Press "Enter" to skip to content
Ilustrasi manusia raksasa (Foto: Izzy Loney/Pixabay)

Temuan Fosil Kaki Manusia Raksasa, Benarkah Itu Jejak Nephilim yang Dikisahkan di Alkitab?

Di dalam Alkitab Perjanjian Lama, ada kisah tentang orang-orang raksasa yang dalam bahasa aslinya disebut Nephilim. Kisah tentang Nephilim ini mengemuka setelah ilmuwan menemukan fosil tulang-tulang kaki yang diduga adalah milik kelompok manusia purba yang disebut Denisovan. Fosil tulang paha dan tulang kering itu ditemukan di dasar laut di Selat Penghu di antara Taiwan dan daratan Tiongkok.

Analisis terhadap protein yang terawetkan di dalam tulang mengaitkan kedua spesimen tersebut dengan garis keturunan Denisovan, kelompok yang pernah mendiami wilayah yang luas di kawasan Asia Timur sekarang. Kelompok manusia Denisovan disebut terpisah dari garis keturunan Neanderthal sekitar 550.000 tahun yang lalu.

Tinggi di atas rata-rata manusia modern
Diperkirakan, individu pemilik tulang paha tersebut memiliki tinggi sekitar 180 cm dan bobot sekitar 83 kg. Sedangkan individu pemilik tulang kering tersebut mungkin memiliki tinggi sekitar sekitar 190 cm dan bobot sekitar 91 kg. Ukuran ini menunjukkan mereka jauh lebih tinggi daripada rata-rata manusia masa kini, yaitu sekitar 175 cm.

Tinggi yang di atas rata-rata ini mendorong peneliti independen Jimmy Corsetti berpendapat bahwa kelompok manusia Denisovan kemungkinan telah menginspirasi kisah tentang Nephilim, sosok manusia yang ditulis sebagai manusia raksasa di dalam Kitab Suci. Fakta bahwa fosil-fosil tersebut ditemukan di dasar laut juga memperkuat spekulasi yang mengaitkannya dengan kisah Air Bah.

Temuan tulang kaki manusia Denisovan (Foto: dok The University of Tokyo/Screenshot Daily Mail)

Raksasa dalam teks keagamaan
Cerita tentang Nephilim disebutkan dua kali dalam Perjanjian Lama: pertama dalam Kejadian 6:4, tak lama sebelum kisah tentang Banjir Besar, dan sekali lagi dalam Bilangan 13:33.

Mereka digambarkan secara lebih rinci dalam Bab 6 hingga 15 di Book of the Watchers (Kitab Para Penjaga), bagian pertama dari karya keagamaan kuno yang dikenal sebagai 1 Henokh.

Kisah tersebut menyebutkan bahwa para malaikat yang jatuh, yang disebut sebagai Watchers (Para Penjaga), mengambil istri dari kalangan manusia; istri-istri ini kemudian melahirkan raksasa-raksasa bertubuh sangat besar dan ganas yang membawa kekacauan serta pertumpahan darah ke Bumi.

Disebutkan pula bahwa pada akhirnya Allah menghukum para Watchers dan kaum raksasa tersebut, mendatangkan banjir besar untuk menyucikan dunia, serta menetapkan bahwa roh para raksasa yang telah mati akan tetap berada di Bumi sebagai roh jahat.

Tentang manusia Denisovan di mata ilmuwan
Tapi memang penelitian ilmiah terhadap tulang itu tidak menyajikan bukti yang mengaitkan kaum Denisovan dengan Nephilim atau peristiwa Air Bah alias banjir besar.

Para peneliti sendiri lebih berfokus pada informasi yang bisa digali dari tulang-tulang yang besar itu, mengenai bentuk fisik Denisovan yang sebelumnya tidak diketahui. Dalam studi yang dipimpin oleh tim dari Universitas Tokyo itu menyatakan bahwa populasi Denisovan di wilayah utara memiliki ukuran tubuh yang lebih besar dibandingkan Homo erectus terdahulu maupun Homo sapiens dari masa Pleistosen Akhir di Asia Timur.

Hal ini menantang anggapan umum bahwa manusia Homo pada masa Pleistosen mengikuti Aturan Bergmann, yang memprediksi bahwa populasi manusia yang hidup lebih dekat dengan khatulistiwa umumnya bertubuh lebih kecil dibandingkan mereka yang tinggal di iklim utara yang lebih dingin.

Dari ukurannya, para peneliti menduga pemilik tulang kaki itu adalah laki-laki. Perkiraan ukuran tubuh individu ini menempatkan mereka sebagai salah satu manusia purba terbesar yang pernah diketahui dari Zaman Es.

Denisovan dan cara hidupnya 

Denisovan diperkirakan memiliki tinggi badan 20 hingga 30 cm lebih tinggi dan berat badan 20 hingga 30 kg lebih berat dibandingkan individu Homo erectus yang hidup di Tiongkok utara sekitar 750.000 tahun yang lalu.

Temuan fosil Denisovan sebelumnya menunjukkan mereka memiliki otak besar, rahang yang kuat, dan gigi yang luar biasa besar. Fosil dari Penghu melengkapi gambaran tentang postur manusia Denisovan yang sangat besar dan kekar.

Bukti kimiawi dari tulang kering mengisyaratkan bahwa individu tersebut menjalani pola makan yang kaya akan daging, sementara temuan lain menunjukkan bahwa Denisovan berburu berbagai hewan, mulai dari kambing dan domba pegunungan hingga hewan herbivora dan karnivora berukuran besar.

Tim peneliti menduga bahwa tubuh yang besar dan kuat mungkin membantu Denisovan dalam mengejar mangsa menggunakan perangkat alat yang berbeda—dan mungkin kurang canggih—dibandingkan dengan yang digunakan oleh manusia modern awal.

Tulang paha mereka juga memiliki tonjolan tebal dan bersudut di bagian belakang, sebuah ciri yang lebih sering dikaitkan dengan manusia modern. Pada masyarakat pemburu-pengumpul makanan, ciri ini dikaitkan dengan aktivitas pergerakan yang intens di daratan. Hal ini mengindikasikan bahwa Denisovan Taiwan menjalani kehidupan dengan mobilitas tinggi, serupa dengan manusia modern awal.

Kemungkinan lain, Denisovan punya ciri tersebut melalui perkawinan silang dengan Homo sapiens, mengingat bukti genetik menunjukkan adanya pertukaran DNA antara kedua kelompok tersebut di Asia bagian selatan. Namun diperlukan lebih banyak fosil dan bukti genetik untuk menjelaskan ciri yang tidak biasa ini serta memastikan apakah postur tubuh yang besar tersebut merupakan karakteristik umum dalam populasi mereka.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

situs slot gacor

Mission News Theme by Compete Themes.
RPHOKI AGENHOKI CHUTOGEL agenhoki agenhoki.com Sbobet88