Press "Enter" to skip to content
Ilustrasi pengawetan makanan (Foto: Ray_Shrewsberry from Pixabay)

BRIN Nyalakan “Mesin Radiasi” untuk Awetkan Pangan

Di sebuah kompleks riset di Jakarta Selatan, sebuah mesin besar mulai bekerja. Tidak berisik seperti pabrik, tidak juga terlihat dramatis. Tapi teknologi di dalamnya, kalau dipakai dengan benar, bisa memperpanjang umur simpan makanan, mensterilkan produk kesehatan, bahkan membantu produk Indonesia menembus pasar ekspor.

Pekan lalu, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) resmi mengoperasikan fasilitas Akselerator Elektron Energi Tinggi atau AEET di Kawasan Sains dan Teknologi G.A. Siwabessy. Nama teknologinya mungkin terdengar rumit, tapi ide dasarnya cukup sederhana: menggunakan berkas elektron berenergi tinggi untuk mensterilkan atau mengawetkan produk, tanpa bahan kimia, tanpa panas berlebihan, dan tanpa meninggalkan residu.

Ini semacam “radiasi yang bekerja diam-diam”.

Kepala BRIN, Arif Satria, mengatakan fasilitas ini adalah contoh bagaimana riset bisa keluar dari laboratorium dan benar-benar dipakai industri. “Fasilitas AEET ini menunjukkan bagaimana riset dapat hadir secara langsung untuk menjawab kebutuhan industri dan masyarakat. Teknologi radiasi berbasis berkas elektron yang kami kembangkan ini aman, efisien, dan tidak meninggalkan residu,” kata Arif saat peresmian.

Radiasi sering membuat orang langsung membayangkan sesuatu yang berbahaya. Padahal dalam banyak industri, terutama pangan dan kesehatan, teknologi ini sudah lama dipakai di berbagai negara. Prinsipnya bukan membuat produk menjadi radioaktif, melainkan menggunakan energi radiasi untuk membunuh bakteri, jamur, atau organisme lain yang mempercepat pembusukan.

Mirip proses pasteurisasi, hanya saja metodenya berbeda.

Di fasilitas AEET ini, produk dilewatkan di bawah pancaran berkas elektron berenergi tinggi. Energi itu merusak DNA mikroorganisme yang menempel pada produk, sehingga mereka tidak lagi bisa berkembang. Hasilnya, produk bisa bertahan lebih lama tanpa mengubah rasa, tekstur, atau nilai gizinya.

Menurut Deputi Infrastruktur Riset dan Inovasi BRIN, Dadan Moch. Nurjaman, teknologi ini sebenarnya sudah lama dikembangkan, tetapi baru sekarang tersedia dalam skala industri di Indonesia. “AEET merupakan fasilitas iradiasi berskala industri yang memanfaatkan berkas elektron berenergi tinggi untuk memperpanjang umur simpan dan menjaga mutu produk tanpa mengubah nilai gizi maupun karakteristik fisik pangan,” ujarnya.

Mesinnya sendiri bukan main-main. Akselerator ini bekerja dengan energi elektron maksimal 10 MeV dan daya listrik 20 kilowatt. Ia mampu memberikan dosis radiasi antara 1 hingga 100 kilogray, dengan tingkat keseragaman dosis sekitar ±5 persen. Dalam konfigurasi tertentu, fasilitas ini bahkan bisa memproses hingga 10,8 ton produk per jam pada dosis rendah yang lazim digunakan untuk pangan.

Angka-angka itu mungkin terdengar teknis, tapi implikasinya cukup praktis: produk bisa diproses dalam volume besar, dengan standar yang cukup ketat untuk memenuhi regulasi internasional seperti dari FDA di Amerika Serikat. Artinya, teknologi ini bukan cuma soal riset. Ia juga menyangkut perdagangan.

Indonesia selama ini punya masalah klasik di sektor pangan dan produk pertanian: umur simpan yang pendek. Banyak produk sebenarnya punya kualitas bagus, tapi rusak duluan sebelum sampai ke pasar ekspor. Radiasi berbasis elektron bisa membantu mengatasi masalah itu dengan memperlambat pembusukan dan mengurangi risiko kontaminasi mikroba.

Supaya fasilitas ini tidak berhenti sebagai proyek laboratorium, BRIN juga menggandeng sektor industri. Operasional layanan iradiasi AEET dijalankan bersama perusahaan manufaktur PT Jayatunggal Sekarmulya. Direktur utamanya, Michael Rusli, mengatakan keterlibatan industri penting agar teknologi ini benar-benar bisa dipakai pelaku usaha.

“Kami melihat fasilitas AEET sebagai infrastruktur strategis yang dapat menjembatani kebutuhan industri terhadap teknologi pengolahan yang aman dan efisien,” kata Michael.

Ia menambahkan bahwa layanan iradiasi diharapkan bisa diakses lebih luas, bukan hanya perusahaan besar, tetapi juga pelaku usaha kecil dan menengah yang ingin meningkatkan standar produk mereka.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mission News Theme by Compete Themes.