Press "Enter" to skip to content
sampah laut (dok. pixabay)

Menciptakan Robot dari Sel Katak untuk Menangani Sampah Microplastic

Ilmuwan sedang mengembangkan sebuah robot mikroskopik hidup. Maksudnya, robot ini berukuran sangat kecil dan merupakan hidup ‘hidup’ karena terbuat dari sel punca dari embrio katak. Walau kecil, robot ini didesain dengan kemampuan menyembuhkan diri sendiri dan memiliki memori.

Robot ini diberi nama Xenobots 2.0. Didesain sejak tahun lalu, robot ini mengalami peningkatan sistem dan mampu melakukan tugas-tugas yang lebih sulit. Di antara peningkatannya adalah, penambahan bagian ‘kaki’ seperti rambut yang disebut cilia. Kaki ini mampu berputar sendiri.

Lalu, robot ini juga telah diberikan kemampuan untuk menangkis hal-hal berbahaya di badannya, seperti kontaminasi radioaktif, polutan kimia, atau penyakit, dan kembali ke peneliti untuk dianalisa lebih lanjut.

Robot ini dikembangkan oleh ahli biologi dan komputer dari Universitas Tufts dan Universitas Vermont. Nama Xenobots sendiri diambil dari spesies katak Afrika Xenopus laevis.

Xenobots awalnya diprogram untuk melakukan sejumlah tugas, seperti mengantar obat langsung ke bagian tubuh yang sakit. Versi kedua kemudian diupgrade menjadi lebih cepat, bisa bernavigasi ke lingkungan yang berbeda, memiliki rentang hidup yang lebih panjang, serta tetap bisa bekerja dalam kelompok dan mampu menyembuhkan diri sendiri.

Ketika ilmuwan di Tufts menciptakan fisik organisme robot itu, ilmuwan di Vermont melakukan simulasi komputer untuk membuat model bentuk Xenobots untuk melihat mereka mungkin bisa memperlihatkan perilaku yang berbeda, baik secara individu maupun kelompok.

“Saat kami menghadirkan lebih banyak kemampuan pada robot itu, kami bisa menggunakan simulasi komputer untuk mendesain mereka dengan perilaku yang lebih kompleks dan kemampuan untuk melakukan lebih banyak tugas,” kata Josh Bongard dari Vermont, seperti dilansir Daily Mail. “Kita berpotensi bisa mendesain mereka tidak hanya melaporkan kondisi lingkungan, tapi juga bisa memodifikasi dan memperbaiki kondisi di sana.”

Melalui simulasi-simulasi yang digelar, tim peneliti mendapati bahwa Xenobots baru ini lebih cepat dan lebih ahli. Robot ini bahkan dinilai bakal efektif untuk mengumpulkan microplastik atau sampah plastik mikro yang makin membahayakan lingkungan. Robot itu juga bisa ditugaskan membersihkan tanah dari kontaminasi.

Tapi keberhasilan paling penting dalam kemampuan robot itu adalah kemampuannya merekam memori. Kemampuan memori ini bisa digunakan untuk memodifikasi perilaku dan kemampuannya. Peneliti mendesain Xenobots dengan membaca dan menulis untuk merekam informasi, menggunakan protein fluorescent yang disebut EosFP, yang normalnya memunculkan warna hijau. Namun kalau terekspos ke cahaya dengan panjang gelombang 390nm, protein itu akan menampilkan warna merah.

Fungsi memori ini dikembangkan sedemikian rupa supaya Xenobots bisa merekam banyak stimuli atau memungkinkan robot merilis senyawa tertentu atau perubahan perilaku terhadap sensasi stimuli. “Tujuan utama dari penelitian ini tidak hanya mengeksplorasi robot biologis selengkap mungkin, tapi juga untuk memahami hubungan antara hardware dari genom dan software dari komunikasi di tingkat sel yang berujung pada penciptaan jaringan, organ, yang lebih terorganisir. Kemudian kita bisa menghasilkan kontrol lebih besar dari morfogenesis untuk pengobatan regeneratif, dan pengobatan kanker serta penyakit karena usia.”

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: