Ketika sebagian besar wilayah Indonesia mengalami cuaca panas dan kering pada puncak musim kemarau, sebuah fenomena unik justru muncul di Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah. Hamparan tanaman dan rerumputan mendadak berubah putih seolah diselimuti salju tipis.
Fenomena yang dikenal sebagai embun upas atau frost ini kerap menarik perhatian wisatawan. Namun di balik keindahannya, embun upas sebenarnya menjadi ancaman serius bagi petani karena dapat merusak tanaman hortikultura seperti kentang dan sayuran.
Lalu, mengapa “salju tropis” ini bisa muncul di Indonesia yang beriklim tropis?
Menurut Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer (PRIMA) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Aris Pramudia, embun upas terjadi akibat kombinasi sejumlah faktor geografis dan atmosfer yang unik di kawasan Dieng.
Dieng berada pada ketinggian sekitar 2.000 meter di atas permukaan laut. Pada ketinggian tersebut, tekanan udara lebih rendah dan lapisan atmosfer menjadi lebih tipis dibandingkan wilayah dataran rendah. Kondisi ini membuat suhu udara lebih mudah turun drastis, terutama pada malam hingga dini hari.
Namun faktor ketinggian saja tidak cukup menjelaskan kemunculan embun es tersebut.
“Langit yang cerah tanpa tutupan awan menjadi salah satu faktor penting. Pada malam hari, panas dari permukaan bumi lebih mudah terlepas ke atmosfer sehingga suhu di permukaan turun dengan cepat,” jelas Aris, dalam keterangannya.
Selain itu, bentuk topografi Dieng yang menyerupai cekungan turut memperkuat proses pendinginan. Udara dingin yang lebih berat akan turun dan terperangkap di dasar cekungan sehingga suhu terus menurun hingga mendekati bahkan mencapai titik beku.
Kondisi semakin mendukung terbentuknya frost ketika angin bertiup sangat lemah atau bahkan hampir tidak ada pada dini hari. Tanpa adanya sirkulasi udara yang cukup, udara dingin akan tetap berada di dekat permukaan tanah dan memicu terbentuknya kristal-kristal es tipis pada daun, rumput, maupun permukaan tanah.
Indah bagi Wisatawan, Merugikan Petani
Bagi wisatawan, embun upas menjadi daya tarik yang langka di negara tropis. Setiap kali fenomena ini muncul, kawasan Dieng biasanya dipadati pengunjung yang ingin mengabadikan pemandangan menyerupai musim dingin.
Namun dari sudut pandang pertanian, embun upas justru dapat menyebabkan kerugian ekonomi yang tidak sedikit.
Kristal es yang terbentuk di permukaan tanaman dapat merusak jaringan sel daun dan batang. Akibatnya tanaman menjadi layu, menghitam, bahkan mati. Komoditas yang paling rentan terdampak adalah kentang, kubis, wortel, dan berbagai tanaman hortikultura dataran tinggi lainnya yang menjadi sumber penghidupan masyarakat setempat.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana satu kejadian alam dapat memiliki dua wajah berbeda: menjadi berkah bagi sektor pariwisata sekaligus ancaman bagi sektor pertanian.
Bisakah Embun Upas Dicegah?
Menurut Aris, sejumlah metode telah digunakan di berbagai negara untuk mengurangi dampak frost terhadap pertanian.
Salah satunya adalah water sprinkling, yaitu menyemprotkan air ke area pertanaman. Ketika air membeku, proses tersebut justru melepaskan panas yang dapat membantu menjaga suhu tanaman agar tidak turun terlalu rendah.
Metode lain meliputi pemanasan langsung pada area pertanian, penggunaan kipas atau pengaduk udara untuk menciptakan sirkulasi, pemasangan naungan, hingga penggunaan mulsa yang membantu menjaga kestabilan suhu tanah.
Alih-alih mengganti jenis tanaman yang sudah lama dibudidayakan masyarakat, Aris menilai pendekatan terbaik adalah memperkuat strategi mitigasi terhadap kemunculan frost yang biasanya terjadi pada periode tertentu selama musim kemarau.
“Dieng tetap cocok untuk pengembangan tanaman hortikultura dataran tinggi seperti kentang, sayuran, dan teh, dengan pengelolaan yang mempertimbangkan risiko kemunculan frost,” ujarnya.
Dari Dieng hingga Cartenz: Pelajaran untuk Masa Depan
Menariknya, penelitian mengenai frost di Dieng juga memiliki keterkaitan dengan upaya pelestarian salju abadi di Pegunungan Cartenz, Papua Tengah.
Berbeda dengan Dieng yang mengalami embun es musiman, Cartenz merupakan satu-satunya kawasan di Indonesia yang masih memiliki gletser tropis. Namun luas salju abadi di kawasan tersebut terus menyusut akibat perubahan iklim global.
Menurut Aris, teknologi modifikasi cuaca berpotensi menjadi salah satu opsi untuk mendukung pelestarian salju di Cartenz. Sementara di Dieng, teknologi serupa justru dapat dimanfaatkan untuk mengurangi dampak frost terhadap aktivitas pertanian.
Penelitian di kedua wilayah ini memperlihatkan bagaimana fenomena yang tampak berlawanan dapat memberikan pelajaran yang sama: memahami interaksi antara atmosfer, iklim, dan bentang alam menjadi kunci untuk beradaptasi terhadap perubahan lingkungan yang semakin dinamis.
Di tengah perubahan iklim global yang terus berlangsung, embun upas di Dieng bukan sekadar fenomena wisata musiman. Ia menjadi laboratorium alam yang membantu ilmuwan memahami dinamika cuaca ekstrem di wilayah tropis sekaligus mencari solusi untuk melindungi ekosistem dan sumber penghidupan masyarakat.






Be First to Comment