Press "Enter" to skip to content
Ilustrasi nyamuk demam berdarah (Foto: Mohamed Nuzrath/Pixabay)

Mengendalikan Demam Berdarah dengan Wolbachia

Pengendalian vektor demam berdarah dengue (DBD) dengan memanfaatkan teknologi di Indonesia bukanlah hal baru. Salah satu yang dilakukan adalah dengan memanfaatkan teknologi wolbachia. Menurut Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), penggunaan wolbachia terbukti efektif di sembilan negara lain.

Sebenarnya apa itu wolbachia? Dijelaskan oleh BRIN, wolbachia adalah bakteri yang terdapat di dalam tubuh serangga secara alami (bukan bakteri hasil rekayasa genetik/Non-GMO). BRIN mengklaim bakteri ini diturunkan ke generasi selanjutnya, aman bagi manusia, dan hewan serta lingkungan.

“Dapat mengurangi replikasi virus dengue di dalam tubuh Ae. Aegypti, dan memberikan proteksi komunitas jangka panjang terhadap dengue,” kata Adi Utarini dari Pusat Kedokteran Tropis FK-KMK UGM, seperti dilansir dari BRIN.

Penelitian terhadap wolbachia di Indonesia sendiri sudah dilakukan cukup lama, dan melewati beberapa fase yaitu keamanan dan kelayakan, pelepasan skala kecil, pelepasan skala besar atau Uji klinis, dan model implementasi.

Pada 2011-2012, untuk fase keamanan dan kelayakan pada teknologi, regulasi, serta peningkatan kapasitasnya dengan membangun fasilitas. Pada 2013-2015, pelepasan skala kecil dilakukan di 4 dusun, dengan jumlah penduduk di bawah 10 ribu secara bertahap. Selanjutnya, melakukan surveilans aktif dengue dengan mencari suspek dengue di masyarakat.

Lalu Pada 2016-2020 masuklah ke fase berikutnya, yaitu pelepasan skala besar atau uji klinis di lapangan dengan menganalisis risiko independen oleh Tim Analisis Risiko, dan studi dampak teknologi. “Kemudian, pada 2021-2023 atas rekomendasi AIPI dan WHO, kami melakukan pelepasan wolbachia di seluruh Kota Yogyakarta, dan implementasinya di Kabupaten Sleman dan Bantul,” kata Adi.

Menurut Adi, risiko intervensi wolbachia untuk pengendalian dungue dapat diabaikan. Riset wolbachia di Yogyakarta menghasilkan bukti ilmiah terbaik. Kebijakan Kementerian Kesehatan telah didasarkan oleh analisis risiko, termasuk dengan adanya rekomendasi dari Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) dan WHO Vector Control Advisory Group (VCAG).

Imran Pambudi dari Kementerian Kesehatan ada sejumlah tantangan dalam mengatasi dengue ini, yang meliputi pengetahuan masyarakat tentang DBD menyebabkan keterlambatan ke layanan kesehatan. Belum membudayanya Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) 3M Plus di masyarakat yang lebih menyukai fogging. Penanganan KLB belum berjalan optimal, beberapa daerah telat atau enggan menetapkan sebagai KLB, dan lain-lain.

“Inovasi teknologi nyamuk wolbachia terbukti efektif, aman, namun masih terbatas pada piloting, belum ada roadmap perluasan, dan target secara nasional. Vaksin belum menjadi program nasional, diperlukan kajian dan rekomendasi dari Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI),” kata Imran.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mission News Theme by Compete Themes.