Press "Enter" to skip to content
Ilustrasi e-commerce (Foto: justynafaliszek/Pixabay)

Deloitte: Besaran E-Commerce Lintas Batas di Indonesia Capai US$43,351 Miliar

Lembaga riset Deloitte merilis laporan terbaru bertajuk “Technology-empowered Digital Trade in Asia Pacific”. Salah satu temuan menarik dalam laporan itu adalah, Indonesia disebut memiliki e-commerce berskala besar dengan potensi luar biasa dalam e-commerce lintas batas.

Deloitte sendiri membagi market-market di Asia Pasifik menjadi:
Mature market: China, Korea Selatan, Singapura dan Jepang;
Developing market: Indonesia, Thailand, Malaysia, Vietnam dan Filipina;
Early-stage market: Myanmar, Kamboja, Laos, dan Brunei Darussalam.

Dalam keterangan yang diterima Portal Sains, diketahui bahwa total besaran market e-commerce di Indonesia mencapai US$43,351 miliar pada tahun 2021, yang sedikit berada di belakang Korea Selatan yang merupakan negara terbesar ketiga di RCEP.

Sementara itu, proporsi skala konsumsi e-commerce lintas batas di Indonesia mencapai US$17,34 miliar, yang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan Developing market lain dan berada tepat di belakang China, salah satu Mature market di antara negara-negara RCEP.

Bonus demografi, tingkat penetrasi internet, dan kebiasaan konsumen menciptakan potensi besar untuk mengembangkan e-commerce serta e-commerce lintas batas di Indonesia. E-commerce sosial juga berkembang pesat, dan konsumen gemar berdagang di media sosial. Konsumen Indonesia suka membeli produk yang terjangkau, dan rata-rata transaksinya adalah US$36, jauh lebih rendah dari Malaysia (US$54) dan Singapura (US$91). Pengguna juga lebih memilih platform e-commerce dalam bahasa lokal, yang sangat mempengaruhi pengalaman berbelanja mereka.

Secara umum, laporan itu merupakan hasil survei terhadap bisnis yang terlibat dalam perdagangan lintas batas di kawasan Asia Pasifik. Laporan ini memaparkan bahwa perdagangan digital akan semakin mempercepat peningkatan aktivitas e-commerce lintas batas, pengadopsian gaya hidup digital yang sangat cepat oleh konsumen, pengembangan lebih lanjut dari infrastruktur digital dan penguatan kerja sama regional yang dipimpin oleh Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP).

Masa keemasan perdagangan digital di kawasan ini diharapkan akan terjadi dalam tiga tahun mendatang.

“COVID-19, perkembangan teknologi digital, dan peningkatan kerja sama regional mempercepat pembentukan perdagangan digital di kawasan Asia Pasifik. Perdagangan digital hadir dengan peluang pengembangan baru,” ujar Taylor Lam, Vice Chairman dan Technology, Media & Telecommunications Industry Leader di Deloitte China. “Selain itu, RCEP akan mempromosikan kerja sama regional dan memfasilitasi perdagangan digital regional.”

“Teknologi digital memungkinkan seller global berpartisipasi dalam perdagangan global tanpa ada hambatan,” kata Gary Wu, Deloitte Global Lead Client Service Partner. “Perbaikan infrastruktur digital yang berkelanjutan akan secara efektif menyelesaikan dua kendala utama yang memengaruhi perdagangan lintas batas, yakni logistik dan pembayaran. Teknologi blockchain juga menciptakan ruang imajinasi baru untuk perdagangan digital.”

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Mission News Theme by Compete Themes.
%d blogger menyukai ini: