Press "Enter" to skip to content
Alap-Alap (Foto Dok. BRIN)

Mengenal Alap-Alap, Drone Buatan BRIN yang Sedang Uji Autopilot

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Teknologi Penerbangan terus melakukan pengembangan pada Alap-Alap, Unmanned Aerial Vehicle (UAV) alias drone buatan tim peneliti BRIN. Tim riset BRIN saat ini sedang mematangkan sistem on board, terutama pada pengembangan Flight Control Computer (FCC) yang menjadi “otak” kendali UAV. Dengan FCC, pesawat Alap-Alap diharapkan dapat beroperasi secara autopilot dan menjalankan misi dengan akurasi tinggi.

Tim juga sedang melakukan pengujian material ringan untuk mendukung platform UAV agar semakin efisien, memiliki daya jelajah lebih jauh, sekaligus tetap tangguh di berbagai kondisi operasi. Dari sisi muatan, Synthetic Aperture Radar (SAR) sedang dikembangkan sebagai payload utama. Teknologi radar ini akan menghasilkan citra beresolusi tinggi yang dapat mendukung misi pemetaan detail, pemantauan wilayah terpencil, hingga penanganan kebencanaan.

“Dengan SAR, UAV ini diharapkan bisa memaksimalkan berbagai misi, mulai dari pemetaan, monitoring lingkungan, hingga mitigasi bencana,” kata Periset Pusat Riset Teknologi Penerbangan, Muhammad Amanta, dalam siaran pers BRIN.

Di sisi darat, para periset juga memfokuskan pengembangan on ground system, terutama sistem penerimaan dan pengolahan data agar informasi yang dikirimkan UAV dapat diterima secara real-time dan akurat. Komponen pendukung seperti antena, Radio Frequency (RF), radom, serta transmisi video juga terus disempurnakan untuk memastikan komunikasi stabil di berbagai kondisi cuaca.

Sejauh ini, UAV Alap-Alap telah menunjukkan performa menjanjikan. Pesawat ini pernah diterjunkan untuk pemetaan pasca gempa di Lombok pada 2018, serta mendukung pengamatan erupsi Gunung Anak Krakatau di tahun yang sama.

Alap-Alap memiliki beberapa keunggulan utama, yaitu desainnya yang kompak membuat operasionalnya efisien dan tidak memerlukan banyak personel. Drone ini juga terbukti tangguh, mampu menyelesaikan berbagai misi monitoring dan pemetaan di kondisi medan yang menantang. Dari perspektif biaya, Alap-Alap juga lebih ekonomis dibandingkan UAV di kelas sejenis, sehingga dinilai efisien untuk dioperasikan dalam jangka panjang.

Hingga kini, Alap-Alap telah melalui lebih dari 10 kali uji terbang dengan hasil yang memuaskan. UAV ini mampu terbang hingga 6 jam dengan jangkauan 100 kilometer dalam garis pandang langsung (line of sight).

Nama Alap-Alap sendiri terinspirasi burung pemangsa dari keluarga Falkonidea yang terkenal cepat dan lincah. “Harapannya, UAV Alap-Alap pun dapat bermanuver gesit di udara layaknya burung Alap-Alap,” kata Amanta.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mission News Theme by Compete Themes.