Press "Enter" to skip to content
Handout/Environment and Forestry Ministry/AFP

Lahirnya Anak Badak Jawa di Ujung Kulon

Dua anak badak Jawa yang populasinya sudah terancam punah terekam kamera di Taman Nasional Ujung Kulon, Banten. Keberadaan dua anak ini memicu harapan bangkitnya populasi badak ini. Kedua anak badak itu kemudian diberi nama Helen untuk yang betina dan Luther untuk yang jantan.

Helen dan Luther terekam sedang bersama ibunya. Rekaman ini diambil dari setidaknya 100 perangkap kamera yang dipasang di taman nasional itu pada periode Maret sampai Agustus 2020.

Dilansir dari kantor berita AFP, Ujung Kulon adalah habitat badak yang tersisa untuk badak Jawa. Dengan lahirnya dua anak itu, maka total populasi badak ini saat ini 74 ekor.

Badak jawa yang memiliki nama latin Rhinoceros sondaicus adalah anggota famili Rhinocerotidae dan satu dari lima badak yang masih ada. Badak ini disebut juga badak bercula-satu kecil. Badak ini masih termasuk ke dalam genus yang sama dengan badak india dan memiliki kulit bermosaik yang menyerupai baju baja. Dengan ukuran panjang 3,1–3,2 m dan tinggi 1,4–1,7 m, badak ini lebih kecil daripada badak india dan besar tubuhnya lebih dekat dengan badak hitam.

Ukuran culanya biasanya kurang dari 20 cm, sehingga lebih kecil daripada cula spesies badak lainnya.

Dulu, badak jawa tidak semata-mata ditemukan di Pulau Jawa. Dia bisa ditemukan di nusantara, di sepanjang Asia Tenggara, India, dan China. Namun dengan populasi hanya 74 ekor dan hanya ditemukan di Ujung Kulon, maka badak ini termasuk badak paling terancam punah dan termasuk mamalia terlangka di Bumi.

Badak jawa dapat hidup selama 30-45 tahun di alam bebas. Badak ini hidup di hutan hujan dataran rendah, padang rumput basah dan daerah daratan banjir besar. Badak jawa biasanya menghindari manusia, tetapi akan menyerang jika merasa diganggu. Peneliti dan pelindung alam jarang meneliti binatang itu secara langsung karena kelangkaan mereka dan adanya bahaya mengganggu sebuah spesies terancam. Peneliti menggunakan kamera dan sampel kotoran untuk mengukur kesehatan dan tingkah laku mereka.

Tak heran kalau badak jawa lebih sedikit dipelajari daripada spesies badak lainnya.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mission News Theme by Compete Themes.
%d blogger menyukai ini: