Press "Enter" to skip to content
monyet keemasan berhidung pesek Rhinopithecus roxellana (Dok. Giovanni Mari/commons wikimedia)

Mengapa Warna Biru Jarang Sekali di Alam

Kalau melihat langit dan lautan, kamu mungkin mengira warna biru itu cukup banyak ditemukan di alam. Tapi kalau melihat bebatuan, tanaman, bunga, bulu hewan, kulit binatang, warna biru itu jarang sekali. Mengapa?

Ternyata rahasianya ada pada reaksi kimia dan fisika dalam memproduksi warna dan bagaimana mata kita melihat alam.

Kita bisa melihat warna sebab tiap mata kita ini mengandung antara 6 juta dan 7 juta sell yang peka pada cahaya, yang disebut cone. Ada tiga tipe cone di mata setiap orang dengan penglihatan normal. Tiap cone sensitif pada panjang gelombang cahaya tertentu: yaitu merah, hijau, dan biru.

Informasi yang diterima cone ini kemudian dikirimkan ke otak dalam bentuk sinyal-sinyal listrik yang mengkomunikasikan semua tipe warna yang dipantulkan oleh benda yang kita lihat dan kemudian diinterpretasikan sebagai warna-warna yang berbeda.

Saat kita melihat benda yang warna-warni, seperti safir, “Objek itu menyerap sejumlah cahaya putih yang diterimanya. Karena menyerap sebagian cahaya itu, sisa cahaya yang dipantulkan ke mata kita memiliki sebuah warna,” tutur Kai Kupferschmidt, seorang ilmuwan, kepada Live Science.

“Saat kamu melihat bunga warna biru, contohnya bunga jagung, kamu melihat bunga jagung sebagai biru karena bunga ini menyerap warna merah dari spektrum warna,” kata Kupferschmidt lagi. Atau bisa juga kita melihatnya warna biru karena warna ini tidak diserap melainkan ditolak oleh bunga jagung itu.

Dalam spektrum warna yang bisa kita lihat, warna merah memiliki panjang gelombang yang panjang sehingga lebih low-energy dibandingkan warna lain. Bunga yang warna biru memproduksi molekul yang bisa menyerap energi dalam jumlah sedikit untuk menyerap warna merah dari spektrum.

Dan untuk memproduksi molekul yang besar dan rumit seperti itu rupanya cukup sulit bagi kebanyakan tumbuhan. Sehingga warna biru hanya diprduksi oleh kurang dari 10 persen dari 300.000 spesies tanaman di muka Bumi ini. Salah satu kemungkinan evolusi warna biru adalah warna itu sangat mudah terlihat oleh penyerbuk seperti lebah dan memproduksi bunga warna biru akan menguntungkan tanaman di ekosistem di mana persaingan antara penyerbuk sangat tinggi.

Dari sisi kandungan mineral, struktur kristal dalam tanaman berinteraksi dengan ion (atom atau molekul bermuatan) untuk menentukan bagian spektrum mana yang diserap dan mana yang dipantulkan. Mineral lapis lazuli, yang ditambang terutama di Afghanistan dan menghasilkan pigmen biru ultramarine yang langka, mengandung ion trisulfida – tiga atom belerang yang terikat bersama di dalam kisi kristal – yang dapat melepaskan atau mengikat satu elektron.

“Perbedaan energi itulah yang menghasilkan warna biru,” kata Kupferschmidt.

Sedangkan di dunia hewan, warna biru pada hewan bukanlah pigmen kimia, melainkan lebih kepada aspek fisik. Kupu-kupu saya biru di genus Morpho memiliki struktur nano di sayap mereka yang memanipulasi layer cahaya sehingga hanya menampilkan warna biru. Efek yang sama juga terjadi pada struktur di sayap blue jay (Cyanocitta cristata), sisik blue tang (Paracanthurus hepatus) dan cincin berkedip di gurita cincin biru yang berbisa (Hapalochlaena maculosa).

Di dunia mamalia ini jarang sekali dibandingkan dengan burung, ikan, reptil, dan serangga. Beberapa jenis paus dan lumba-lumba memiliki kulit yang kebiruan. Primata seperti monyet emas berhidung pesek (Rhinopithecus roxellana) memiliki wajah berkulit biru dan mandrill (Mandrillus sphinx) memiliki wajah biru.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: