Press "Enter" to skip to content
dok: Sasin Tipchai from Pixabay

Memetakan Iklim Indonesia Berdasarkan Curah Hujan

Dengan posisi geografisnya, Indonesia itu bisa disebut sebagai negara beriklim tropis, yang dilalui oleh dua angin muson, yaitu angin muson barat dan angin muson timur. Alhasil, Indonesia hanya memiliki dua musim, yaitu musim hujan dan musim kemarau. Tapi pembagian iklim tidak hanya berdasarkan letak geografis saja.

Pembagian iklim bisa didasarkan pada diversifikasi tanaman, letak geografis, temperatur dan kelembaban, serta pola curah hujan. Nah untuk pola yang terakhir, disebut punya keuntungan lebih konsisten. Sejumlah peneliti pernah meneliti iklim Indonesia dan membagi Indonesia berdasarkan 9 subregion berdasarkan pola curah hujan bulanan.

Nah, peneliti Max Planck Institut für Meteorologie, Hamburg, Jerman, Edvin Aldrian, berhasil memetakan region iklim Indonesia hanya menjadi tiga region saja, biar simpel. Dia memakai metoda “double correlation”, sehingga menghasilkan tiga region yaitu Region A, meliputi wilayah selatan Indonesia, yang disebut region monsun Australia sebab region ini banyak dipengaruhi oleh monsun Australia. Region B di wilayah barat laut Indonesia, yang disebut region monsun passat tenggara. Lalu ketiga, Region C atau region arus lintas laut Indonesia (Arlindo) karena terletak pada daerah aliran arlindo.

Dalam penelitiannya yang diterbitkan jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca, Edvin mengatakan bahwa hasil penelitian itu bisa dipakai sebagai indikator iklim Indonesia berdasarkan pola curah hujan. Data curah hujan yang dipakai adalah data rata-rata bulanan tahun 1961-1993 dari Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) dari 526 stasiun penakar di seluruh Indonesia. Ditambah pula data dari World Meteorological Organization-National Ocean and Atmospheric Administration (WMO-NOAA). Jadi total stasiun penakarnya adalah 5419.

Metode “double correlation” diterapkan dengan mengkonversi stasiun-stasiun penakar menjadi grid-grid dan peneliti mencari korelasi antar grid berdasarkan pola curah hujan yang serupa. Metode ini diulang sekali lagi untuk meningkatkan obyektivitasnya. Itulah mengapa metoda ini disebut “double correlation”. Hasilnya adalah tiga region iklim Indonesia berdasarkan pola curah hujan tahunan.

“Hasil penelitian ini dapat digunakan untuk mempelajari efek dari masing-masing kontrol iklim pada berbagai situasi, bisa juga dipakai untuk pemilahan dan pencarian kesalahan sistematis dari model iklim yang diterapkan di Indonesia,” tutur Edvin, dalam laporannya.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mission News Theme by Compete Themes.
%d blogger menyukai ini: