Press "Enter" to skip to content
Ilustrasi udang (Foto: basuka/Pixabay)

Udang Pisang, Spesies Baru dari Laut Indonesia Harapan Baru Industri Akuakultur

Di tengah industri budidaya udang yang terus dibayangi wabah penyakit, para peneliti di Indonesia menemukan sesuatu yang menarik, bahkan mungkin penting. Udang yang selama ini dikenal nelayan sebagai “udang pisang” ternyata bukan sekadar variasi dari udang yang sudah dikenal. Dari hasil analisis genetika, hewan ini kemungkinan besar adalah spesies baru.

Temuan ini dipaparkan peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dalam sebuah webinar tentang pemanfaatan sains molekuler untuk masa depan akuakultur, baru-baru ini. Bagi dunia perudangan Indonesia, temuan ini bukan sekadar soal klasifikasi biologis. Ada harapan lain di baliknya: alternatif baru bagi industri yang selama ini terlalu bergantung pada dua jenis udang utama: udang windu dan udang vaname.

Masalahnya, kedua spesies itu cukup rentan terhadap penyakit. Ketika wabah datang, kerugian bisa besar. Di situlah udang pisang mulai menarik perhatian.

Dari laut Sumatra ke laboratorium genetika

Udang ini ditemukan hidup di perairan pesisir Aceh dan Sumatra Utara, dan belakangan juga dilaporkan muncul di wilayah Lampung. Selama ini ia hanya dikenal sebagai spesies lokal oleh nelayan, tanpa identitas ilmiah yang jelas.

Tim peneliti kemudian mencoba menjawab satu pertanyaan sederhana: Apakah udang ini sebenarnya spesies yang sama dengan udang yang sudah dikenal, atau benar-benar berbeda?

Untuk menjawabnya, mereka tidak hanya mengandalkan pengamatan bentuk tubuh. Mereka masuk lebih dalam, ke tingkat DNA.

Metode yang digunakan adalah Random Amplified Polymorphic DNA (RAPD), teknik yang memungkinkan peneliti melihat pola genetik organisme melalui penanda tertentu. Dari situ muncul pola DNA yang unik, berbeda dari lima spesies udang komersial yang selama ini dibudidayakan di Indonesia.

Kelima spesies pembanding itu adalah:

  • udang windu (Penaeus monodon)
  • udang vaname (Litopenaeus vannamei)
  • Penaeus merguensis
  • Penaeus indicus
  • Penaeus semisulcatus

Untuk memastikan hasilnya, tim juga menggunakan DNA chip dan alat analisis genetik Agilent 2100 Bioanalyzer, lalu mencocokkan urutan genomnya dengan basis data gen internasional.

Hasilnya cukup jelas. Ketika DNA udang windu dibandingkan dengan sesamanya, kesamaan genetiknya mencapai 100 persen, seperti yang diharapkan. Tapi ketika DNA udang windu dibandingkan dengan udang pisang, tingkat kemiripannya hanya sekitar 92 persen.

Dalam dunia genetika, angka itu penting. Jika tingkat kesamaan DNA berada di bawah 95 persen, kemungkinan besar organisme tersebut adalah spesies yang berbeda. Dengan kata lain, udang pisang bukan sekadar varian udang windu.

Ia kemungkinan adalah spesies baru. Para peneliti kemudian mengusulkan nama ilmiah Penaeus symplex sp. nov.

Beda genetik, beda juga bentuknya

Selain perbedaan genetik, tim peneliti juga menemukan sejumlah ciri fisik yang membedakan udang ini dari kerabatnya. Salah satunya terlihat pada rostrum, bagian moncong keras yang bergerigi di kepala udang.

Pada udang pisang, jumlah duri di bagian atas rostrum biasanya tujuh, sementara di bagian bawah tiga. Udang windu memiliki delapan duri di atas dan tiga di bawah. Perbedaannya kecil, tapi cukup konsisten. Rostrum udang pisang juga cenderung lebih panjang dibandingkan udang windu.

Dari segi ukuran tubuh, udang ini juga tidak bisa dibilang kecil. Induk jantan bisa mencapai bobot sekitar 40 gram. Panjang tubuh betina dapat mencapai 23 sentimeter, sementara jantan sekitar 17 sentimeter.

Warna tubuhnya juga khas. Udang pisang memiliki rona kemerahan, yang berubah menjadi merah terang ketika dimasak.

Tahan penyakit?

Yang membuat peneliti semakin tertarik adalah hasil pengujian dari spesimen yang diambil langsung dari alam.

Pada sampel yang sama, udang windu ditemukan terinfeksi white spot syndrome virus (WSSV), penyakit yang terkenal mematikan dalam industri budidaya udang. Sementara itu, pada udang pisang tidak ditemukan infeksi tersebut.

Temuan ini tentu belum cukup untuk menyimpulkan bahwa udang pisang lebih tahan penyakit. Tapi setidaknya, hasil awal itu memberi sinyal yang menarik bagi penelitian lebih lanjut.

Kandidat baru untuk budidaya

Peneliti juga mencoba melakukan uji budidaya awal di tambak menggunakan kolam HDPE selama 90 hari. Hasilnya cukup menjanjikan.

Laju pertumbuhan udang pisang ternyata sebanding dengan udang windu, salah satu spesies unggulan dalam budidaya. Artinya, secara teori, spesies ini punya potensi masuk ke industri akuakultur.

Langkah berikutnya adalah penelitian genetik lanjutan, termasuk program seleksi individu dalam satu famili untuk menghasilkan induk unggul. Jika riset ini berhasil, bukan tidak mungkin suatu hari nanti udang pisang akan menjadi pemain baru di industri perudangan Indonesia.

Dan seperti banyak penemuan dalam sains, semuanya berawal dari sesuatu yang terlihat biasa saja, seekor udang yang selama ini hanya dikenal nelayan dengan satu nama sederhana: udang pisang.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mission News Theme by Compete Themes.