Press "Enter" to skip to content
Ilustrasi Big Data (Foto: Gerd Altmann/Pixabay)

Pentingnya Strategi Data untuk Meningkatkan Cuan

Jumlah data yang kita produksi dan konsumsi setiap hari terus meledak, semua karena digitalisasi yang semakin masif. Jumlah data terstuktur yang dibuat, disimpan, dan disalin tumbuh secara eksponensial, dan jumlah total data diperkirakan akan meningkat tiga kali lipat pada tahun 2025.

“Untuk memahami semua data ini, perusahaan perlu memiliki strategi data enterprise,” kata Remus Lim, Vice President, Asia Pacific and Japan, Cloudera, dalam keterangannya.

Studi Global Enterprise Data Maturity Research Report dari Cloudera, yang dibuat bersama firma penelitian pasar teknologi, Vanson Bourne, mengungkap bahwa perusahaan di Asia Pasifik yang memiliki strategi data yang matang dan menjalankannya paling tidak selama 12 bulan, melaporkan pertumbuhan profit lebih tinggi rata-rata sebesar 6 persen.

Laporan juga mendapati bahwa heroes untuk strategi data yang matang ini di Asia Pasifik adalah industri layanan Keuangan dan Telekomunikasi. Industri layanan keuangan (financial services industry/FSI) meningkatkan pengeluaran mereka sebesar 46 persen sejak awal pandemi dalam mendukung inisiatif transformasi digital seperti arsitektur hybrid multi-cloud, dan data serta solusi analitik. Industri telekomunikasi juga menambah pengeluarannya sebesar 48 persen untuk inisiatif yang sama.

“Mereka yang baru memiliki strategi atau yang sama sekali tidak memiliki strategi justru melaporkan kerugian tahunan sebesar US$805.441 sebagai akibat dari hilangnya peluang yang melibatkan data mereka,” kata Lim.

Contoh kasus industri keuangan yang sudah menerapkan strategi data yang tepat adalah Bank Mandiri dan UnionBank dari Filipina. Lim mengatakan, kedua perusahaan berinvestasi dalam solusi big data untuk mencapai tujuan bisnis, seperti dengan meningkatkan kepuasan pelanggan, mengungkap aliran pendapatan alternatif, atau meningkatkan efisiensi operasional.

Billie Setiawan, Head of Enterprise Data Analytics Group, Bank Mandiri, mengatakan digitalisasi telah menyebabkan perubahan perilaku nasabah mereka. “Karena itulah kekuatan data analytic menjadi penting untuk menemukan cara bagaimana melakukan analisis terhadap perilaku para pelanggan sehingga kami benar-benar paham bagaimana mendekati nasabah. Personalisasi sangat penting untuk memastikan bahwa Anda tahu apa yang dibutuhkan nasabah ketika akan menawarkan sesuatu dan bagaimana kita harus terhubung dengan mereka,” ujar Billie.

Strateginya, kata Billie, adalah benar-benar fokus dalam transformasi digital melalui aplikasi Livin’ by Mandiri untuk retail dan aplikasi Kopra untuk wholesale. “Tentu saja, data analytics menjadi enabler yang memainkan peranan sangat penting untuk benar-benar memberi pengalaman nasabah terbaik,” ucap dia lagi. “Sampai sekarang, Cloudera menjadi tulang punggung kami untuk data analytics, untuk semua kegiatan yang terkait dengan analisis data, mulai dari mengelola data, standarisasi, dan mengoperasionalkannya, membuat satu single source of truth. Bagaimana memastikan bahwa data siap digunakan oleh tim data science, oleh tim analitik, atau bahkan oleh business intelligence.”

Sementara itu Dr. David R. Hardoon, Chief Data & AI Officer, UnionBank, mengatakan tantangan dalam pengelolaan data di pihaknya adalah menciptakan factory. “Kami memastikan bahwa kami memiliki lingkungan di mana semua artefak dan konstruksi data ditempatkan dan dapat dikonsumsi. Mulai dari analisis, reporting, data science, dan sudut pandang, di seluruh perusahaan,” kata dia. “Sekarang kami dapat memberikan value, yang disebut data operationalizing. Kami mengoperasionalkan data untuk efisiensi operasional nasabah. Manajemen risiko.”

Erwin Sukiato, Country Manager, Cloudera Indonesia, mengatakan selain mengimplementasi strategi data enterprise holistik yang memasukkan tata kelola data komprehensif, beralih ke hybrid cloud juga bisa membantu perusahaan mengelola data dengan lebih baik dan mendukung tenaga kerja yang semakin mobile serta membantu perusahaan menciptakan keunggulan kompetitif.

“Ini sangat penting karena lebih dari dua perlima (43 persen) dari pembuat keputusan IT FSI dan hampir setengah (49 persen) dari pembuat keputusan IT dalam industri telekomunikasi di seluruh wilayah APAC melaporkan peningkatan dalam pengeluaran untuk mendukung lingkungan kerja yang berubah seperti pengaturan kerja hybrid. Perusahaan yang memanfaatkan hybrid data cloud bisa mengakses dan menganalisa data dengan cepat dan dengan mudah untuk membuat keputusan yang didorong data dengan cepat untuk secara efektif memenuhi permintaan iklim bisnis yang sangat kompetitif,” katanya.

One Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mission News Theme by Compete Themes.
%d blogger menyukai ini: