Press "Enter" to skip to content
Langit penuh bintang (Foto: Free-Photos/Pixabay)

Bukan Hitam, Ternyata Inilah Warna Alam Semesta

Cobalah tengok ke langit ketika malam hari dan penuh bintang. Bukankah terlihat seperti ‘lautan’ berwarna hitam? Apakah alam semesta ini berwarna hitam?

Jelas bukan! “Hitam itu bukanlah warna,” kata Ivan Baldry, profesor di Liverpool John Moores University Astrophysics Research Institute di Inggris, kepada Live Science. “Hitam adalah ketidakhadiran cahaya.”

Sedangkan warna adalah hasil dari cahaya yang tampak (visible), yang tercipta di seluruh alam semesta oleh bintang-bintang dan galaksi. Bintang adalah benda langit yang mengeluarkan cahayanya sendiri. Sedangkan galaksi adalah sekumpulan besar gas, debu, dan miliaran bintang dan tata suryanya, semuanya disatukan oleh gravitasi.

Baldry dan koleganya melakukan studi untuk mencari tahu warna rata-rata alam semesta ini. Penelitian mereka diterbitkan di The Astrophysical Journal. Seperti apa temuan mereka?

Bintang dan galaksi memancarkan gelombang radiasi elektromagnetik, yang dipisahkan ke dalam kelompok yang berbeda berdasarkan panjang gelombang yang dipancarkannya. Dari panjang gelombang terpendek ke yang terpanjang, kelompok ini meliputi sinar gamma, sinar-X, sinar ultraviolet, cahaya yang visible, radiasi inframerah, gelombang mikro, dan gelombang radio.

Cahaya yang tampak hanyalah sebagian kecil dari spektrum elektromagnetik dalam hal range panjang gelombangnya. Tetapi itu adalah satu-satunya bagian yang dapat kita lihat dengan mata telanjang. Apa yang kita anggap sebagai warna sebenarnya hanyalah panjang gelombang yang berbeda dari cahaya tampak; merah dan jingga memiliki panjang gelombang yang lebih panjang, dan biru dan ungu memiliki panjang gelombang yang lebih pendek.

Spektrum yang terlihat dari sebuah bintang atau galaksi adalah ukuran kecerahan dan panjang gelombang cahaya yang dipancarkan bintang atau galaksi, yang pada gilirannya dapat digunakan untuk menentukan warna rata-rata bintang atau galaksi.

Pada tahun 2002, 2dF Galaxy Redshift Survey di Australia menangkap spektrum tampak lebih dari 200.000 galaksi dari seluruh alam semesta yang dapat diamati. Dengan menggabungkan spektrum semua galaksi ini, tim Baldry mampu menciptakan spektrum cahaya tampak yang secara akurat mewakili seluruh alam semesta, yang dikenal sebagai spektrum kosmik.

Spektrum kosmik “Mewakili jumlah semua energi di alam semesta yang dipancarkan pada panjang gelombang cahaya optik yang berbeda,” tutur Baldry dan tim dalam tulisan mereka. Dengan spektrum kosmik mereka untuk menentukan warna rata-rata alam semesta.

Peneliti menggunakan program pencocokan warna di komputer untuk mengubah spektrum kosmik menjadi satu warna yang terlihat oleh manusia. Mereka kemudian menyimpulkan bahwa warna rata-rata alam semesta adalah warna krem yang tidak terlalu jauh dari putih.

Ini tidak mengejutkan memang, mengingat cahaya putih adalah hasil dari kombinasi semua panjang gelombang yang berbeda dari cahaya tampak dan spektrum kosmik mencakup rentang panjang gelombang yang begitu luas. Warna itu kemudian disebut cosmic latte. Cosmic latte adalah warna yang akan kamu lihat jika kamu dapat melihat ke bawah ke alam semesta dan melihat semua cahaya yang datang dari setiap galaksi, bintang, dan awan gas sekaligus.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: