Press "Enter" to skip to content
Ilustrasi bumi dan matahari (Foto: Arek Socha/Pixabay)

Badai Matahari Bisa Ganggu Internet dan Satelit, BRIN Kembangkan Model Prediksi

Badai Matahari dapat mengganggu teknologi di Bumi, mulai dari komunikasi radio hingga navigasi satelit. BRIN kini mengembangkan model prediksi untuk mengantisipasi dampak cuaca antariksa tersebut.

Peneliti Pusat Riset Antariksa (PRA) BRIN, Clara Yono Yatini, mengatakan timnya memantau aktivitas Matahari secara berkala. Pemantauan itu mencakup daerah aktif, bintik Matahari, dan kelas magnetnya.

Data tersebut membantu peneliti memperkirakan potensi terjadinya ledakan Matahari. Peneliti juga memantau kondisi ionosfer dan medan magnet Bumi.

Pemantauan itu penting untuk mengetahui dampak aktivitas Matahari terhadap wilayah Indonesia.

“Pemantauan kondisi ionosfer dan medan magnet bumi juga dilakukan untuk mengetahui seberapa besar dampak aktivitas matahari tersebut di Indonesia,” kata Clara dalam kegiatan “100 Jam Astronomi untuk Semua”, Kamis (1/10).

Badai Matahari dan Ancaman bagi Teknologi

Badai Matahari terjadi ketika Matahari melepaskan energi dan materi dalam jumlah besar. Fenomena tersebut dapat memicu gangguan pada lingkungan antariksa di sekitar Bumi.

Dampaknya dapat menjalar hingga berbagai sistem teknologi. Jaringan listrik, komunikasi radio, dan navigasi satelit termasuk infrastruktur yang dapat terdampak.

Namun, kondisi tersebut tidak otomatis membahayakan kehidupan manusia di Bumi. Bumi memiliki perlindungan alami berupa magnetosfer dan atmosfer.

Dosen Astronomi Institut Teknologi Bandung (ITB), Dhani Herdiwijaya, menjelaskan fungsi perlindungan tersebut. Magnetosfer membantu menahan partikel bermuatan dari aktivitas Matahari.

Atmosfer juga menyerap sebagian radiasi berbahaya sebelum mencapai permukaan Bumi.

“Meski demikian, kondisi tersebut tidak serta-merta berarti kehidupan di Bumi berada dalam bahaya,” ujar Dhani.

Menurut Dhani, masyarakat perlu memahami cara kerja badai Matahari. Pemahaman tersebut penting ketika muncul berbagai informasi tentang dampaknya.

Salah satu isu yang sering muncul ialah ancaman “kiamat internet”. Istilah tersebut kerap mengaitkan badai Matahari dengan kemungkinan lumpuhnya internet secara global.

Dhani menilai masyarakat perlu memeriksa informasi semacam itu berdasarkan bukti ilmiah. Pengetahuan astronomi dapat membantu publik membedakan fakta dari informasi yang menimbulkan kepanikan.

“Sains bukanlah kumpulan jawaban tetap, melainkan perjalanan abadi berupa rasa ingin tahu, pengumpulan bukti, dan penemuan demi keselamatan manusia,” kata Dhani.

BRIN Kembangkan Prediksi Aktivitas Matahari

BRIN terus mengembangkan riset mengenai dinamika Matahari dan cuaca antariksa. Riset tersebut juga mencakup pengembangan model untuk memprediksi aktivitas Matahari.

Model prediksi membutuhkan pemantauan kondisi Matahari secara berkelanjutan. Peneliti kemudian mengolah berbagai indikator untuk memperkirakan potensi aktivitas ekstrem.

Informasi tersebut dapat membantu memahami kemungkinan dampak badai Matahari terhadap Bumi. Data kondisi ionosfer dan medan magnet juga memberikan gambaran dampaknya di Indonesia.

Kepala PRA BRIN, Emanuel Sungging Mumpuni, mengatakan riset antariksa perlu disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami masyarakat.

“Kita selalu mencoba mengangkat tema-tema yang menarik supaya bisa semakin dikenal masyarakat sehingga bisa dipahami riset antariksa itu apa saja,” ujar Sungging.

Menurut Sungging, pengenalan riset antariksa tidak harus menggunakan pembahasan yang rumit. Tema yang dekat dengan kehidupan sehari-hari dapat menjadi pintu masuk bagi masyarakat.

Badai Matahari Bukan Sekadar Fenomena Langit

Badai Matahari menunjukkan bahwa aktivitas Matahari dapat memengaruhi teknologi di Bumi. Fenomena tersebut menjadi bagian dari kajian cuaca antariksa yang terus berkembang.

Risiko gangguan teknologi membuat pemantauan aktivitas Matahari menjadi penting. Sistem prediksi juga dapat membantu meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi fenomena ekstrem.

PRA BRIN memperkenalkan kajian tersebut melalui rangkaian kegiatan edukasi astronomi. Kegiatan itu berlangsung dalam rangka World Space Week atau Pekan Antariksa Dunia.

World Space Week berlangsung setiap tahun untuk memperkenalkan manfaat teknologi dan sains antariksa. Berbagai komunitas dan institusi di dunia ikut menggelar kegiatan edukasi selama peringatan tersebut.

PRA BRIN juga menggelar kegiatan serupa dalam beberapa tahun terakhir. Tahun ini, kegiatan tersebut mengangkat berbagai tema untuk mendekatkan riset antariksa kepada masyarakat.

Rangkaian kegiatan berlangsung selama empat hari melalui Zoom dan YouTube. BRIN berharap kegiatan tersebut mendorong masyarakat mengenal astronomi dan riset antariksa lebih jauh.

Melalui pembahasan badai Matahari, BRIN juga mengajak publik memahami fenomena antariksa berdasarkan bukti ilmiah. Pendekatan tersebut penting untuk menghadapi berbagai informasi tentang ancaman badai Matahari.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

situs slot gacor

Mission News Theme by Compete Themes.
RPHOKI AGENHOKI CHUTOGEL agenhoki agenhoki.com Sbobet88