Press "Enter" to skip to content
Ilustrasi bunga bangkai (foto: commons.wikimedia.org/PublicDomain

Bunga Bangkai Terancam Punah, BRIN Siapkan Bank Polen untuk Jaga Keragaman Genetik

Bunga bangkai raksasa (Amorphophallus titanum) punya cara hidup yang tidak biasa. Tanaman endemik Sumatera ini tidak hanya membutuhkan waktu panjang untuk tumbuh, tetapi juga memiliki mekanisme pembungaan yang membuat proses perkawinannya cukup rumit.

Kondisi itu menjadi tantangan tersendiri bagi upaya konservasi. Menyelamatkan bunga bangkai dari kepunahan ternyata bukan sekadar memperbanyak jumlah tanaman. Para peneliti juga harus memastikan tanaman yang dihasilkan memiliki keragaman genetik yang cukup agar populasinya tetap sehat dalam jangka panjang.

Karena itu, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mulai memfokuskan program konservasi bunga bangkai pada studi keanekaragaman genetik dan pengembangan bank polen pada 2026.

Pelaksana Fungsi Pemrosesan Koleksi Ilmiah Hayati Hidup – KKI Kebun Raya Cibodas BRIN, Destri, mengatakan Kebun Raya Cibodas ditunjuk sebagai institusi pelaksana konservasi ex situ bagi tumbuhan Indonesia, terutama flora yang masuk kategori endangered atau terancam punah dalam Daftar Merah International Union for Conservation of Nature (IUCN).

Masalahnya, bibit bunga bangkai yang selama ini berhasil dihasilkan masih berasal dari tanaman yang memiliki hubungan kekerabatan dekat atau sibling. Jika kondisi tersebut terus berlangsung, persilangan antarkerabat dekat dapat mengurangi variasi genetik dalam koleksi.

Di sinilah bank polen menjadi penting.

Melalui fasilitas tersebut, polen dari populasi bunga bangkai yang lokasinya berjauhan dapat disimpan dan digunakan untuk persilangan dengan tanaman dari populasi lain. Polen dari Aceh, misalnya, dapat digunakan untuk membuahi koleksi bunga bangkai yang tumbuh di Jawa.

Pollen banking ini sangat penting untuk mencegah persilangan antar kerabat dekat. Dengan menyimulasikan jarak populasi yang jauh, maka kita akan bisa memiliki koleksi-koleksi dengan variasi genetik yang tinggi,” kata Destri dalam keterangannya, kemarin.

Program ini tidak dikerjakan oleh satu tim saja. Konservasi bunga bangkai melibatkan kolaborasi sejumlah pusat riset di lingkungan BRIN, yakni Pusat Riset Sistem Biota (PRSB), Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi (PRBE), Pusat Riset Botani Terapan (PRBT), serta Direktorat Pengelolaan Koleksi Ilmiah (DPKI). Tim juga bekerja sama dengan peneliti dari Chicago Botanic Garden yang sekaligus memberikan dukungan pendanaan untuk proyek tersebut.

Bunga betina dan jantan tidak matang bersamaan

Tantangan lain datang dari biologi bunga bangkai itu sendiri.

Pada tanaman ini, bunga betina matang lebih dulu. Tandanya cukup mencolok: munculnya bau seperti bangkai yang menjadi asal nama tanaman tersebut.

Bunga jantan baru melepaskan serbuk sarinya pada hari berikutnya. Saat itu, bunga betina sudah menutup sehingga serbuk sari yang jatuh ke bagian bunga sendiri tidak dapat menghasilkan pembuahan.

Mekanisme tersebut secara alami membantu mencegah penyerbukan sendiri. Namun, bagi peneliti yang ingin memperbanyak tanaman melalui konservasi ex situ, kondisi ini membuat proses persilangan menjadi lebih rumit.

Solusinya adalah melakukan polinasi secara manual.

Polen yang dipanen dari tanaman yang berbunga pada tahun sebelumnya disimpan di dalam freezer menggunakan aluminium foil. Ketika tanaman lain mulai berbunga, polen tersebut dikeluarkan untuk digunakan dalam proses persilangan.

“Karenanya, kita melakukan polinasi buatan. Polen yang kita panen dari tanaman tahun sebelumnya disimpan di freezer pakai alumunium foil. Sebulan kemudian waktu ada bunga mekar berikutnya, kita kawinkan,” ujar Destri.

Persilangan tertutup juga memiliki risiko lain. Kondisi lembap dapat memicu pertumbuhan jamur yang berpotensi merusak proses pembuahan. Untuk mengatasinya, tim secara rutin menyemprotkan cairan antijamur dan antibakteri pada pagi hari.

Teknik tersebut berhasil menghasilkan buah dan biji. Sekitar tiga bulan kemudian, biji dapat berkecambah menjadi bibit baru dengan menggunakan media kompos.

Pernah tumbuh hingga 3,7 meter

Upaya konservasi di Kebun Raya Cibodas tidak hanya menghasilkan generasi baru. Salah satu spesimen Amorphophallus titanum bahkan pernah mencatat ukuran yang disebut melampaui rekor dunia.

Pada 2016, spesimen tersebut mekar dengan tinggi mencapai 3,7 meter, diukur dari tangkai daun. Menurut Destri, ukuran itu melampaui rekor tertinggi yang tercatat dalam Guinness Book of Records, yakni 3,1 meter.

Tanaman tersebut juga menunjukkan kemampuan berbunga yang cukup menarik. Setelah seharusnya kembali berbunga pada 2020, tanaman justru kembali berbunga pada 2017 dengan tinggi 3,4 meter. Pada 2020, tanaman itu kemudian kembali berbunga secara normal.

“Tanaman ini seharusnya berbunga lagi tahun 2020, tapi dia berbunga di tahun 2017 dan masih tinggi 3,4 meter. Kemudian tahun 2020 dia secara normal berbunga lagi,” kata Destri.

Mempertahankan tanaman sebesar itu tentu bukan perkara mudah. Tim harus menghadapi berbagai persoalan di lapangan, termasuk serangan babi yang dapat merusak tanaman. Untuk mengatasinya, area konservasi dipasangi pagar kawat agar babi tidak dapat masuk.

Masalah lainnya justru bisa datang dari dalam tanah dan sulit diketahui sejak awal. Umbi bunga bangkai rentan mengalami pembusukan tanpa menunjukkan tanda yang mudah terlihat di permukaan.

Karena itu, konservasi Amorphophallus titanum di Kebun Raya Cibodas tidak berhenti pada upaya menjaga agar tanaman tetap hidup dan kembali berbunga. Tantangannya lebih panjang: memastikan tanaman yang diselamatkan tetap memiliki keragaman genetik, mampu berkembang biak, dan pada akhirnya dapat menjadi cadangan populasi bagi salah satu flora khas Sumatera yang semakin terancam.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

situs slot gacor

Mission News Theme by Compete Themes.
RPHOKI AGENHOKI CHUTOGEL agenhoki agenhoki.com Sbobet88