Bayangkan ada spesies ikan yang sudah berenang di lautan sejak ratusan juta tahun lalu, bahkan jauh sebelum dinosaurus muncul di Bumi. Yang lebih mengejutkan, salah satu habitat terpentingnya justru berada di Indonesia.
Temuan terbaru para peneliti mengungkap keberadaan 18 individu ikan purba Coelacanth (Latimeria menadoensis) di perairan Pulau Talise, Sulawesi Utara. Penemuan ini semakin menguatkan posisi Indonesia sebagai rumah bagi salah satu spesies laut paling langka sekaligus paling misterius di dunia.
Dijuluki “Fosil Hidup”
Coelacanth sering disebut sebagai living fossil atau fosil hidup karena garis keturunannya telah ada sejak sekitar 400 juta tahun lalu.
Selama bertahun-tahun, ilmuwan mengira spesies ini telah punah bersama dinosaurus. Namun anggapan itu berubah pada 1938 ketika seekor Coelacanth ditemukan hidup di lepas pantai Afrika Selatan. Sejak saat itu, setiap penemuan baru selalu menjadi perhatian dunia.
Indonesia sendiri menjadi rumah bagi spesies Coelacanth yang berbeda dari Afrika, yaitu Latimeria menadoensis, yang pertama kali diidentifikasi pada 1998.
Gua Bawah Laut yang Menyimpan Kejutan
Profesor Alex Masengi dari Universitas Sam Ratulangi, dalam keterangannya, mengatakan penelitian mengenai Coelacanth di Indonesia telah berlangsung lebih dari 20 tahun.
Salah satu temuan paling mengejutkan datang dari ekspedisi terbaru BRIN bersama OceanX dan NHK di Pulau Talise. Pada survei sebelumnya tahun 2009, peneliti hanya menemukan empat individu Coelacanth di kawasan tersebut.
Namun kali ini hasilnya jauh lebih mengejutkan. Tim berhasil mendokumentasikan 18 individu, termasuk 11 ekor yang hidup bersama dalam satu gua bawah laut.
“Selama 20 tahun penelitian, kami terus berupaya memahami kehidupan Coelacanth di habitat alaminya. Temuan terbaru menunjukkan Indonesia memiliki peran yang sangat penting dalam upaya konservasi spesies ini,” ujar Alex.
Penemuan belasan Coelacanth dalam satu lokasi menjadi petunjuk baru bahwa gua bawah laut kemungkinan merupakan habitat penting bagi spesies tersebut.
Bayi Coelacanth Ikut Ditemukan
Kejutan lainnya datang dari Teluk Amurang. Di lokasi ini, peneliti menemukan seekor Coelacanth muda dengan panjang sekitar 26 sentimeter.
Temuan individu berusia muda seperti ini sangat jarang terjadi dan memberi petunjuk penting mengenai proses reproduksi ikan purba tersebut.
Tak hanya itu, pemindaian menggunakan CT Scan terhadap salah satu spesimen juga mengungkap adanya 22 butir telur di dalam tubuh ikan. Informasi ini membantu ilmuwan memahami bagaimana Coelacanth berkembang biak, sesuatu yang selama ini masih menjadi misteri.
DNA Air Laut Ikut Membantu Penelitian
Untuk mencari keberadaan Coelacanth tanpa harus menangkapnya, para peneliti juga memanfaatkan teknologi environmental DNA (eDNA). Teknik ini memungkinkan ilmuwan mendeteksi keberadaan suatu spesies hanya dari jejak materi genetik yang tertinggal di air laut, seperti lendir, sisik, atau sel tubuh.
Metode tersebut dinilai jauh lebih ramah terhadap satwa langka sekaligus membantu memetakan persebaran Coelacanth di Indonesia.
Hingga kini, habitat ikan purba itu diketahui membentang dari Biak di Papua hingga Buol di Sulawesi Tengah, menjadikan perairan Indonesia sebagai salah satu kawasan terpenting bagi kelangsungan hidup spesies tersebut.
Dari Penelitian Menuju Kawasan Konservasi
Peneliti BRIN, Prof. Augy Syahailatua, mengatakan temuan-temuan baru ini menjadi dasar ilmiah yang kuat untuk mempercepat perlindungan habitat Coelacanth di Pulau Talise.
Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara telah menyerahkan dokumen kepada Kementerian Kelautan dan Perikanan sebagai langkah menuju penetapan kawasan konservasi khusus bagi spesies tersebut.
Jika proses itu selesai, habitat Coelacanth di Pulau Talise bahkan akan diusulkan menjadi Situs Warisan Dunia UNESCO. Lokasinya berada di kawasan Coral Triangle atau Segitiga Terumbu Karang, wilayah yang dikenal sebagai salah satu pusat keanekaragaman hayati laut terbesar di dunia.
Menurut Augy, konservasi Coelacanth bukan hanya bertujuan melindungi satu spesies langka. Lebih dari itu, kawasan tersebut berpotensi menjadi pusat riset, pendidikan, hingga ekowisata yang dapat memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pusat biodiversitas laut dunia.






Be First to Comment