Press "Enter" to skip to content
Kuda laut (foto: commons.wikimedia.org/screenshot)

Bukan Mitos Laut, Ini Fakta: 8 Spesies Kuda Laut Indonesia Sudah Masuk Perdagangan Global

Selama ini banyak orang mengira kuda laut hanyalah penghuni kecil terumbu karang yang jarang tersentuh manusia. Bentuknya unik, gerakannya lambat, dan sering dianggap sekadar bagian eksotis dari ekosistem laut tropis. Tapi riset terbaru menunjukkan cerita yang jauh lebih rumit dan cukup mengkhawatirkan.

Di Indonesia, delapan dari 13 spesies kuda laut yang hidup di alam ternyata sudah masuk dalam rantai perdagangan. Temuan itu dipaparkan dalam sebuah lokakarya, baru-baru ini, di Jakarta.

Tim peneliti menemukan bahwa spesies seperti Hippocampus histrix, H. barbouri, H. comes, H. mohnikei, hingga H. trimaculatus kini ikut diperdagangkan di berbagai wilayah Indonesia. Dari seluruh spesies itu, H. trimaculatus menjadi yang paling banyak ditemukan di Kalimantan, Sumatra, dan Jawa.

Yang membuat para peneliti cukup terkejut justru kemunculan Hippocampus mohnikei. Sebelumnya, spesies ini secara global lebih dikenal hidup di kawasan Selat Malaka. Namun dalam survei terbaru, tim menemukan spesimen dan laporan keberadaannya dari nelayan di Madura. “Ini merupakan kejadian baru bagi Indonesia,” kata Muthya Farah dari Project Seahorse.

Yang menarik, perdagangan kuda laut di Indonesia ternyata tidak selalu berasal dari penangkapan khusus. Banyak nelayan awalnya mendapatkan hewan ini secara tidak sengaja sebagai bycatch atau tangkapan sampingan. Namun karena memiliki nilai ekonomi, kuda laut kemudian ikut dijual.

Di beberapa daerah, fenomenanya bahkan sudah menjadi bagian dari budaya ekonomi lokal. Di Tegal misalnya, kuda laut dikenal sebagai “tabungan rekreasi” bagi nelayan, dijual ketika membutuhkan tambahan uang.

Penelitian ini melibatkan 343 responden dari berbagai kelompok, mulai dari nelayan, pengepul, pedagang, pembudidaya, penyelam wisata, hingga masyarakat pesisir. Survei dilakukan sepanjang Mei hingga September 2025, lalu diperluas ke Aceh dan Sumatra Barat pada awal 2026.

Para peneliti mencoba memetakan bagaimana sebenarnya pola penangkapan dan perdagangan kuda laut berlangsung di Indonesia. Mereka juga menemukan bahwa beberapa wilayah seperti Batam, Bintan, dan Kepulauan Riau sudah menjadi area target tangkapan utama karena memiliki kuota penangkapan tertentu.

Namun persoalannya bukan sekadar perdagangan.

Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Sistem Biota BRIN, Masayu Rahmia Anwar Putri, mengatakan Indonesia masih membutuhkan baseline nasional yang kuat untuk mengetahui kondisi nyata populasi kuda laut di perairannya sendiri.

Menurutnya, status konservasi global tidak selalu mencerminkan kondisi spesies di Indonesia.

“Kita harus memiliki baseline sendiri. Bisa jadi secara global spesies dinyatakan kritis, tetapi di Indonesia sumber dayanya masih ada dan dapat dibuktikan,” ujarnya.

Masayu juga menyoroti pentingnya kajian Non-Detriment Finding (NDF), yaitu evaluasi ilmiah untuk memastikan perdagangan tidak mengancam kelestarian populasi di alam. Dari delapan spesies yang saat ini masuk perdagangan, baru dua yang memiliki kajian NDF final.

Artinya, sebagian besar perdagangan kuda laut Indonesia sebenarnya masih membutuhkan validasi ilmiah lebih lanjut agar dapat dipertanggungjawabkan secara konservasi maupun perdagangan internasional.

Masalah lainnya ada di tingkat masyarakat. Banyak nelayan dan warga pesisir ternyata belum memahami aturan perlindungan kuda laut.

“Banyak masyarakat baru mengetahui adanya pembatasan ketika ada penindakan. Artinya, sosialisasi belum optimal,” kata Masayu.

Karena itu, BRIN bersama para peneliti berencana memperkuat Rencana Aksi Nasional (RAN) kuda laut Indonesia. Fokusnya bukan hanya pada penelitian, tetapi juga edukasi, pelatihan identifikasi spesies, dan peningkatan kapasitas masyarakat pesisir.

Sebab di balik tubuh kecil dan bentuknya yang unik, kuda laut ternyata sedang berada di persimpangan besar: antara nilai ekonomi, perdagangan global, dan ancaman terhadap kelestariannya di alam liar.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mission News Theme by Compete Themes.