Press "Enter" to skip to content
dok. pixabay

Survei Membuktikan, Ini 3 Penyebab Utama Kebobolan Data

Indonesia adalah negara dengan pertumbuhan ekonomi yang paling menonjol di Asia Pasifik. Tapi pada saat yang sama, Indonesia menjadi target pelaku kejahatan siber. Apalagi, Indonesia memiliki tingkat penetrasi e-commerce mobile tertinggi di dunia. Sementara penetrasi mobile banking tertinggi di Thailand dan penetrasi aplikasi ride-hailing alias ojek online, teratas di layanan mobile Internet di Singapura.

Tingginya penggunaan Internet untuk berbagai kebutuhan ini mendorong ESET melakukan survei konsumen di seluruh wilayah Asia Pasifik untuk mempelajari perilaku dan kebiasaan online masyarakat di Asia Pasifik. Survei ini diikuti 2.000 responden dari masing-masing negara, yang terdiri dari Hongkong, India, Indonesia, Malaysia, Singapura, Taiwan, dan Thailand.

Tujuan survei ini adalah untuk mengatasi perbedaan dalam kecakapan siber antara negara-negara yang disurvei, menganalisis kebiasaan mereka berdasarkan interaksi online. ESET juga coba mempelajari kesadaran mereka tentang ancaman keamanan siber dasar, praktik terbaik, dan tindakan mereka secara online.

Hasil dari survei tersebut diketahui bahwa miliaran catatan pribadi dikompromikan ketika organisasi global mengalami pelanggaran data pada tahun 2018. Dan ada tiga penyebab utama pembobolan data tahun lalu, menurut Survei Perilaku Konsumen:

• Pembobolan data paling besar disebabkan oleh serangan virus yang mencapai 27%
• Pada posisi kedua ditempat oleh pelanggaran media sosial sebesar 20%
• Lalu pencurian data personal 19%

IT Security Consultant PT Prosperita – ESET Indonesia, Yudhi Kukuh, mengatakan di Indonesia, berdasarkan telemetri ESET, diketahui bahwa serangan virus masih mendominasi dari serangan siber yang masuk dan ini terjadi dari waktu ke waktu. “Menunjukkan bahwa kita masih lemah dalam hal kesadaran keamanan siber,” katanya, dalam keterangan resmi yang diterima Portal Sains.

Lemahnya kesadaran keamanan juga disorot dalam survei yang dilakukan ESET dengan hasil menunjukkan bahwa 27% responden percaya diri dalam memahami ancaman dunia maya. Ini mengkhawatirkan karena sama artinya 73% responden lainnya mungkin hanya memiliki pemahaman yang dangkal tentang ancaman siber.

Ketika ditanya dari mana sebagian besar serangan siber berasal, responden merespon dengan mengatakan “Mengunduh file dari internet” sebagai pilihan utama mereka. 28% Pengguna internet Indonesia tidak pernah menggunakan sumber tidak resmi saat mengunduh atau streaming video karena sadar bahaya situs semacam itu. Sebaliknya 72% responden menggunakan sumber yang tidak resmi. Ditambah sebagian besar responden yang mengakses internet via ponsel sebesar 90%, menempatkan mereka dalam bahaya infeksi malware.

Di sini kita melihat konsumen menyadari atau mengetahui darimana asal serangan datang, tetapi mereka tetap melakukan juga aktivitas tersebut. Sisi ini yang harus disadarkan bagaimana menjalankan praktik keamanan yang baik agar terhindar menjadi korban. Pengetahuan adalah kekuatan dalam hal keamanan siber.

“Seiring kita terus menuju masa depan yang lebih digital, penting bagi konsumen untuk memahami jenis ancaman yang berpotensi mereka hadapi dan bagaimana mereka dapat menghindarinya. Tidak dapat dihindari bahwa kita perlu membagikan data kita secara online, tetapi melakukannya dengan aman adalah yang menjadi perbedaan besar,” kata Nick FitzGerald peneliti senior ESET.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: