Press "Enter" to skip to content

Ikan “Dewa” dari Cibulan dan Kisahnya yang Misterius

Sejuk dan menyegarkan. Begitulah yang saya rasakan begitu membuka pintu mobil, setibanya di areal parkir obyek wisata Cibulan di Kuningan, Jawa Barat, Jumat (4/1). Perjalanan sekitar satu jam dari Kota Cirebon terbayar pemandangan hijau royo-royo.

Obyek wisata Cibulan berada sekitar 10 km dari Kota Kuningan, Jawa Barat. Berada tak jauh dari Jalan Raya Kuningan-Cirebon, kamu akan dengan mudah menemukan kawasan ini melalui sebuah billboard besar di tepi jalan raya.

Cibulan adalah area rekreasi yang terbilang tertua di Kuningan. Menurut kabar, obyek wisata ini sudah berdiri sejak 1939. Kegiatan utama yang bisa kamu lakukan di sini adalah berenang di kolam berair sejuk yang berhulu di Gunung Ciremai, bersama ikan-ikan “misterius”.

Benar. Ikan ini adalah daya tarik utama kawasan ini, di samping petilasan Tujuh Sumur keramat yang kabarnya pernah dipakai oleh Prabu Siliwangi. Untuk karcis masuk, pada hari biasa Rp17.000 untuk dewasa dan Rp12.000 anak-anak. Sementara pada hari libur dan weekend Rp20.000 untuk dewasa dan Rp15.000 untuk anak-anak. Belum termasuk biaya parkir kendaraan roda dua atau empat.

Ikan-ikan yang saya beri label “misterius” memang mengandung cerita yang penuh mitos. Menurut cerita yang berkembang di kalangan masyarakat Desa Maniskidul dan masyarakat Kuningan pada umumnya, ikan-ikan di kolam Cibulan ini konon dahulunya adalah prajurit-prajurit yang membangkang atau tidak setia pada masa pemerintahan Prabu Siliwangi.

Oleh sebab pembangkangan itu, para prajurit kemudian dikutuk oleh Prabu Siliwangi sehingga menjadi ikan. Konon ikan-ikan dewa ini dari dulu hingga sekarang jumlahnya tidak berkurang maupun bertambah. Apabila kolam dikuras, ikan-ikan ini akan hilang entah kemana, namun saat kolam diisi air, mereka akan kembali lagi dengan jumlah seperti semula.

Saya sendiri tak tahu pasti apakah cerita itu benar atau tidak. Hal yang pasti, kalau kamu ke sana, kamu akan mendapati dua kolam besar berukuran masing-masing 35×15 dan 45×15 meter dengan kedalaman berbeda. Dan di dalam dua kolam inilah kamu akan menemukan banyak sekali ikan bersisik tebal bertubuh hitam keabu-abuan, yang mengilap diterpa sinar matahari. Ukurannya macam-macam, dari kecil seukuran telapak tangan sampai yang seukuran paha lelaki dewasa.

Warga setempat menghormati legenda itu sampai saat ini. Sehingga tampaknya tidak ada yang berani mengambil ikan ini. Mereka yakin, siapa yang berani mengganggu ikan-ikan tersebut akan mendapatkan celaka. Dari sisi konservasi, menurut saya, seringkali kearifan lokal seperti itu membantu menjaga kelestarian habitat ikan itu di ekosistem Cibulan.

Sebenarnya ikan dari jenis apa sih itu? Kalau menurut warga lokal, ikan itu disebut ikan kancra bodas. Tapi ikan ini memiliki kemiripan dengan ikan bernama spesies Tor douronensis. Kalau menurut data Fishbase.org, spesies ikan ini termasuk ke dalam suku Cyprinidae dan ikan dari suku ini merupakan ikan air tawar tropis yang tersebar dari Indonesia sampai ke Thailand dan Vietnam.

Di daerah lain, ikan-ikan Cyprinidae disebut ikan semah (Bengkulu); ikan garing (Sumatera Barat); ikan wader (Jawa); ikan silap (Kalbar); dan ikan nyapau atau padak (Kaltim). Dalam bahasa Inggris, ikan ini disebut semah mahseer. Tapi ikan “dewa” di Cibulan memiliki warna dan ukuran tubuh yang unik. Ada yang panjangnya sampai 1 meter lebih. Itulah mengapa banyak yang mengatakan, ikan “dewa” ini adalah endemik di sana. (Tentang binatang endemik lain di Cirebon, kamu bisa baca artikel ini).

Selain kolam berisi ikan, di tempat ini ada lokasi terapi ikan yang oleh Kompas Travel disebut berasal dari Jepang. Untuk menikmati wahana yang membikin kakimu geli-geli sakit itu, kamu harus membayar Rp5000 per orang. Lain kali Portal Sains akan membahas lebih mendetail soal terapi ini.

Sedang di petilasan Prabu Siliwangi ada tujuh sumber mata air yang dikeramatkan yang bernama Tujuh Sumur yang berbentuk kolam kecil. Tiap kolam punya nama sendiri, yaitu Sumur Kejayaan, Sumur Kemulyaan, Sumur Pengabulan, Sumur Cirancana, Sumur Cisadane, Sumur Kemudahan, dan Sumur Keselamatan.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: