Di lereng Gunung Bromo, rumah-rumah tradisional masyarakat Tengger berdiri dengan bentuk sederhana. Namun di balik kesederhanaan itu, tersimpan lapisan makna yang jauh lebih dalam. Bagi orang Tengger, rumah bukan sekadar tempat berteduh, melainkan cermin kosmologi, simbol sosial, sekaligus panduan spiritual yang diwariskan turun-temurun.
Penelitian terbaru dari Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah BRIN menunjukkan bahwa tata ruang rumah Tengger memiliki filosofi yang erat terkait dengan adat dan kepercayaan lokal. Tiga ruang utama—pedayohan (ruang tamu), peturon (kamar), dan pedaringan (dapur)—bukan sekadar pembagian fungsi praktis, melainkan susunan simbolis yang menyatukan nilai-nilai hidup masyarakat.
Di dalam rumah, ada pula simbol kain merah di bagian barat yang melambangkan bapak/daging, kain putih di timur yang melambangkan ibu/tulang, dan hasil bumi yang ditempatkan di tengah sebagai lambang kehidupan. Kehadiran tiga unsur ini menggambarkan keseimbangan antara laki-laki dan perempuan, sakral dan profan, dunia nyata dan dunia spiritual.
“Rumah bagi masyarakat Tengger adalah representasi tata sosial dan spiritual. Dari arsitekturnya kita bisa melihat bagaimana mereka menjaga keseimbangan antara kehidupan sehari-hari dan keyakinan adat yang diwariskan leluhur,” jelas peneliti BRIN, Putri Novita Taniardi.
Bila ditilik lebih jauh, rumah tradisional Tengger dapat dipandang sebagai arsitektur kosmologis. Ia menyatukan ruang fisik dengan tatanan simbolis, sehingga setiap aktivitas—mulai dari menerima tamu, beristirahat, hingga memasak—senantiasa berhubungan dengan harmoni semesta.
Dengan begitu, rumah-rumah di Tengger bukan hanya bangunan berdinding kayu dan beratap ijuk. Ia adalah “teks budaya” yang menuturkan filosofi hidup masyarakat, meneguhkan jati diri komunitas, serta menjadi warisan kearifan lokal yang terus bertahan di tengah modernisasi.






Be First to Comment