Bayangkan bekerja dari sebuah kafe di Bangkok pada pagi hari, lalu menikmati kuliner dan suasana kota pada sore harinya. Bagi semakin banyak pekerja, pola seperti ini bukan lagi sekadar impian. Tren workcation, atau bekerja sambil berlibur, semakin berkembang seiring perusahaan memberikan fleksibilitas untuk bekerja dari mana saja.
Bangkok kini bahkan dinobatkan sebagai kota terbaik di dunia untuk workcation 2026, menurut indeks tahunan Work from Anywhere yang dirilis IWG. Tokyo dan Barcelona masing-masing menempati posisi kedua dan ketiga. Sayang tak ada satu pun kota dari Indonesia dalam daftar 10 kota terbaik itu.
Dalam indeks IWG 2026, kota-kota dunia dinilai berdasarkan sejumlah faktor, mulai dari iklim, kualitas koneksi broadband, akomodasi, transportasi, budaya, kuliner, hingga ketersediaan ruang kerja fleksibel.
10 Kota Terbaik untuk Workcation 2026
Berikut daftar 10 kota yang dinilai paling mendukung gaya hidup bekerja sambil bepergian:
1. Bangkok
2. Tokyo
3. Barcelona
4. Porto
5. Vancouver
6. Budapest
7. Naples
8. Medellin
9. Lisbon
10. Seoul
Bangkok menjadi sorotan utama karena menawarkan kombinasi antara biaya yang relatif terjangkau, konektivitas, transportasi, serta daya tarik budaya dan kuliner. Menariknya, daftar tersebut memperlihatkan bahwa kota ideal untuk workcation tidak cukup hanya memiliki destinasi wisata yang menarik. Internet cepat dan stabil, akses transportasi, akomodasi, serta ruang kerja profesional kini menjadi bagian dari pengalaman perjalanan.
Hampir Separuh Pekerja Ingin Memperpanjang Liburan
Perubahan tersebut berjalan beriringan dengan semakin luasnya penerapan kebijakan WFA. Riset terbaru IWG menunjukkan 51% pekerja mengatakan perusahaan mereka telah menerapkan kebijakan bekerja dari mana saja. Bagi pekerja, fleksibilitas tersebut membawa sejumlah manfaat.
Sebanyak 90% responden mengatakan WFA meningkatkan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, sedangkan 80% menyebut produktivitas mereka ikut meningkat.
Dampaknya bahkan mulai terlihat dalam cara orang merencanakan perjalanan. Hampir separuh atau 48% responden berencana memperpanjang masa liburan pada 2026 dengan tetap bekerja secara jarak jauh. Sebanyak 46% mengatakan mereka lebih terdorong melakukan hal tersebut dibandingkan tahun sebelumnya.
Tren ini bukan sekadar rencana. Sebanyak 43% pekerja mengaku pernah bekerja dari lokasi liburan tanpa menggunakan jatah cuti tahunan.
Artinya, batas antara “waktu bekerja” dan “waktu berlibur” mulai menjadi lebih fleksibel.
WFA Mulai Mempengaruhi Pilihan Pekerjaan
Fleksibilitas bekerja dari mana saja juga tidak lagi sekadar fasilitas tambahan bagi karyawan. Kebijakan tersebut mulai menjadi salah satu pertimbangan dalam memilih pekerjaan. Sebanyak 80% responden mengatakan kebijakan WFA membuat tawaran pekerjaan baru menjadi lebih menarik. Bahkan, 62% menyatakan mereka bersedia mempertimbangkan pindah pekerjaan untuk mendapatkan fleksibilitas WFA yang lebih baik.
Bagi perusahaan, temuan ini menunjukkan bahwa fleksibilitas kerja berpotensi menjadi bagian penting dari strategi perekrutan dan retensi karyawan.
Dengan kata lain, perusahaan tidak hanya bersaing menawarkan gaji dan jenjang karier. Kemampuan memberikan fleksibilitas mengenai di mana dan bagaimana karyawan bekerja, juga semakin diperhitungkan.
Bukan Sekadar Liburan, Workcation Jadi Cara Menjaga Keseimbangan Hidup
Ada sejumlah alasan yang mendorong pekerja memilih bekerja sambil memperpanjang perjalanan.
Sebanyak 54% responden menyebut keinginan menghindari kelelahan dan menjaga kesejahteraan sebagai alasan utama. Berikutnya, 53% ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersama keluarga dan teman, sementara 52% ingin memaksimalkan jatah cuti tahunan.
Faktor biaya juga memainkan peran. Sebanyak 51% responden mengatakan biaya hidup mendorong mereka memanfaatkan pola kerja hybrid atau WFA untuk memperpanjang masa liburan.
Hal ini menunjukkan bahwa workcation bukan semata-mata tentang bekerja dari tempat eksotis. Bagi pekerja, fleksibilitas tersebut juga berkaitan dengan kesejahteraan, waktu bersama orang terdekat, efisiensi biaya, dan kualitas hidup.
Wi-Fi Lebih Penting daripada Makanan dan Transportasi
Lantas, apa yang paling dicari pekerja ketika memilih destinasi workcation? Jawabannya cukup jelas: konektivitas.
Sebanyak 38% responden menyebut koneksi Wi-Fi yang andal sebagai faktor utama ketika memilih lokasi untuk bekerja sambil bepergian. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan responden yang memilih kualitas akomodasi, makanan, dan transportasi sebagai faktor utama, yakni 12%.
Biaya juga menjadi pertimbangan besar. Sebanyak 46% responden mengatakan biaya perjalanan dan akomodasi yang lebih murah akan mendorong mereka memperpanjang perjalanan sambil tetap bekerja.
Karena itu, destinasi workcation masa kini harus mampu menawarkan kombinasi antara internet yang stabil, tempat tinggal yang nyaman, ruang kerja fleksibel, biaya yang masuk akal, serta pengalaman wisata.
Pekerja Masih Membutuhkan “Lampu Hijau” dari Perusahaan
Meski semakin banyak pekerja tertarik bekerja dari destinasi wisata, ada satu persoalan yang belum sepenuhnya terjawab: apakah perusahaan benar-benar mengizinkannya? Riset IWG menunjukkan pekerja masih membutuhkan panduan yang lebih jelas mengenai aturan bekerja dari lokasi lain.
Sebanyak 44% responden mengatakan mereka akan lebih termotivasi melakukan WFA saat bepergian jika yakin hal tersebut tidak memengaruhi penilaian kinerja mereka. Sementara itu, 39% menginginkan panduan yang lebih jelas dari perusahaan.
Ini menunjukkan bahwa teknologi saja tidak cukup. Perusahaan juga perlu memiliki kebijakan yang jelas mengenai keamanan data, jam kerja, ekspektasi kinerja, hingga lokasi yang diperbolehkan untuk bekerja.
Mark Dixon, Executive Chairman and Founder of IWG, mengatakan semakin banyak pekerja yang memanfaatkan fleksibilitas kerja untuk memperpanjang perjalanan atau menghabiskan waktu lebih lama di luar negeri.
Menurutnya, perkembangan teknologi cloud dan sistem kerja hybrid memberikan kebebasan bagi karyawan untuk bekerja dari berbagai lokasi, termasuk ruang kerja fleksibel dan pusat coworking di berbagai negara.
Dixon menilai tren tersebut akan terus berkembang seiring semakin banyak perusahaan menerapkan kebijakan kerja fleksibel dan WFA dalam jangka panjang, termasuk selama periode liburan.





Be First to Comment