Press "Enter" to skip to content

Orca yang Dulu Keliling Bawa Mayat Anaknya Kini Hamil Lagi, Tapi…

Masih ingat paus Orca yang membawa mayat bayinya selama 17 hari sejauh 1.000 mil pada tahun 2018 lalu? Melalui drone, ilmuwan mendapati orca itu sedang hamil lagi.

Paus orca yang diberi nama Tahlequah atau J35 telah menyentuh hati banyak orang di seluruh dunia setelah kisah dukanya menyebar. Kehamilan baru ini menandakan bahwa paus itu sudah tak berduka lagi. Namun, paus orca ini masih berada di bawah ancaman bahaya.

Peneliti ekologi populasi paus John Durban dari Southall Environmental Associates dan pakar mamalia kelautan Holly Fearnbach dari SR3 (Sealife Response + Rehab + Research) sudah lama meneliti kawanan paus yang mengunjungi Puget Sound. Mereka menggunakan drone yang terbang 100 kaki di atas permukaan laut supaya dapat menilai kondisi badan paus tanpa mengganggu mereka.

Mereka mendapati tiga paus sedang dalam keadaan hamil, yaitu paus yang dinamai J, K, dan L. Salah satunya adalah Tahlequah yang saat ini usianya 21 tahun. Kehamilan ini menandakan bahwa Tahlequah sudah tak berduka lagi. Namun, kawanan yang terdiri dari 27 ekor paus itu sedang terancam populasinya sehingga kelahiran paus baru akan sangat penting bagi mereka.

Bayi yang dibawa-bawa Tahlequah pada 2018 adalah anak pertama yang lahir di kawanan itu dalam tiga tahun, tapi dua anak lagi telah lahir dan bertahan hidup sampai sekarang. Catatan ahli, dua pertiga kehamilan di kawanan itu selalu gagal.

Meskipun Tahlequah melahirkan satu anak pada tahun 2010 yang bertahan sampai hari ini – ‘J47’, juga dikenal sebagai ‘Notch’ – prospek kehamilannya saat ini sangat suram. Masa kehamilan akan berlangsung sekitar 18 bulan.

“Kami khawatir kalau dia melahirkan, akankah dia bisa mengawasi dirinya sendiri dan anak barunya serta J74?” kata Dr Durban kepada Seattle Times. “Saya tidak yakin banyak yang berubah pada paus-paus itu.”

Menurut para ahli, kurangnya populasi salmon yang menyebabkan stress karena kelaparan telah dikaitkan dengan buruknya reproduksi di populasi paus itu. Mereka juga terancam oleh polusi dan kebisingan di bawah air, yang akan mempengaruhi kemampuan paus orca berburu dengan mengandalkan suara.

Para peneliti khawatir bahwa sejumlah paus remaja di kelompok itu terlihat kurus – termasuk anak Tahlequah yang masih hidup, J47. “Ada paus yang stres di luar sana, yang sangat kritis,” kata Dr Fearnbach kepada Seattle Times, seraya menambahkan bahwa penelitian drone telah menunjukkan paus itu tersebar dalam kelompok kecil. Ini membuktikan bahwa paus-paus itu harus berusaha keras mencari makan dan kurang bersosialisasi.

Peneliti meyakini, setelah melakukan observasi, lalu lintas kapal di area itu telah menyebabkan kebisingan di dalam air. “Orang-orang harus menghargai kawanan paus spesial ini pada masa-masa yang sangat kritis seperti sekarang, mereka butuh ruang dan kesenyapan untuk bertahan hidup,” tutur Dr. Durban.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mission News Theme by Compete Themes.
%d blogger menyukai ini: