Press "Enter" to skip to content
Handout/Environment and Forestry Ministry/AFP

Menyingkap Kekerabatan Badak di Dunia Melalui DNA

Penelitian genetik terhadap badak yang di ambang kepunahan tak banyak dilakukan. Padahal, penelitian genetika ini bisa ikut membantu merumuskan langkah konvervasi badak yang lebih terarah dan efektif. Soalnya, banyak kendala dalam konservasi badak, seperti perkembangbiakan yang lambat, risiko keguguran janin, dan keturunan yang sangat terbatas. Beruntung baru-baru ini peneliti dari Universitas Islam As-Syafi’iyah dan Institut Pertanian Bogor (IPB) telah melakukan penelitian DNA molekuler terhadap tiga jenis badak di dunia, termasuk yang ada di Indonesia.

Dalam penelitian yang diterbitkan di jurnal EduMatSains edisi Januari 2021 itu disebutkan bahwa genetika molekuler memiliki peran penting membantu, memperjelas, dan menentukan identifikasi spesies, terutama yang memiliki kekerabatan dekat. Penelitian mereka mendapati bahwa badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) dan badak India (Rhinoceros unicornis), walau memiliki jumlah cula yang berbeda, ternyata memiliki hubungan kekerabatan yang dekat. Di dalam populasi badak Sumatera di Indonesia sendiri ada keragaman hubungan.

Sampel penelitian tim itu adalah badak sumatera yang berada di SRS (Suaka Rhino Sumatera) Taman Nasional Way Kambas. Mereka mengambil sampel darah dari empat ekor badak sumatera yang berasal dari daerah yang berbeda, yaitu Rosa dari TN. Bukit Barisan Selatan, Bina dari Bengkulu, dan 2 badak jantan asli indonesia tetapi telah lama ditangkarkan di kebun binatang Inggris (Los Angeles Zoo) dan Amerika (Cincinati Zoo), yaitu Torgamba, yang berasal dari Riau, dan Andalas, yang kedua induknya berasal dari Bengkulu. Sedangkan sampel DNA dari badak India dan badak Afrika putih (Ceratotherium simum) diambil dari sequence data runutan masing-masing.

Peneliti mendapati bahwa badak Asia terpisah badak Afrika. Antara badak Sumatera dan badak India, walaupun berbeda dalam jumlah culanya ternyata termasuk dalam satu kelompok. Sedang di dalam badak Sumatera ada keragaman, yaitu Torgamba berada dalam satu kluster dengan Bina. Andalas dan Rosa sendiri terlihat jauh kekerabatannya, baik dengan Torgamba maupun Bina.

Mereka yang berada dalam satu kluster dengan persentase yang tinggi harus menjadi perhatian sebab tidak boleh dikawinkan, sebab akan terjadi inbreeding. Sedangkan Andalas memiliki hubungan kekerabatan yang jauh dengan Rosa dan Bina sehingga punya peluang yang baik dalam reproduksi.

Dari tiga jenis badak yang hidup di Asia, dua jenis di antaranya hidup di Indonesia, namun kedua jenis badak ini statusnya terancam punah (endangered). Badak Sumatera tersebar di Pulau Sumatera dan Kalimantan. Populasinya saat ini diperkirakan tinggal 30 individu. Informasi terakhir di Kalimantan dijumpai di Kutai Barat (Propinsi Kalimantan Timur). Penelitian DNA ini akan memberi harapan baru bagi upaya konservasi badak Sumatera.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: