Di tengah gempuran isu iklim dan tuntutan transisi energi, satu langkah berani datang dari sektor teknologi: pusat data kini mulai beralih ke bahan bakar dari limbah dapur. Ya, minyak goreng bekas kini jadi bahan bakar cadangan untuk operasional digital.
Princeton Digital Group (PDG), penyedia pusat data skala besar di Asia Pasifik, resmi menggandeng Pertamina Patra Niaga untuk menggunakan Hydrotreated Vegetable Oil (HVO), bahan bakar rendah emisi berbasis limbah nabati, sebagai pengganti solar di fasilitas mereka di Indonesia.
Langkah ini bukan sekadar simbolis. PDG memperkirakan penggunaan HVO bisa memangkas emisi karbon hingga 90%, sekaligus mengurangi polutan udara seperti nitrogen oksida dan partikulat yang berdampak langsung pada kesehatan masyarakat sekitar.
“Kami ingin pusat data tidak hanya canggih, tapi juga bertanggung jawab terhadap lingkungan,” ujar Varoon Raghavan, COO dan Co-founder PDG.
HVO dibuat dari limbah seperti minyak goreng bekas, lemak hewan, dan minyak nabati. Meski berasal dari limbah, performanya mirip solar fosil—namun jauh lebih bersih. Ini menjadikannya solusi ideal untuk sektor yang butuh keandalan tinggi seperti pusat data.
Pertamina Patra Niaga, sebagai penyedia HVO lokal, menyambut baik kolaborasi ini.
“Kami bangga bisa mendukung PDG dengan bahan bakar yang lebih bersih dan diproduksi di dalam negeri,” kata Alimuddin Baso, Direktur Pemasaran Pusat dan Niaga Pertamina Patra Niaga.
Melalui platform Pertamina One Solution, mereka tak hanya menyediakan bahan bakar, tapi juga dukungan logistik dan infrastruktur agar transisi energi bisa berjalan mulus.
PDG menargetkan nol emisi karbon (Scope 1 dan Scope 2) pada tahun 2030. Penggunaan HVO menjadi bagian dari strategi besar mereka untuk mewujudkan pusat data yang ramah lingkungan dan mendukung target net zero Indonesia 2060.
Kemitraan ini juga menunjukkan bahwa sektor teknologi bisa jadi pelopor dalam transisi energi, bukan sekadar pengguna. Dengan semakin banyaknya pusat data di Indonesia, langkah PDG dan Pertamina bisa jadi pemicu perubahan besar dalam cara industri memandang energi alternatif.





Be First to Comment