Press "Enter" to skip to content
Ilustrasi DNA (Foto: Gerd Altmann/Pixabay)

Dari Identifikasi Korban Bencana hingga Deteksi Dini Gangguan Mental, Begini DNA Membantu Menjawab Tantangan Kemanusiaan

Bayangkan sebuah bencana besar terjadi. Banyak korban ditemukan tanpa identitas, sementara keluarga menunggu kepastian tentang nasib orang-orang yang mereka cintai. Dalam situasi seperti ini, teknologi DNA sering menjadi satu-satunya cara untuk mengembalikan nama kepada mereka yang telah tiada.

Namun, peran genetika manusia ternyata jauh melampaui identifikasi korban bencana. Di tangan para ilmuwan, DNA kini menjadi kunci untuk mengungkap hubungan kekerabatan, membantu investigasi kriminal, memahami penyakit genetik, hingga membuka peluang baru dalam deteksi dini gangguan kesehatan mental.

Inilah bidang yang ditekuni Abdul Hadi Furqoni, peneliti di Pusat Riset Biomedis Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Penelitiannya mencakup genetika manusia, DNA forensik, genetika populasi, hingga genetika medis, sebuah kombinasi ilmu yang mempertemukan sains dasar dengan kebutuhan nyata masyarakat.

Membangun “Peta Genetik” Indonesia

Salah satu proyek utama yang dikembangkan Abdul Hadi adalah memetakan keragaman genetik berbagai kelompok etnis di Indonesia, termasuk masyarakat Madura, Bali, Banjar Hulu, dan Tengger.

Setiap populasi memiliki karakteristik genetik yang berbeda. Dengan memahami variasi tersebut, para peneliti dapat membangun basis data yang lebih representatif mengenai keragaman genetik masyarakat Indonesia.

Menurut Abdul Hadi, data tersebut memiliki nilai strategis karena dapat menjadi fondasi pengembangan database DNA nasional.

“Data tersebut memiliki nilai strategis dalam mendukung pengembangan database DNA nasional yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, terutama dalam identifikasi manusia pada kasus bencana massal,” ujarnya.

Kebutuhan ini menjadi semakin penting mengingat Indonesia berada di kawasan Ring of Fire, salah satu wilayah dengan aktivitas gempa dan gunung api tertinggi di dunia. Dalam situasi bencana besar, proses Disaster Victim Identification (DVI) membutuhkan metode identifikasi yang cepat, akurat, dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Ketika Orang Tua Tidak Lagi Menjadi Pembanding DNA

Tidak semua proses identifikasi berjalan mudah.

Pada sejumlah kasus bencana atau kemanusiaan, korban tidak lagi memiliki orang tua yang dapat dijadikan pembanding DNA.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Abdul Hadi mengembangkan metode identifikasi menggunakan hubungan genetik antar saudara kandung.

Melalui pendekatan ini, identitas seseorang tetap dapat dipastikan dengan tingkat akurasi yang tinggi meskipun pembanding utama tidak tersedia.

Metode tersebut diharapkan mampu meningkatkan keberhasilan identifikasi korban pada berbagai kasus bencana maupun peristiwa kemanusiaan lainnya.

DNA yang Tertinggal dari Sebuah Sentuhan

Teknologi DNA juga memainkan peran penting dalam investigasi kriminal.

Salah satu bidang yang diteliti Abdul Hadi adalah touch DNA, yaitu jejak DNA yang tertinggal pada suatu benda setelah seseorang menyentuhnya.

Jejak biologis yang jumlahnya sangat sedikit ini dapat ditemukan pada berbagai barang bukti, mulai dari masker, cincin, kain, hingga bekas jejak bibir.

Tantangannya bukan menemukan DNA tersebut, melainkan mengekstraknya dari material biologis yang sangat minim tanpa merusaknya.

Jika berhasil, teknologi ini dapat membantu mengidentifikasi pelaku maupun korban secara lebih akurat sekaligus memperkuat penggunaan bukti ilmiah dalam sistem peradilan Indonesia.

Mengembalikan Tentara Jepang kepada Keluarganya

Penerapan DNA forensik juga membawa Abdul Hadi ke proyek yang memiliki nilai kemanusiaan tinggi.

Ia terlibat dalam proyek internasional repatriasi kerangka tentara Jepang yang gugur pada Perang Dunia II di Biak, Papua.

Puluhan tahun setelah perang berakhir, tulang-belulang yang ditemukan masih menyimpan jejak DNA, meski dalam kondisi telah mengalami degradasi.

Tim peneliti kemudian mengekstraksi DNA dari tulang tersebut dan membandingkannya dengan sampel DNA keluarga yang berada di Jepang.

Apabila profil genetik menunjukkan kecocokan, identitas individu dapat dipastikan sehingga kerangka dapat dipulangkan untuk dimakamkan oleh keluarganya.

Selain memberikan kepastian bagi keluarga yang telah menunggu selama puluhan tahun, proyek ini juga menjadi tantangan ilmiah dalam mengembangkan teknik identifikasi DNA dari sampel tulang yang telah berusia sangat tua.

Dari Down Syndrome hingga Risiko Bunuh Diri

Di luar bidang forensik, Abdul Hadi juga meneliti berbagai penyakit dan kelainan genetik.

Salah satunya adalah Down syndrome, kelainan kromosom yang terjadi akibat trisomi kromosom ke-21.

Melalui penelitian ini, para ilmuwan berupaya memahami bagaimana perubahan genetik memengaruhi munculnya berbagai manifestasi klinis, sekaligus mendukung pengembangan diagnosis dan edukasi masyarakat mengenai penyakit genetik.

Namun salah satu topik yang kini semakin mendapat perhatian adalah hubungan antara faktor genetik dan kesehatan mental.

Abdul Hadi bersama tim tengah meneliti variasi genetik yang kemungkinan berasosiasi dengan risiko bunuh diri, depresi, stres berat, serta berbagai gangguan kejiwaan lainnya.

Penelitian ini dilakukan secara multidisiplin dengan menggabungkan genetika, psikologi, dan psikiatri. Faktor genetik dianalisis bersama data klinis yang diperoleh dari psikolog dan psikiater untuk memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai kondisi seseorang.

Menurut Abdul Hadi, pendekatan tersebut diharapkan dapat membantu para peneliti memahami faktor biologis yang berperan dalam gangguan kesehatan mental.

Dalam jangka panjang, temuan tersebut berpotensi menjadi dasar pengembangan sistem deteksi dini serta strategi pencegahan yang lebih efektif.

Ketika DNA Menjadi Teknologi Kemanusiaan

Bagi sebagian orang, penelitian genetika mungkin identik dengan laboratorium, tabung reaksi, dan rangkaian kode DNA yang rumit.

Namun di balik itu, penelitian genetika sesungguhnya berbicara tentang manusia.

Tentang keluarga yang akhirnya mengetahui identitas anggota keluarganya yang hilang akibat bencana.

Tentang penyelidikan kriminal yang memperoleh bukti ilmiah yang lebih kuat.

Tentang anak-anak dengan kelainan genetik yang dapat memperoleh diagnosis lebih dini.

Hingga tentang peluang memahami gangguan kesehatan mental secara lebih komprehensif.

Melalui berbagai penelitian tersebut, genetika manusia tidak hanya memperkaya ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi teknologi yang menghadirkan manfaat nyata bagi kesehatan, keadilan, dan kemanusiaan di Indonesia.

 

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

situs slot gacor

Mission News Theme by Compete Themes.
RPHOKI AGENHOKI CHUTOGEL agenhoki agenhoki.com