja. Pada 2016 itu, Harmer dan timnya belum tahu mengapa hal itu terjadi.

Tim lain yang dipimpin ahli biologi UC Davis Nicky Creux pun merancang percobaan untuk memecahkan misteri tersebut. Caranya sederhana. Para peneliti kemudian membalikkan arah sebagian bunga matahari yang mereka teliti dan membandingkannya dengan bunga matahari yang menghadapi ke timur.

Ternyata, bunga matahari yang menghadap ke timur menarik jumlah lebah penyerbuk, yang jumlahnya jauh lebih banyak di pagi hari. Bunga matahari yang menghadap ke timur juga melepas pollen mereka lebih awal pada pagi hari, atau sekitar 30 menit, waktu yang cocok dengan delay antara puncak kunjungan polinator.

Saat dianalisis, diketahui bahwa itu ada hubungannya dengan suhu capitulum. Matahari menghangatkan capitulum, memicunya untuk melepaskan serbuk sari. Ketika dihangatkan secara artifisial, bunga yang menghadap ke barat juga menunjukkan perilaku pelepasan serbuk sari yang serupa. Tapi pemanasan artifisial ini tidak memancing kunjungan polinator.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: