Press "Enter" to skip to content

Keajaiban Mendaki Gunung, Secuil Kisah di Gunung Gede

Kalau kamu suka dengan kegiatan luar ruangan (outdoor), mungkin aktivitas mendaki gunung bisa kamu ikuti. Bagi para penikmatnya, aktivitas mendaki gunung menyajikan tantangan tersendiri. Berat, tapi pada akhirnya terasa memuaskan. Bahkan, rasanya ingin lagi dan ingin lagi. Inilah keajaiban. Kok bisa? Ikuti ceritanya.

Bagi kamu yang tinggal di Jawa Barat, ada beberapa puncak gunung yang bisa kamu taklukkan. Sebut saja, puncak Gunung Gede, Pangrango, Gunung Salak, Gunung Papandayan, Gunung Ciremai, dan lain-lain. Ketinggiannya bervariasi. Tapi yang tertinggi adalah Ciremai, yaitu 3.078 meter di atas permukaan laut atau biasa disingkat mdpl.

Tapi kali ini, mari kita membahas tentang gunung Gede, salah satu gunung yang sangat populer bagi para pendaki di Jawa Barat, bahkan di seluruh Indonesia. Ketinggiannya hanya berselisih sedikit dari Ciremai dan puncak Pangrango. Puncak Gede berada di ketinggian 2.958 meter

Gede dan Pangrango berada dalam satu kawasan, yang biasa disebut Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) di Jawa Barat.

Beberapa waktu lalu, penulis mendaki ke puncak Gede dan berhasil mencapai puncak untuk keempat kalinya. Bukan prestasi sih, biasa saja. Tetapi pendakian ini menjadi pengalaman yang tersendiri, dibandingkan pengalaman pendakian ke Gede sebelum-sebelumnya. Mengapa?

Sebab pendakian ini terjadi pada usia yang tak lagi muda, dilakukan bersama serombongan remaja yang aktif dan penuh energi. Tapi ternyata penulis masih bisa mengimbangi mereka. Pendakian ini juga terjadi setelah vakum selama lebih dari 10 tahun. Sempat dibayangi kekhawatiran, ternyata semuanya berjalan lancar.

Secara geografis Taman Nasional Gunung Gede Pangrango termasuk dalam wilayah tiga Kabupaten di Provinsi Jawa Barat, yaitu Kabupaten Bogor, Kabupaten Sukabumi dan Kabupaten Cianjur dengan total luasan 24.270,80 hektare. Kamu tahu, kawasan ini sangat terkenal sejak zaman kolonialisme, karena menjadi pusat penelitian botani dan merupakan kawasan konservasi pertama di Indonesia, yakni ditetapkan pada 1889.

Untuk sampai ke Puncak Gede, ada tiga jalurnya: jalur Cibodas, jalur Gunung Putri, dan jalur Selabintana. Perjalanan kemarin, rombongan kami naik melalui jalur Gunung Putri dan turun melalui Cibodas. Tentu ada pertimbangan khusus mengapa kami memilih jalur ini. Jalur Gunung Putri memang curam, tapi jaraknya lebih pendek dan waktu tempuhnya lebih cepat ketimbang jalur lain. Jelas berat untuk beberapa pendaki pemula yang ada dalam rombongan kami.

Sedangkan jalur Cibodas menyajikan sejumlah spot menarik untuk dilewati. Seperti air terjun, sumber air panas, dan jalan yang relatif lebih landai. Hanya saja, jaraknya paling jauh dibandingkan jalur lainnya.

O ya, pendakian ke Gunung Gede dan Pangrango wajib mendaftar terlebih dahulu di website resmi di sini. Baca baik-baik peraturannya dan persiapkan semua persyaratan administrasinya. Termasuk biaya Rp29 ribu per orang yang harus kamu transfer supaya proses pendaftaran bisa dilanjutkan. Setelah itu kamu akan mendapatkan pemberitahuan melalui email yang perlu kamu print-out untuk dibawa saat hendak mendapatkan Surat Ijin Masuk Kawasan Konservasi (SIMAKSI). SIMAKSI inilah yang akan kamu bawa ke pos masuk sebelum mendaki dan kamu tunjukkan di pos turun.

Jangan lupa, kamu juga wajib melakukan pemeriksaan kesehatan. Regulasi ini agak membingungkan pada awalnya. Seluruh rombongan sempat memeriksa kesehatan di dekat rumah masing-masing, tapi ini tak bisa dipakai. Sebab, pemeriksaan kesehatan harus dilakukan pada hari-H pendakian dan harus sesuai SOP. Akhirnya, kami pun terpaksa memeriksakan kesehatan sekali lagi di tempat resmi, di Gunung Putri.

Kami tiba di Gunung Putri pada malam hari, jelang tengah malam. Ada basecamp di sana untuk tempat menginap dengan biaya Rp10.000 per orang. Keesokan pagi, kami mengurus SIMAKSI sambil memeriksa kesehatan dengan biaya Rp25.000 per orang. Tadinya berencana naik pukul 06.00, gara-gara proses ini akhirnya kami baru bisa naik pada menjelang pukul 10.00 WIB. Cukup banyak waktu yang terbuang memang.

Jalur Gunung Putri hanya menyediakan sedikit ‘bonus’. Selebihnya adalah perjalanan menanjak yang curam. Sangat menguras tenaga dan mental. Dari basecamp melewati rumah penduduk dan perladangan untuk menuju pos pemeriksaan.

Total jarak dari pos pemeriksaan ke puncak Gede adalah 8,5 km. Dari pos pemeriksaan berjalan masih melewati perladangan lalu menanjak ke pos Legok Leunca. Dari Legok Leunca ke Buntut Lutung , lalu ke Lawang Saketeng. Dari Lawang ke Simpang Maleber dan akhirnya tiba di alun-alun Timur Surya Kencana. Sepanjang perjalanan kita akan berada di bawah kanopi pepohonan hutan yang rimbun dan sejuk. Ketika pepohonan makin memendek, itu artinya kita sudah mendaki semakin tinggi.

Lalu tibalah di Surya Kencana, kawasan yang selalu memikat hati. Surya Kencana adalah padang savana dan edelweiss yang sangat luas dan datar. Saat tiba di sini pada pukul 20.00, suasana gelap gulita tapi pemandangan langit sangat mencengangkan. Indah sekali dengan jutaan bintang bertaburan di langit.

Kami mencoba memotret pemandangan ini dengan handphone, tapi tak ada yang lebih baik daripada merekam dan menikmati pemandangan itu dengan mata telanjang saja. Percayalah!

Di alun-alun barat Surya Kencana ada mata air dan di sinilah para pendaki biasanya memasang tenda sebelum ke summit atau titik tertinggi di Gunung Gede di ketinggian 2.958 mdpl. Kebanyakan pendaki memilih untuk menginap dulu di sini dan melakukan summit keesokan pagi sambil melihat matahari terbit. Walaupun, pemandangan matahari terbit di Gunung Gede tak seindah di tempat lain, di Gunung Bromo misalnya.

Pendakian dari alun-alun barat ke Puncak Gede jaraknya tak jauh sebetulnya. Tapi istirahat semalam tak cukup untuk memulihkan tenaga sehingga perjalanan seperti tersendat-sendat. Ada anggota rombongan yang sampai menangis dan ingin menyerah. Di sinilah kata-kata penyemangat itu menjadi penting.

Dengan perjuangan, akhirnya kami tiba di Puncak Gede menjelang tengah hari. Dilanjutkan dengan berfoto sampai puas sembari menikmati pemandangan dari ketinggian, meski sebagian sudah tertutup kabut. Lalu kami turun melalui jalur Cibodas. Diawali dengan jalan penuh kerikil kecil dengan kawah di sisi kanan dan jurang di sisi kiri. Mendebarkan!

Lalu mulai menyusur turun di bawah kanopi pepohonan hutan sampai ke Tanjakan Rantai, satu lagi tantangan yang penting di jalur ini. Di sini, kamu harus turun dengan bantuan tali sebab dindingnya sangat terjal dan vertikal. Tak usah khawatir, sudah tersedia tali yang kuat di sana. Tapi tebing ini memang bikin gentar. Rombongan kami bahkan sampai ikut menolong turun rombongan orang yang gemetar di sini.

Kami cukup banyak menghabiskan waktu di lokasi ini. Soalnya selain harus menolong rombongan sendiri, kami juga harus menolong rombongan orang. Tapi di sinilah kamu akan belajar yang namanya tolong menolong, bahkan menolong orang yang tak kamu kenal.

Setelah istirahat untuk memasak dan makan siang tak jauh dari Tanjakan Rantai, selanjutnya kami tiba di Kandang Badak, pos yang cukup penting karena di sini pula kamu akan menemukan jalur ke Puncak Pangrango dan jalur menurun ke Cibodas. Di pos ini juga ada sumber air yang melimpah dan ideal untuk istirahat. Mereka yang naik dari Cibodas juga biasanya pasang tenda di sini sebelum melakukan summit ke Puncak Gede atau Pangrango.

Dari Kandang Badak jalurnya menurun, landai di beberapa titik, dan juga ada yang curam dengan tangga-tangga batu. Sangat melelahkan dan jauh. Perjalanan kami terasa sangat lambat sehingga tak sempat menikmati spot-spot menarik dengan puas, seperti jalur cipanas atau air panas dan air terjun Cibeureum. Kami tiba di Cibodas pukul 21.30 WIB jauh dari target pukul 18.00. Tapi tak apa, sebab pengalaman yang dipetik sangat berharga, terutama bagi para anggota rombongan yang sebagian besar adalah pendaki-pendaki pemula.

Mereka yang awalnya terus menggerutu dan tak mau naik gunung lagi. Bahkan sampai empat hari sejak tiba di rumah, seluruh tubuh masih merasakan pegal dan sakit. Tapi, kemudian, saat mereka ditanya lagi, pada akhirnya semua sepakat bahwa pendakian itu memang berat, tapi rasanya sangat menarik dan kapan-kapan ingin mendaki lagi.

Itulah keajaiban mendaki gunung yang penulis maksud. Berat, menimbulkan perasaan ingin menyerah, tapi pada akhirnya, terasa indah dan puas dan ingin balik lagi. Apalagi pemandangan yang bisa dinikmati di sepanjang perjalanan sangat luar biasa, tak ada di tempat mana pun. Tapi memang tak semua orang bisa merasakan ini. Kalau kamu termasuk di antaranya, percayalah, kamu punya bibit sebagai pendaki yang hebat.

Tapi satu lagi, jangan lupa, saban mendaki gunung, bawalah sampahmu turun ya.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: