Press "Enter" to skip to content
Ilustrasi erupsi gunung berapi (StockSnap/Pixabay)

Jenazah Kru Kapal Jurnalis Ditemukan, BRIN Uji Ulang Model Arus Laut

Penemuan satu jenazah kru kapal jurnalis di Pulau Enggano, Bengkulu, pada 12 September 2026 memberi petunjuk baru bagi peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), untuk menguji kembali simulasi pergerakan benda hanyut di Selat Sunda dan Samudra Hindia.

Seperti diketahui, sebanyak lima jurnalis dan tiga kru kapal yang menumpangi KM Arupadhatu I dilaporkan hilang kontak di perairan Selat Sunda pada 7 September 2026 saat hendak meliput erupsi Gunung Anak Krakatau.

Data lapangan dari penemuan jenazah kru kapal itu kemudian digunakan untuk mengevaluasi model transpor partikel yang dipakai untuk memetakan kemungkinan pola hanyutan korban setelah kapal mengalami kecelakaan.

Hasil evaluasi menunjukkan kecocokan antara salah satu kelompok simulasi dan lokasi penemuan jenazah di Enggano. Namun, peneliti menegaskan bahwa model tersebut belum bisa menentukan lokasi korban secara pasti.

Peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer (PRIMA) BRIN, Widodo Setiyo Pranowo, mengatakan kecocokan paling jelas muncul pada skenario yang menggunakan koordinat lokasi hilang kontak berdasarkan informasi Bangka Pos dan TribunNews.

Dalam simulasi menggunakan metode Euler-Lagrangian particle transport, empat varian dalam kelompok skenario tersebut menempatkan partikel di sekitar Pulau Enggano pada 12 September 2026. Waktunya bertepatan dengan tanggal ditemukannya jenazah.

“Yang cocok adalah kelompok skenario dengan titik hilang kontak versi Bangka Pos. Dari hasil simulasi kami menggunakan Euler-Lagrangian particle transport, keempat variannya menempatkan korban di perairan Pulau Enggano tepat pada 12 September 2026,” kata Widodo dalam keterangannya.

Model tidak menunjukkan titik pasti

Kecocokan tersebut belum cukup untuk menyimpulkan bahwa model berhasil menemukan lokasi korban secara presisi.

Tim peneliti belum memiliki koordinat geografis persis tempat jenazah ditemukan. Karena itu, hasil simulasi baru menunjukkan kesesuaian pada skala kawasan Pulau Enggano.

Peneliti masih membutuhkan sejumlah data lapangan untuk mempersempit hasil perhitungan. Data itu antara lain posisi pantai tempat jenazah ditemukan, perkiraan waktu korban mencapai pantai, serta informasi apakah korban menggunakan rompi pelampung.

Informasi tersebut penting untuk melakukan back trace modeling, yakni penelusuran balik dari lokasi penemuan untuk memperkirakan jalur hanyutan sebelumnya.

Dengan data yang lebih lengkap, peneliti dapat menguji apakah jalur yang dihitung model konsisten dengan kondisi sebenarnya di laut.

BRIN ubah pembobotan skenario

Evaluasi ini juga menghasilkan temuan lain yang berkaitan dengan cara model menghitung pergerakan partikel.

Pada perhitungan ulang, skenario yang menggunakan data arus total dari Copernicus Marine Environment Monitoring Service (CMEMS) tanpa tambahan dorongan angin melalui formula leeway justru memberikan hasil yang lebih sesuai dengan temuan di lapangan.

Menurut Widodo, kondisi benda yang mengapung hampir rata dengan permukaan laut dapat memengaruhi seberapa besar angin mengubah arah pergerakannya.

Artinya, asumsi mengenai pengaruh angin tidak selalu menghasilkan simulasi yang lebih mendekati kondisi sebenarnya.

“Struktur modelnya tidak perlu diubah, bagian itu sudah teruji. Yang kami koreksi adalah bobot skenario, dari delapan skenario berbobot sama menjadi hanya empat skenario Bangka Pos. Kami juga mencoba satu rumus atau formula baru khusus jasad, tetapi rumus itu justru memberi hasil lebih buruk,” ujar Widodo.

Peneliti kemudian melakukan simulasi ulang untuk periode 7–21 September 2026 hingga pukul 23.00 WIB. Periode tersebut mencakup 14 hari sejak kejadian.

Simulasi terbaru memusatkan perhitungan pada koordinat versi Bangka Pos. Tim BRIN selanjutnya berencana memperpanjang simulasi hingga 5 Oktober 2026.

Sebaran peluang mengarah ke beberapa wilayah

Setelah pembobotan skenario diubah, hasil simulasi hingga hari ke-14 menunjukkan sebaran probabilitas di beberapa wilayah.

Sekitar 41 persen sebaran berada di Pulau Enggano dan kawasan sekitarnya. Sebanyak 10 persen berada di perairan lepas sebelah barat Bengkulu Selatan, sedangkan 43 persen lainnya mengarah ke Samudra Hindia di sebelah barat Bengkulu.

Secara kumulatif, sekitar 42 persen sebaran model telah berada dalam kondisi terdampar di pantai.

Angka-angka tersebut tidak menunjukkan lokasi korban secara individual. Sebaliknya, angka itu menggambarkan wilayah dengan peluang lebih besar berdasarkan kondisi arus dan parameter yang digunakan dalam simulasi.

Karena itu, hasil model tetap perlu dibaca bersama data lapangan. Semakin lengkap informasi mengenai kondisi korban dan lokasi penemuan, semakin presisi pula penelusuran balik yang dapat dilakukan.

Temuan Enggano menjadi uji lapangan bagi model

Bagi peneliti, penemuan jenazah di Enggano bukan hanya informasi mengenai lokasi korban. Temuan itu juga menjadi kesempatan untuk menguji apakah asumsi yang digunakan dalam model benar-benar sesuai dengan kondisi di laut.

Tim BRIN kini mengevaluasi kembali pembobotan skenario dan parameter yang digunakan dalam simulasi. Data dari lapangan akan menjadi masukan untuk perhitungan berikutnya.

Proses ini penting karena pergerakan benda hanyut di laut tidak hanya dipengaruhi oleh arus. Kondisi benda yang mengapung, pengaruh angin, waktu, serta karakteristik perairan juga dapat mengubah jalur yang ditempuh.

Dengan demikian, simulasi transpor partikel dapat digunakan bukan sebagai penunjuk lokasi pasti, melainkan sebagai alat ilmiah untuk memperkirakan pola pergerakan dan mempersempit wilayah pencarian berdasarkan kondisi oseanografi yang diketahui.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

situs slot gacor

Mission News Theme by Compete Themes.
RPHOKI AGENHOKI CHUTOGEL agenhoki agenhoki.com Sbobet88