Press "Enter" to skip to content
Piramida Agung Giza (Foto: DEZALB/Pixabay)

Teori Baru Ungkap Kemungkinan Cara Piramida Agung Giza Dibangun

Selama puluhan tahun, satu pertanyaan klasik terus menghantui dunia arkeologi: bagaimana manusia ribuan tahun lalu bisa membangun Piramida Agung tanpa teknologi modern?

Piramida milik Khufu di Giza ini bukan bangunan biasa. Tingginya dulu mencapai sekitar 146 meter, dengan panjang sisi dasar sekitar 230 meter. Yang lebih mencengangkan, strukturnya tersusun dari sekitar 2,3 juta blok batu, di mana beberapa di antaranya berbobot hingga 15 ton.

Dan sampai sekarang, tidak ada catatan tertulis yang benar-benar menjelaskan bagaimana semua itu dilakukan.

Dilansir dari Daily Mail, sebuah studi terbaru yang dipublikasikan di jurnal NPJ Heritage Science mencoba memberi jawaban yang cukup menarik. Peneliti Vicente Luis Rosell Roig mengusulkan bahwa piramida ini kemungkinan dibangun menggunakan jalur spiral tersembunyi di dalam struktur itu sendiri. Bukan ramp raksasa di luar seperti yang selama ini sering dibayangkan.

Bayangkan begini: para pekerja membangun semacam jalur miring di sepanjang sisi luar piramida. Tapi jalur itu tidak dibiarkan terbuka. Setiap kali lapisan batu baru ditambahkan, bagian ramp tadi ditutup kembali dengan batu. Hasil akhirnya? Jalur tersebut “menghilang” di dalam struktur.

Menurut simulasi komputer yang dibuat dalam studi ini, proses pembangunan bisa berlangsung cukup ‘ritmis’. Blok batu dipasang setiap 4 sampai 6 menit. Kedengarannya cepat. Tapi kalau konsisten, angka itu masuk akal. Dengan kecepatan seperti itu, pembangunan inti piramida bisa selesai dalam waktu sekitar 14 hingga 21 tahun.

Kalau ditambah proses lain seperti penambangan, pengangkutan lewat Sungai Nil, dan jeda kerja, total waktunya diperkirakan 20–27 tahun. Menariknya, ini sejalan dengan perkiraan para sejarawan selama ini.

Satu hal penting adalah bahwa orang Mesir Kuno tidak punya besi, roda untuk angkut berat, atau sistem katrol kompleks. Tapi mereka punya pahat tembaga, kereta luncur (sledges) yang dilumasi air, tali dan tuas, serta transportasi lewat Sungai Nil.

Dengan kombinasi itu, ditambah sistem ramp internal, pekerjaan besar ini jadi jauh lebih masuk akal.

Beberapa tahun terakhir, teknologi pemindaian menemukan ruang-ruang kosong di dalam piramida yang belum terjelaskan. Nah, teori ini memberi kemungkinan baru.

Ruang-ruang itu bisa jadi bukan rongga misterius, melainkan sisa dari jalur ramp yang dulu dipakai saat konstruksi. Dengan kata lain, jejak metode pembangunan itu mungkin masih ada, tersembunyi di dalam.

Yang menarik dari penelitian ini, bukan cuma idenya. Model yang dibuat juga menghasilkan prediksi yang bisa diuji di lapangan. Misalnya, pola batu yang ditutup kembali (edge-fill signatures) dan jejak keausan di sudut akibat lalu lintas material berat.

Kalau bukti-bukti ini ditemukan, teori ini bisa naik level dari sekadar hipotesis menjadi penjelasan yang lebih solid.

Selama ini, banyak orang menganggap Piramida Agung sebagai hasil kerja brute force, tenaga besar-besaran. Tapi studi ini menunjukkan kemungkinan lain. Bahwa yang membuatnya berdiri bukan cuma tenaga, tapi perencanaan logistik yang presisi, pemahaman geometri, dan teknik konstruksi yang cerdas.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mission News Theme by Compete Themes.