Press "Enter" to skip to content
Ilustrasi gempa bumi (Foto: Paul/ Pixabay)

Kekuatannya Sama, Mengapa Gempa di NTT Tahun Ini Tak Timbulkan Tsunami Seburuk 1992?

Gempa berkekuatan Mw 7,7 melanda wilayah utara Flores, NTT, pada 15 Agustus 2026. Gempa ini berpusat di sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Nagekeo, dengan kedalaman sekitar 15 kilometer. Gempa ini menimbulkan kerusakan cukup luas dan puluhan korban jiwa. Sementara, peringatan dini tsunami sempat dikeluarkan dan kemudian diakhiri setelah hasil pemantauan menunjukkan tsunami yang relatif kecil.

Gempa dengan kekuatan kurang lebih sama pernah terjadi 12 Desember 1992. Tapi tsunami yang disebabkan gempa ini sangat dahsyat dan merusak. Periset Pusat Riset Teknologi Hidrodinamika Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Widjo Kongko, mengatakan saat itu magnitudonya hampir sama, sekitar Mw 7,7–7,8. Tetapi tsunaminya menyebabkan run-up hingga 26,2 meter di Riangkroko, ujung timur laut Flores, dan menimbulkan ribuan korban jiwa.

Mengapa gempa dengan kekuatan hampir sama menghasilkan efek tsunami yang berbeda?

Widjo mengatakan kuncinya bukan hanya pada besar gempa, tetapi pada bagaimana dasar laut bergerak ketika patahan mengalami rupture. “Tsunami terjadi ketika perpindahan dasar laut mengganggu kolom air di atasnya. Karena itu, lokasi sumber, mekanisme patahan, arah dan besarnya slip, kedalaman, serta bentuk dasar laut dan pantai ikut menentukan besar kecilnya tsunami,” ujarnya, dalam keterangan.

Widjo mengatakan Flores berada pada sistem Flores Back-Arc Thrust, zona tektonik aktif akibat interaksi Lempeng Australia dan Eurasia. Gempa 1992 terjadi sangat dekat dengan pantai dan menghasilkan deformasi dasar laut yang efektif membangkitkan tsunami.

Namun, ada satu hal menarik. Model tsunami yang hanya menggunakan deformasi akibat patahan dapat menjelaskan banyak hasil pengamatan, tetapi tidak mampu mereproduksi run-up ekstrem 26,2 meter di Riangkroko.

Widjo menjelaskan, di sinilah dugaan mengenai longsoran bawah laut yang dipicu gempa menjadi penting. Penelitian terdahulu menunjukkan adanya indikasi longsoran di beberapa lokasi dan memperlihatkan bahwa kombinasi deformasi tektonik, longsoran, serta kondisi batimetri yang curam dapat memperkuat tsunami secara lokal.

“Dengan demikian, angka 26,2 meter di Riangkroko tidak seharusnya dianggap semata-mata sebagai akibat langsung dari magnitudo gempa,” ucapnya.

Bagaimana dengan 2026?

Meskipun magnitudonya kembali mencapai Mw 7,7, hasil pemodelan awal menunjukkan tsunami yang ditimbulkan relatif kecil. Pemodelan sumber gempa ini menggunakan finite-fault model dari United States Geological Survey (USGS), yaitu model yang menggambarkan sumber gempa dan bidang sesarnya secara lebih rinci.

Selanjutnya, perambatan gelombang tsunami dimodelkan menggunakan Model TUN3-BRIN untuk melihat bagaimana tsunami menjalar dari sumber gempa menuju wilayah pantai. Namun, di beberapa lokasi, tinggi tsunami yang teramati masih lebih besar daripada hasil simulasi.

Widjo menjelaskan perlu hati-hati membandingkan angka tsunami kedua kejadian. 26,2 meter pada 1992 adalah run-up yang diukur di daratan, sedangkan sekitar 1,6 meter pada 2026 merupakan tinggi tsunami yang terukur pada lokasi pemantauan. Keduanya bukan besaran yang persis sama. Namun, perbedaannya tetap memperlihatkan bahwa respons tsunami kedua kejadian memang sangat berbeda.

Widjo menekankan, pelajaran terpenting dari Flores bukan bahwa ancaman tsunami telah berkurang. Sebaliknya, gempa 2026 kembali menunjukkan bahwa sistem Flores Back-Arc Thrust masih aktif dan mampu menghasilkan gempa besar. Sejarah 1992 juga menunjukkan bahwa tsunami lokal dapat mencapai pantai hanya dalam beberapa menit. Dalam kondisi seperti itu, masyarakat pesisir tidak mempunyai banyak waktu untuk menunggu.

Karena itu, setelah merasakan gempa kuat atau guncangan yang berlangsung cukup lama di wilayah pantai, tindakan paling aman adalah segera menjauh dari pantai dan menuju tempat yang lebih tinggi, tanpa menunggu datangnya sirene.

“Magnitudo yang hampir sama tidak berarti ancaman tsunaminya sama. Yang menentukan adalah bagaimana gempa menggerakkan dasar laut, bagaimana gelombang merambat, dan bagaimana pantai meresponsnya. Memahami proses tersebut adalah bagian penting dari upaya mengurangi risiko bencana di NTT,” katanya.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

situs slot gacor

Mission News Theme by Compete Themes.
RPHOKI AGENHOKI CHUTOGEL agenhoki agenhoki.com Sbobet88