Press "Enter" to skip to content
Ilustrasi manusia prasejarah (Foto: David Mark/Pixabay)

Siapa Manusia yang Pertama Bertani

Hidup manusia pada zaman purba berubah drastis ketika manusia beralih dari berburu dan mengumpulkan makanan ke pertanian. Kebudayaan dan teknologi berkembang dengan pesat ketika manusia mulai menetap dan bertani.

Pertanyaannya, manusia mana yang pertama kali mengembangkan pertanian?

Sebagaimana dilansir dari Live Science, bukti-bukti arkeologis tertua mengenai pertanian ditemukan di Fertile Crescent, sebuah kawasan purba yang meliputi Irak, Suriah, dan Israel masa kini. Walaupun kawasan ini sekarang relatif kering, tapi kawasan ini dulu diairi dengan baik oleh dua sungai besar. Jejak-jejak pertanian awal ditemukan di Tell Abu Hureyra di utara Suriah, yang merupakan sebuah desa di tepi Sungai Eufrat pada 11.700 tahun lalu.

Arkeolog menemukan jejak gandum hitam yang dibudidayakan di sana dan gandum tersebut sengaja digiling menjadi tepung dengan batu-batu besar.

Antropolog dan arkeolog Melinda Zeder, kurator emeritus di National Museum of Natural History, mengatakan kepada Live Science bahwa pertanian tampaknya berkembang secara bertahap: pertama-tama orang membudidayakan tanaman selain berburu dan meramu, kemudian meningkatkan ketergantungan mereka pada tanaman pertanian, dan kemudian menetap di desa-desa terdekat untuk bertani.

“Di Timur Dekat, kita mempunyai waktu sekitar 1.000 tahun lagi sebelum kita mencapai apa yang disebut pertanian – ketika orang-orang mencurahkan sebagian besar tenaga produktif mereka untuk menanam tanaman dan hewan peliharaan,” katanya.

Seiring dengan pertanian, domestikasi hewan juga menjadi ciri-ciri masa pertanian. Domba, kambing, dan babi menjadi hewan-hewan yang banyak dipelihara.

Zeder mengatakan, kambing dan domba didomestikasi sekitar 10.500 tahun lalu di Fertile Crescent. Tak jauh dari sana, tepatnya di Anatolia (daerah Turki modern saat ini), domestikasi hewan berkembang dalam tiga fase pada 8.400 tahun lalu. Pertama, manusia di permukiman barunya menangkap domba liar dan dipelihara untuk dikonsumsi. Kedua, penduduk mulai membiakkan hewan ini sambil tetap menangkap yang liar. Ketiga, penggembalaan skala besar dengan hewan penangkaran yang bereproduksi dilakukan, dan hewan yang dewasa kemudian dikonsumsi.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mission News Theme by Compete Themes.