Press "Enter" to skip to content
Elang bondol (Foto: hartono subagio/Pixabay)

Elang Bondol, Maskot Jakarta yang Terancam Punah

Tahukah kamu maskot Jakarta? Yes! Elang bondol atau nama ilmiahnya Haliastur indus Boddaert. Di tengah kondisi populasi elang bondol yang terancam, ada sebuah lokasi penangkaran elang bondol di dekat Jakarta lho.

Penangkaran elang bondol itu tak jauh dari Jakarta, persisnya di Pulau Kotok di Kepulauan Seribu. Pulau Kotok adalah pulau dengan hutan, pantai, dan terumbu karang yang populer untuk snorkeling, serta penangkaran elang bondol.

Menurut riset yang diterbitkan di jurnal geografi Gea tahun 2019, penangkaran elang bondol di Pulau Kotok termasuk ke dalam kawasan Taman Nasional Kepulauan Seribu yang memiliki luas daratan sekitar 20,75 hektare. Program penyelamatan dan rehabilitasi elang bondol ini diresmikan pada Agustus 2005.

Sejak 2016, pusat rehabilitasi ini berubah menjadi pusat pengembangbiakan dan suaka satwa liar untuk elang bondol dan elang lainnya. Saat awal didirikan, program ini berhasil menyelamatkan 69 ekor elang bondol dan 18 ekor elang laut perut putih (Haliaeetus leucogaste Gmelin). Sampai sekarang program ini telah melepasliarkan 57 ekor elang bondol dan 16 ekor elang laut perut putih.

Baca juga: Spesies Baru Kaki Seribu Ditemukan, Kakinya Benar-Benar Lebih dari 1000

Elang bondol adalah burung pemangsa yang memiliki wilayah penyebaran yang luas. Elang ini bisa ditemukan juga di Sri Lanka, Nepal, India, Pakistan, Bangladesh, China, Australia, dan Asia Tenggara, termasuk di dalamnya di Indonesia. Di negara lain, elang ini dinamakan Brahminy kite karena saat terbang bentuknya seperti layang-layang.

Di Indonesia, elang ini bisa ditemukan di Kalimantan, Sumatera, Maluku, Papua, Sulawesi dan Nusa Tenggara.

Karakteristik elang bondol adalah tubuhnya berwarna putih dan coklat. Panjang tubuhnya antara 45-50cm, rentang sayap 110-125cm, bobot 320-670 gram, dan panjang ekor 18-22cm. Pada elang dewasa, kepala, leher, dan dada memiliki bulu warna putih. Sedangkan punggung, sayap, perut, dan ekor berwarna coklat.

Uniknya, burung ini termasuk hewan monomorfik, alias susah dibedakan mana burung betina dan jantan secara kasat mata karena morfologi atau ciri-ciri fisiknya sama. Di Pulau Kotok, peneliti menggunakan metode dimorfisme seksual untuk menentukan jenis kelamin burung, di mana ukuran betina biasanya lebih besar dari jantan.

Populasi elang bondol sendiri, menurut riset pada tahun 2019, hanya mencapai 100.000 individu dan di Asia Tenggara jumlahnya terus menurun. Makanya di Indonesia burung ini dilindungi oleh undang-undang. Populasi burung ini terancam oleh hilangnya habitat akibat perubahan penggunaan lahan dan perburuan liar.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Mission News Theme by Compete Themes.
%d blogger menyukai ini: