Press "Enter" to skip to content
Ilustrasi digital banking (Dok. Gerd Altmann/Pixabay)

Perbankan Digital Makin Disukai, Namun Keamanannya Masih Dipertanyakan

Dunia perbankan dan pembayaran mengalami akselerasi dalam transformasi digital mereka beberapa tahun belakangan. Di antara trend online yang lain, industri ini mengalami disrupsi di berbagai sisi. Hidup kita ini semakin digital saja dan kita menginginkan pengalaman yang sama saat melakukan aktivitas keuangan dan perbankan.

Di tengah masa-masa yang penting bagi dunia perbankan dan keuangan ini, Entrust melakukan sebuah riset global bertajuk “The Great Payments Disruption.” Riset ini melibatkan 1.350 nasabah di sembilan negara, yaitu Indonesia, Australia, Kanada, Jerman, Arab Saudi, Singapura, Uni Emirat Arab, Inggris, dan Amerika Serikat. Para responden itu sudah melakukan atau menerima pembayaran digital dalam 12 bulan terakhir.

Beberapa poin yang menarik dari studi itu adalah:

  • Touchpoint yang omnichannel menjadi semakin penting dalam perbankan digital:

Sebanyak 80 persen responden dari Indonesia mengatakan mereka lebih memilih untuk melakukan aktivitas perbankan secara online dalam berbagai bentuknya, ini adalah bukti yang jelas bahwa perbankan digital adalah sebuah kenormalan baru. Akan tetapi, sangat penting untuk tetap menyediakan berbagai opsi digital, karena 71 persen mengatakan mereka lebih memilih menggunakan aplikasi dari bank atau credit union, sementara 9 persen memilih menggunakan web browser di desktop. Beberapa orang tetap memilih melakukan kegiatan perbankan langsung seperti di cabang (9 persen) atau di interactive teller machine (6 persen). Secara keseluruhan, ini sejalan dengan tren global dan sangat penting bagi bank untuk menawarkan solusi yang omnichannel dan digital-first, untuk beresonansi dengan nasabah saat ini.

  • Nasabah sadar akan pentingnya keamanan dan kurangnya keamanan memberikan konsekuensi yang merugikan:

Sebanyak 83 persen responden dari Indonesia mengatakan mereka khawatir dengan kemungkinan penipuan bank atau kredit, karena perbankan dan kredit semakin digital. Banyak responden memiliki pengalaman pribadi dengan risiko penipuan, dengan 70 persen mengatakan mereka pernah menerima pemberitahuan mengenai penipuan perbankan pribadi atau kredit dalam 12 bulan terakhir. Insiden ini jelas merusak loyalitas nasabah, karena 63 persen dari responden yang menerima pemberitahuan penipuan akhirnya pindah ke bank atau credit union yang lain.

  • Struktur biaya dan opsi pembayaran yang fleksibel memberikan keunggulan bagi bank:

Nasabah kemungkinan besar lebih mempertimbangkan biaya yang lebih rendah, solusi digital dan keamanan saat berpindah ke bank yang lain. Dengan nasabah yang mencari layanan perbankan berkualitas tinggi serta berbiaya rendah, challenger bank bisa menambah disrupsi yang sudah ada dengan menawarkan fasilitas seperti overdraft protection gratis, dan penukaran mata uang asing tak terbatas. Ada daya tarik meluas di atmosfer perbankan digital, dengan 75 persen responden dari Indonesia mengatakan mereka akan mempertimbangkan layanan perbankan online yang branchless. Selain itu challenger bank menawarkan cara pembayaran yang baru, dan 66 persen responden mengatakan mereka akan mempertimbangkan menggunakan mata uang digital untuk pembayaran.

  • Dompet digital terdepan dalam kenaikan pembayaran contactless:

Responden dari Indonesia menyebutkan e-wallet/crypto wallets/dompet digital prabayar (65 persen) sebagai metode pembayaran yang paling disukai dan di posisi kedua adalah kartu kredit/kartu debit dengan chip (43 persen). Mengingat 67 persen responden mengindikasikan preferensi mereka untuk membuka akun bank secara digital, penerbitan kartu dengan cepat dan kartu digital bisa menjadi selling point yang efektif.

“Penelitian kami mendapati bahwa ada preferensi sangat kuat untuk memilih perbankan online dan kekhawatiran yang signifikan mengenai penipuan – bahkan, lebih dari dua pertiga nasabah yang terlibat dalam survei kami pindah ke bank atau credit union lain setelah menerima peringatan mengenai terjadinya penipuan atau kebocoran privasi. Jelaslah bahwa lembaga keuangan harus memperkaya pengalaman digital dengan keamanan yang sudah terbukti, seperti solusi keamanan biometrik untuk meningkatkan kepercayaan dan loyalitas nasabah mereka,” kata Jenn Markey, vice president of product marketing, Entrust, dalam keterangannya.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Mission News Theme by Compete Themes.
%d blogger menyukai ini: