Press "Enter" to skip to content
Ilustrasi bahtera Nuh (foto: Jeff Jacobs /Pixabay)

Temuan Fosil Laut di Puncak Gunung, Bukti Air Bah Nabi Nuh?

Sebagian orang cuma tahu dua hal tentang gunung: tinggi, dan biasanya dingin. Tapi ada satu fakta yang sering bikin orang berhenti sejenak dan mikir ulang tentang sejarah Bumi. Bahwa di puncak gunung tertinggi di dunia, para ilmuwan menemukan… fosil makhluk laut.

Ya, fosil laut. Kerang, sisa-sisa hewan bercangkang, bahkan organisme laut purba. Semuanya terkubur di batuan yang sekarang berada ribuan meter di atas permukaan laut.

Dilansir dari Daily Mail, baru-baru ini, topik lama itu muncul lagi setelah sebuah video viral di internet. Dalam video tersebut, sekelompok pendaki di Pegunungan Guadalupe, yakni rangkaian gunung yang membentang di Texas barat hingga New Mexico, memungut batu dari tanah dan menemukan sesuatu yang tak mereka duga: kerang laut yang sudah membatu.

Video itu ditonton lebih dari tujuh juta kali. Dan seperti yang sering terjadi di internet, temuan ilmiah sederhana tiba-tiba berubah menjadi perdebatan besar.

Sebagian orang langsung mengaitkannya dengan kisah Air Bah Nabi Nuh yang diceritakan dalam Kitab Kejadian di Alkitab. Dalam kisah itu, Tuhan mengirim banjir besar untuk membersihkan dunia dari kekerasan dan kerusakan moral manusia. Nuh diperintahkan membangun bahtera raksasa untuk menyelamatkan keluarganya, serta sepasang dari setiap jenis hewan.

Tapi di sisi lain, banyak orang juga mengingatkan: fosil laut di gunung sebenarnya bukan hal baru dalam geologi. Justru sebaliknya, ini salah satu bukti paling klasik tentang bagaimana Bumi berubah selama jutaan tahun.

Dari dasar laut… ke puncak gunung

Untuk memahami cerita ini, kita harus mundur jauh. Sangat jauh.

Ratusan juta tahun lalu, banyak wilayah yang sekarang menjadi daratan tinggi sebenarnya adalah dasar laut. Di sana hidup berbagai makhluk laut: kerang, koral, bulu babi laut, dan organisme kecil lainnya.

Ketika mereka mati, cangkangnya jatuh ke dasar laut. Lapisan demi lapisan sedimen menutupinya. Seiring waktu, jutaan tahun, sedimen itu mengeras menjadi batu.

Cangkang yang terkubur di dalamnya berubah menjadi fosil.

Sampai di sini ceritanya masih biasa saja. Tapi Bumi tidak pernah benar-benar diam.

Planet ini terus bergerak pelan, digerakkan oleh lempeng tektonik, potongan besar kerak Bumi yang perlahan saling bertabrakan, saling menjauh, atau saling menyusup.

Ketika dua benua bertabrakan, kerak Bumi bisa terlipat dan terdorong ke atas. Dasar laut purba ikut terangkat. Batu-batu yang dulu berada jauh di bawah air akhirnya naik ribuan meter ke udara.

Lama-kelamaan terbentuklah sesuatu yang kita kenal sekarang sebagai… gunung.

Gunung yang dulu laut

Contohnya banyak sekali. Pegunungan Guadalupe, tempat video viral itu direkam, dulunya berada di bawah laut dangkal bernama Delaware Sea. Jutaan tahun lalu, laut ini dipenuhi kehidupan, kerang, bulu babi laut, dan berbagai organisme bercangkang lainnya.

Ketika laut menghilang dan kerak Bumi terangkat, dasar laut itu berubah menjadi gunung yang sekarang menjulang di perbatasan Texas dan New Mexico.

Fenomena serupa terjadi di banyak tempat lain. Di Himalaya, misalnya, para ilmuwan menemukan fosil laut di dekat puncak Gunung Everest. Fosil tersebut tertanam dalam batuan yang disebut Qomolangma Limestone, terbentuk sekitar 450 juta tahun lalu di dasar Samudra Tethys purba.

Lalu lempeng India menabrak lempeng Eurasia. Dasar laut itu terlipat dan terdorong ke atas—menciptakan Himalaya, rangkaian gunung tertinggi di dunia.

Cerita yang sama juga bisa ditemukan di Pegunungan Andes di Amerika Selatan, Rocky Mountains di Amerika Utara, bahkan Pegunungan Appalachia yang termasuk salah satu yang tertua di Bumi.

Di Amerika Utara sendiri, dulu pernah ada laut pedalaman raksasa yang disebut Western Interior Seaway. Laut ini membelah benua menjadi dua bagian jutaan tahun lalu. Ketika airnya surut, yang tertinggal adalah lapisan sedimen dan fosil makhluk laut—yang sekarang menjadi bagian dari pegunungan.

Bahkan Antarktika pun menyimpan jejak masa lalu yang sama. Fosil laut ditemukan di Pegunungan Transantarctic, menunjukkan bahwa wilayah yang sekarang tertutup es itu pernah memiliki lingkungan laut.

Banjir besar atau geologi?

Perdebatan tentang banjir besar memang sudah berlangsung lama. Banyak budaya di dunia memiliki cerita tentang air bah besar yang menenggelamkan peradaban.

Namun bagi para geolog, fosil laut di gunung bukan bukti banjir global mendadak. Sebaliknya, itu adalah catatan panjang perubahan Bumi yang berlangsung sangat lambat, jutaan hingga ratusan juta tahun.

Batu menyimpan sejarah itu dengan sabar. Lapisan demi lapisan, seperti halaman buku yang sangat tua.

Dan kadang, ketika seseorang memungut batu di gunung, halaman itu terbuka sedikit. Memperlihatkan bahwa tempat yang sekarang berdiri tinggi di langit pernah menjadi dasar laut.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mission News Theme by Compete Themes.