Press "Enter" to skip to content
Ilustrasi antibiotik (Foto: Steve Buissinne/Pixabay)

Bangun Tidur, Lihat Jamur: Penemuan Antibiotik Pertama yang Mengubah Dunia

Pada pagi hari 28 September 1928, seorang ilmuwan Skotlandia bernama Alexander Fleming bangun dan memeriksa eksperimen bakteri yang ia tinggalkan selama libur dua minggu. Ia tak menyangka bahwa hari itu akan menjadi titik balik dalam sejarah pengobatan modern.

Di ruang kecil berukuran sekitar 1 meter persegi di Rumah Sakit St Mary’s, London, Fleming biasa membiakkan bakteri dari pasien yang terinfeksi. Ia dikenal ceroboh dan sering membiarkan puluhan cawan petri menumpuk di mejanya selama berminggu-minggu. Namun justru dari kebiasaan inilah, penemuan besar terjadi.

Dilansir dari Live Science, saat memeriksa cawan berisi bakteri Staphylococcus aureus, Fleming melihat sesuatu yang aneh: jamur hijau tumbuh di tengah koloni bakteri kuning keemasan. Anehnya, di sekitar jamur itu, bakteri tampak mati dan transparan. “Saat saya bangun pagi itu, saya tentu tidak berniat merevolusi dunia kedokteran,” kata Fleming kemudian. “Tapi tampaknya itulah yang saya lakukan.”

Cairan dari jamur tersebut, yang kemudian ia sebut sebagai “mold juice”, berasal dari spesies jamur Penicillium. Meski Fleming menyadari potensi zat ini sebagai pembunuh bakteri, upayanya untuk menjelaskan temuannya kepada rekan-rekan dokter pada tahun berikutnya tidak mendapat sambutan. Proses isolasi zat tersebut pun terbukti sulit, membuat penemuan ini terabaikan selama hampir satu dekade.

Baru pada tahun 1939, dua ilmuwan—Howard Florey dan Ernst Chain—melanjutkan penelitian Fleming. Bersama tim yang terdiri dari Margaret Jennings, Edward Abraham, dan Norman Heatley, mereka berhasil mengisolasi penicillin, mengujinya, dan menggunakannya untuk menyembuhkan beberapa pasien. Meski masih dalam bentuk yang belum murni, hasilnya menjanjikan.

Pada tahun 1942, Fleming kembali menggunakan penicillin untuk menyelamatkan seorang anak yang menderita meningitis parah. Ia menghubungi Florey dan Chain untuk mendapatkan persediaan penicillin, lalu menyuntikkannya ke tulang belakang sang anak. Hasilnya luar biasa—sang pasien sembuh.

Keajaiban ini meyakinkan Fleming bahwa penicillin harus diproduksi massal. Ia mengusulkan hal ini kepada pemerintah, dan akhirnya tercipta kolaborasi antara Inggris dan Amerika Serikat untuk memproduksi antibiotik pertama dalam sejarah. Pada tahun 1945, penicillin tersedia secara luas.

Atas kontribusi mereka, Fleming, Florey, dan Chain dianugerahi Nobel Kedokteran tahun 1945. Dua dekade kemudian, Dorothy Hodgkin menerima Nobel Kimia karena berhasil mengungkap struktur kristal penicillin, membuka jalan bagi pengembangan antibiotik lainnya.

Sejak ditemukan, penicillin diperkirakan telah menyelamatkan lebih dari 500 juta jiwa. Bersama turunannya, ia masih menjadi andalan dalam mengobati berbagai penyakit seperti infeksi telinga, radang tenggorokan, dan infeksi saluran kemih.

Namun, penggunaan antibiotik secara berlebihan telah memicu evolusi bakteri yang kebal terhadap obat. Kini, para ilmuwan berlomba mencari cara baru untuk melawan superbug—dari memanfaatkan virus untuk menyerang bakteri, hingga menggunakan teknologi pengeditan gen CRISPR untuk menciptakan obat generasi baru.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mission News Theme by Compete Themes.