Situs arkeologi Bongal di Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, ternyata menyimpan jejak peradaban kuno yang penting dalam sejarah Nusantara. Situs ini menjadi salah satu tempat penelitian yang penting sejak ditemukannya sejumlah artefak dan data arkeologis, pada 2001 lalu.
Berbagai temuan menunjukkan bahwa situs di pantai barat Sumatera tersebut ternyata tidak hanya berusia tua, yaitu dari abad ke-7 hingga ke-10 M, namun juga memiliki nilai penting dalam sejarah Nusantara.
Beberapa artefak yang ditemukan di situs Bongal adalah koin-koin emas dari era Kekhalifahan Umayyah dan Abbasiyah, serta pecahan keramik dari masa Dinasti Tang di Cina.
Penemuan situs Bongal diawali dari sebuah survei arkeologis yang dilakukan oleh arkeolog senior Dr. Ery Soedewo, dari Pusat Riset Arkeologi Lingkungan, Maritim dan Budaya Berkelanjutan BRIN, di Kotamadya Sibolga dan Kabupaten Tapanulis Tengah, pada 2001.
“Waktu melakukan survei itu kami dapat informasi dari masyarakat di Desa Jago-jago bahwa di suatu perbukitan di wilayah Desa Jago Jago itu mereka pernah melihat secara langsung ada arca,” jelas dalam sebuah wawancara.
Hal ini jadi menarik karena sejauh ini dalam bayangan Ery kalau arca atau patung patung kawasan budaya Batak di Tapanuli itu biasanya patung-patung pangulu balang.
Berkat panduan dari masyarakat, Ery menemukan arca Ganesa yang sudah tak utuh. Bagian kepala dan sandaran sebagian sudah hilang. Namun, beberapa ciri yang ditemukan pada arca mengindikasikan bahwa itu adalah arca Dewa Ganesa.
Arca tersebut diperkirakan berasal dari abad ke-9 dan ke-10 Masehi.
Lalu pada survei dan penelitian mendalam yang dilakukan pada 2019 di situs tersebut, para peneliti justru menemukan artefak-artefak yang berusia lebih tua dan dari latar budaya yang berbeda. Artefak-artefak tersebut kebanyakan sudah berada di tangan masyarakat, seperti pecahan-pecahan keramik, gerabah, manik-manik, dan koin-koin.
Salah satu jenis koin diidentifikasi berasal dari masa Dinasti Abbasiah, yang berarti sekitar abad ke-9 Masehi. Lalu ada juga koin dari masa Dinasti Umayyah yang berarti menunjukkan situs Bongal lebih tua lagi. Hal ini kemudian dikonfirmasi lagi oleh temuan keramik berbentuk bunga-bunga Dinasti Tang dari Cina abad 7-10 Masehi.
“Hal yang menarik juga dari temuan masyarakat itu mereka menemukan papan-papan, setelah kami cek adalah papan perahu kuno. Salah satu di antara papan itu ternyata ada tulisannya, dan setelah saya baca itu karakter aksara Palawa Granta. Kalau tinjauan paleografisnya itu dari abad ke 7 juga, ada juga keramik warna hijau dari Persia abad 7 sampai 10,” tukas Ery.
Di Bongal juga ditemukan ecofaktual seperti gading, juga hanjeli berupa biji-bijian. Termasuk penemuan biji pala. Pala ini pada zaman kuno identik dengan produk dari Kepulauan Maluku, kawasan yang jauh sekali dari daerah tersebut.
“Keunikan Situl Bongal, adalah tanahnya mengandung emas dijuluki sebagai Pulau Emas atau dalam Bahasa Sansekerta disebut Suarna Dwipa. Di samping itu juga keberadaan aneka pohon penghasil getak resin. Dari hasil identifikasi jenis-jenis getah resin yang ditemukan dari hasil galian ekskavasi, Bongal memiliki komoditas utama antara lain kafur, kemenyan, dan getah damar,” pungkas Ery.






Be First to Comment